Senin, 19 Januari 2015

Abu

Entah lah. Malam ini benar benar abu untuk saya. Untuk setiap detik yang telah terlalu.

Bukan hanya kali pertama saya habiskan malam dengan suasana remang seperti ini.
Gitar,musik yang mengalun sendu,kopi,dan sedikit banyak laranya jiwa yang biasa menemani setiap malam.
Bukannya terbiasa tapi hati ini seolah selalu mengulang rasa yang sama. Keanehan yang sama,kegetiran yang sama yang entah kapan tepatnya pertama kali saya rasakan serupa ini. Rasanya sudah lama sekali.

Ya, dan akan selalu ada senyum yang terulas setiap kulihat fotonya. Entah siapa yang saya sebut "nya" pasti kamu sudah mengerti. Seolah telah terblokade dibenakmu bukan?

Benar semudah itu dan sesuah itu perasaan ini. Tak akan saya ukur dengan presentase atau skala untuk setiap duka maupun tawa yang perasaan bernama cinta buat. Pertanyaannya adalah,bagaimana setelahnya?setelah duka atau tawa?apa kamu masih bisa tersenyum lihat fotonya?tanyakan lagi dengan kaca.

Kau,,orang yang tidak pernah terbayang jelas,yang jauh diperadaban yang berbeda,yang setiap malam saya sebut namanya dalam doa,indah nian panggilan namamu atau benakan wajahmu. Saya harap rasa ini masih menyisakan ruang realita untuk setiap rasa yang tak terbalas.

Ya kesadaran akal yang masih sudi menerima saya lagi. Masih mau membukakan pintu masuknya dan menuntun saya ke kenyataan yang sebenarnya. Benar nyata yang tak pernah bisa dapat kan dia,dapatkan hatinya,bahkan raganya,nyata bahwa tuhan hanya gariskan takdir kami untuk bertemu,,,
Bukan bersatu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar