Hai tuan asing,bagaimama harimu?aku harap doaku semalam dijabah oleh sang pencipta.
Kau tau,aku masih disini. Menunggu dengan hati penuh, dengan harap khalayak jam angin yang tergantung dan beralun indah ketka diterpa angin rindu. Menunggu dengan senyum getir setiap melihat chatheadmu. Itu bagai melihat cenayang mengaduk air gaibnya,tapi tak segestur pun terlihat darinya. Ya hanya air belaka,hanya angan belaka. Tak apa tuan,yang penting kau bahagia disana.
Jika kau tanya. Selain.dirimu yang ku harapkan pesannya setiap saat masuk ke ponselku siapa? Dengan senang hati aku akan menjawab sambil tersenyum "baiknya kau bayangkan ketika salmon yang ingin melahirkan,apakah mengharapkan tempat lain selain rumahnya?sayangnya tidak." Benar silahkan tebak saja. Sekali lagi tak apa, jangan khawatirkan. Setidaknya aku hanya ingin kau bahagia disana.
Ini sudah hari kesekian sejak kau terakhir melihat pesan ku. Sejak saat itu pula kau tidak membalasnya. Entah mungkin sibuk atau kau mulai bosan dengan rutinitas yang kau anggap bodoh, menjemukan bukan? Benar aku juga pernah merasakan. Kebosanan merengsek masuk ketika sang waktu menampikan dirinya dalam kebahagiaan, tapi aku sempat saja membuat jariku menari diatas ponsel ini. Benar, akan seperti itu sampai kapan pun. Sayangnya mungkin jarimu tidak. Entah lelah atau bosan, yang tau hanya yang maha tau.
Kadang aku berfikir dalam diam,Ini mudah saja,tinggal aku ketik beberapa kata sederhana lalu kukirimkan kepadanya,seperti biasanya. Toh dia mungkin akan melakukan yang sama, dan seluruh kerinduan ku sewaktu kemudian terbalas. Semudah itu kan tuan? Benar semudah itu saja. Tapi kenapa tidak kau saja yang melakukannya?
kalau ku ingat 3-4 kali yang lalu saat kau tiba tiba menghilang juga aku yang memulai percakapan kembali, Walau sebenarnya kau yang mengakhiri. Apa itu adil? Apa aku yang bersikap kekanakan?apa ini terlalu jauh?apa aku keterlaluan?
Itu mungkin hanya pertanyaan retorika yang selalu jadi belaka saja. Benar, hanya bisa ditanyakan oleh sang penanya kepada dirinya sendiri.
Malam ini hujan. Aku harap doaku maghrib tadi sampai dengan cepat ketempatmu,aku harap angin bahkan udara tidak terdesak dan akhirnya tehambat oleh celotehan sang waktu,karna lewat mereka mungkin doaku terbawa, atau bulir hujan yang mendesak ikut alur sang pengetuk palu. Atau sang semesta sendiri yang menyampaikan? Aku tak tahu. Tunggu saja tuan.
Jika kau tanya doa ku apa?anggap saja agar kau merasa hangat,sengahat sedang terbaring diperapian dengan keluargamu. Dan tertawa.. Kurang lebih itu. Yah,apa boleh buat. Itu terakhir yang bisa ku lakukan selain menunggu mu. Ya menunggu balasan singkat dan datang kembali tuan.
Kau tau?terlepas dari rindu yang saat ini sudah ingin menyerah kepada sang kepunya. Atau air mata yang mulai memaksa turun lagi setiap kata aamiin terucapkan diduduk simpuh ku berdoa? Terlepas dari itu semua, ternyata sederhana yang ku ingin kan dari mu.untuk sejauh yang bisa ku ingat hanya satu kata itu yang biasanya ku harapkan untukmu.
"Kebahagiaan" benar tuan, ada seorang gadis yang dengan lancangnya menyebut namamu saat doanya. Berharap kau bahagia disana walau entah bagaimana dan dengan siapa. Berharap setiap detik pagi yang membangunkanmu dari mimpi indah dan kau mulai tersenyum semangat untuk menghadapi hari yang mulai keras untukmu. Berharap setiap detiknya wanita beruntung yang walaupun bukan dirinya,didekatkan padamu baik waktu ataupun dalam laju. Ya jodohmu entah siapa nanti. Dia hanya bisa berdoa. Karna tak bisa balas kebaikanmu yang teramat selama ini.
Sayangnya dia akan selalu seperti itu. Dalam diam dan harapnya. Dalam simpuh dan doanya. Dalam malam dan sendunya. Dan dalam pilu juga air matanya.
Terimakasih tuan Absurd :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar