Jumat, 06 Februari 2015

PTB


"*****"
BAB 1
4 Februari 2007
""Oper bolanya hei!"
"Rey! Maju!"
"Oper rey oper!"
Tiba tiba kaki seseorang menyepak betis kiriku
"Pritttt"
"Argh maaf kawan,hanya permainan."  Dia membangunkanku
"Tentu." Kataku seraya tersenyum
Wasit memangdang kami dan mengangguk. Itu kode bahwa sudah saatnya melakukan tendangan
Bebas sebagai hadiah barusan.
"Pritt...""
***
Tunggu, apa tadi aku membayangkan sedang bermain bola? Ah sial imajinasi konyol lagi. Siapa wasit bertampang bodoh tadi? Aku bahkan tidak mengenalnya. Memangnya siapa yang aku pernah kenal?tidak!tidak seorang pun! Mungkin sepak bola adalah hal paling mustahil kumainkan,atau hampir semua permainan. Ya tentu, untuk keluar rumah saja mustahil apalagi melakukan permainan semacam itu.
  Dan disinilah aku, dipenjara palsu. Tak ada jeruji atau lantai dingin beralas semen batu. Atau sipir yang selalu menatap curiga setiap aku berpindah posisi,atau mungkin makanan yang disajikan seperti makanan hewan peliharaan. Bukan, bukan itu. Disini indah, buku tertata rapi dirak. Meja belajar disediakan,  kasur tebal berselimut hangat,lengkap pula dengan bantal dan guling. Kamar ini besar sangat besar mungkin. Walaupun Aku tak tahu ukuran kamar anak diluar sana, setidaknya mungkin ini mewah. Hanya satu yang kurang dari kamar ini. Jendela!
Tidak percaya bukan saat aku katakan ini penjara?  Tidak sepertinya bahkan jauh lebih buruk dari penjara. Tidak ada jalur komunikasi kedunia luar hanya ada pintu dan lubang ventilasi yang didepannya hanya bagian belakang rumah. Penjara,ini lebih buruk dari penjara! Mereka tidak membiarkanku lepas sebagai manusia.
           Sudah 11 tahun aku terkurung disini. Dirumah yang bahkan tak layak dikatakan rumah. Bukan karna bentuk fisiknya. Tapi suasana didalamnya. Mungkin hanya satu hal yang membuat hidupku sempurna saat ini, yaitu diijinkan keluar dan bersosialisasi dengan sebayaku.
"Rey... waktunya sarapan." Suara wanita itu terdengar dari luar dan disusul oleh pintu yang terbuka.
Aku menatapnya lekat, rambut sebahunya dibiarkan terurai, alisnya terlukis sempurna, garis hidung yang tegas dan bibir yang dilapisi perona merah, dan wajahnya manis dengan polesan bedak. 
"Iya bu. " Ujarku singkat dan berdiri
Dia ibuku, wanita yang paling kusayangi. Entah alasannya apa dia tak mengijinkan ku keluar rumah,ternyata aku tetap menyayanginya. Atau ini perasaan lain?entahlah, karna aku belum pernah mencoba yang lain.
       Kami berjalan keluarkamar. Ditutupnya pintu kamarku, lalu menggandengku kearah meja makan. Disana sudah ada ayah dan bu rina,wanita pembersih dirumah ini. Aku tak ingat kapan tepatnya dia bekerja dirumah kami. Mungkin sejak aku lahir atau aku lupa,entahlah. Ibu menyuruhku duduk dan menyelipkan celemek makan ku. Lalu mengambilkan roti isi yang sudah disiapkannya. Kami makan dalam keheningan.
"Cepat habiskan makananmu sayang, ah jangan jangan,bukan seperti itu caranya." Kata ibu dengan membetulkan piring dan rotiku yang mulai tercecer karna cara makanku. Apa yang aneh sebenarnya? Aku suka seperti tadi.
       Ayah hanya diam dan tersenyum. Kutebak hari ini akan ada rapat penting karna kemejanya lebih rapi dari biasanya. Jasnyapun berbeda. Tapi aku tak bertanya. Aku tak berani bertanya.
"Besok kita jalan jalan rey." Ujarnya. Aku berhenti makan dan merajuk. Lalu aku berteriak tiba tiba
"Tidak mau!"
                     ***
         Aku berjalan kembali kekamar dan memikirkan kata ayah tadi. Jalan jalan berarti mobil, dan mobil berarti akan bertemu orang aneh yang selalu mengajakku bicara seperti orang bodoh. Dikiranya aku bodoh, tak tau saja mereka. Dikamarku sudah ada bu rina sedang merapikan rak dan rubik rubik.
"Jangann! Jangan dipindah!" Tiba tiba aku membentaknya.
"Tak apa Rey. Ibu membersihkan. Hanya membersihkan, lihat?tak ada yang rusak kan?sini sekarang duduk."
"Jangan dipindah rubik ku." Ujarku menatap kakinya kosong.
"Ini bukumu yang baru."
"Aku mau rubik."
"Rubik?kau mau rubik?"katanya
Aku diam
"Yang mana?yang ini?tapi ini sudah rapi. Mau yang mana rey?"
"Baru,rubik baru.aku mau rubik baru."
"Nanti ibu bilang ke ibumu ya. Sabar."
Aku diam dan merasa sangat bosan.
"Ini kau main sudoku dulu coba ibu mau lihat,sepertinya susah ya." dia memberiku pensil dan buku sudoku dengan kotak 9x9. Aku mengambilnya dan mulai mengisi.
"Aku mau rubik baru, mau rubik baru,,,"ujarku seraya terus mengisi. Dan bu rina kembali merapikan meja belajarku.
"Aku bosan,aku mau rubik baru." Kataku meracau tanpa menolehnya.
Lalu dia selesai merapihkan lalu memangdang sudoku  Dengan tertegun dan berkata,
"5 menit rey? Kau,, kau makin cepat saja."
              ***
      mereka mungkin berfikir susah untuk menyelesaikan sudoku seperti tadi. Buatku bukan apa apa. Aku bahkan dapat menghabiskan berlembar lembar permainan hanya dengan hitungan menit. Rubik juga mulai membosankan. Aku butuh rubik dan buku baru. Hanya itu permainanku saat ini apalagi dengan sifatku yang mudah bosan,jadi aku butuh sesuatu yang baru.
       Aku berdiri dan menghadap kumpulan buku buku tekateki sekarang. Kuambil salah satu dan ku buka asal.
Disana terdapat gambar seperti denah labirin yang dibuat melingkar,dengan titik tujuan yang berada ditengah. Ini mudah. Hanya tinggal memutar sekali dan ikuti jalurnya saja. Walaupun hanya satu jalur yang bisa dipakai,tapi permainan ini bisa ku selesaikan dengan mata tertutup.
         Sudah sejak 9 tahun lalu aku berlangganan buku maupun majalah teka teki seperti ini. Biasanya berisi puzzle,tts,sudoku dan beberapa permainan lain yang bisa mengalihkan rasa bosanku. Pasti tak terbayang bukan 11 tahun terkurung dalam rumah dan kamar tak berjendela?kalau keluar paling hanya diajak 'jalan jalan' oleh ayah. Entah apa desebutnya tapi ayah selalu bilang itu jalan jalan. Tapi aku tidak berjalan melainkan naik mobil dan dibawa kesebuah rumah hanya untuk ditanya tanya disana.
"Rey.." kata seseorang diluar, dan pintu terbuka. Ternyata bu rina dengan 3 rubik ditangannya. Rubik 2x3,lalu berbentuk seperti bintang helios dan satu lagi rubik yang bentuknya baru kulihat.
"Aku langsung membelikannya." Di letakan rubik itu di depan ku.
"Kau mau main?"
Aku diam. Lalu aku berkata
"Acak."
"Apa?kau mau aku mengacaknya?"
Aku mengangguk sambil mengisi labirin ke 4. Ku lihat dia mengacak 3 rubik tersebut dengan asal. Dan setelahnya diletakan lagi didepanku. Lalu dia membereskan beberapa pakaian kotorku yang ada dikeranjang. Aku mengambil rubik 2x3 itu dan mulai mencobanya,lalu disusul dengan bentuk baru, dan yang terakhir bintang helios. Ternyata cukup lumayan untuk yang terakhir. Tapi tentu dengan mudah ku pecahkan semua rubik itu.
"Acak,acak lagi." Ujarku mengacungkan rubik kearahnya.  dan dia hanya memandang serius kearahku.
                ***
"Dia semakin cepat bu."
Aku mendengar lamat lamat suara bu rina sedang mengobrol dengan ibuku.
"Memang,karna itu aku mau berkonsultasi lagi besok. Setidaknya dia tidak mudah mengamuk seperti kasus yang lainnya."
"Menurut saya,dia tenang karna ada permainan tersebut. Namun saya tidak menjamin bila rubik dan bukunya distop dia akan tenang seperti biasa."
"Dia sudah besar, ini tahunnya yang ke 17. Ku rasa sudah waktunya memanggil guru baru juga untuk mengajarnya kembali. Guru yang kemarin sepertinya kurang sepadan."
"Benar bu."
"Baiklah. mungkin akan ku rundingkan dengan suamiku."
"Aku rasa itu yang terbaik."
     Sejauh ini hanya itu yang terdengar oleh ku,sisanya aku tak mau dengar. Jadi percakapan tadi menjelaskan kenapa guru laki laki yang biasa datang kerumah ku sudah tak pernah kembali. Aku sudah bilang pada ibu,bahwa aku sebenarnya bisa belajar sendiri. Jadi  tak perlu ada guru lagi. Tapi aku tak bisa mengatakannya,mereka juga mungkin tak mengerti!
  
Keesokan harinya.
       Aku mendengar ibu berbicara kepada ayah. Dan sepertinya aku akan  dibawannya jalan jalan tak lama lagi. Jika ditanya aku pasti akan bilang tidak mau pada mereka. Jelas karna walaupun aku diluar,aku tak pernah bisa benar benar melihat dunia luar. Jadi lebih baik aku menyelesaikan permainan ku didalam sini.
     Pintu tiba tiba terbuka, dan ibu pun masuk
"Reyhan.." dia menyapaku
Aku diam seraya mengulik rubik ku.
"Sekarang saatnya jalan jalan,ayo pakai jaket mu."
aku tetap diam. Lalu ibu mengambil jaket yang tergantung ditembok dan mengajakku berdiri. Namun aku duduk lagi dan tak acuh padanya.
"Kalau kau menurut,pulangnya kita cari buku baru untukmu."
Namun aku tetap diam dan bermain rubik.
Ibu merankul dan membalutkan jaket tadi ke tubuhku.
"Ibu jika aku ikut.."
"Ia?"jawabnya
"Jika aku ikut apa aku juga boleh keluar?"sambungku, namun masih dengan mata menatap rubik.
"Belum saatnya rey,besok kau boleh keluar."
"Ibu selalu bilang besok,tapi tak pernah ditepati." Kataku seraya masih mengulik rubik.
"Ia nanti kita keluar,tapi tidak sekarang!" Kata ibu dan ada penekanan nada dikata terakhir.
"Aku bosan bu..."
"Rey!" Bentaknya lalu dia menyambung
"Maaf sayang tapi ibu hanya ingin kau tetap aman,mengertilah."
Aku tetap diam. Aku berdiri seraya meletakan rubik yang telah berhasil kupecahkan. Pikiran ku kacau,tapi yang pasti, sekarang,aku tak bisa menolak untuk tidak ikut bersamanya. Mungkin belum saatnya untuk bebas dari kandang ini. Tapi suatu hari,aku jamin suatu hari!
                  ***
         "Nah sekarang ayo kita turun." Ujar ayah.
Aku diam
"Ayo rey."
Dan aku pun dibawanya masuk kerumah itu lagi. Yang aku ingat terakhir kali aku dibawa kesini sekitar 1 tahun yang lalu. Dan anehnya,pertanyaan yang diajukan padaku tidak sebanyak sebelumnya. Dan sejak saat itu aku jarang dibawa ayah kesini.
         Kami menunggu diruangan bercat hijau muda. Karna aku bosan,alu mengambil rubik yang telah tersusun dari dalam tas.
"Acak,acak bu."
Ibu mengambilnya dengan wajah cemas dan mengacaknya sebentar.
"Lagi." Kataku
Dan diacaknya lagi. Lalu memberikannya padaku.
Aku memainkannya seraya sedikit memperhatikan sekitar. Dan disini
Terdapat banyak anak yang kelihatanya sepertiku. Mereka tak bisa menatap fokus dan ada yang terus meracau. Bahkan ada yang mengamuk dan menangis. Tapi tentu aku tak ingin disamakan dengan mereka. Aku berbeda!
"Hai rey,apa kabar?" Kata laki laki yang baru keluar dari ruangan menyapaku. Dia memakai kemeja putih,dan berkaca mata. Wajahnya ramah dan senyumnya tulus.
Aku menatapnya sebentar. Lalu kembali mengulik rubik tanpa menjawab.
"Mari langsung masuk saja."
Lalu ibu dan ayah mengangguk. Dan kami pun masuk kedalam ruangan. Aku didudukan di tempat yang berbeda dengan ibu dan ayah
"Ada apa pak?bukan kah saya sudah pernah bilang dia sebenarnya tidak perlu melakukannya lagi?"
"Ia dok, tapi ada yang ingin kami konsultasikan."
Ujar ayah.
"Apa soal permainan itu?"
"Benar dok,dia semakin cepat sekarang. Bahkan sekarang hanya hitungan menit dok."
Lalu laki laki itu menatapku.
      Aku ingat dulu kami sering bermain. Tapi tidak terlalu seru karna permainan yang dia berikan hanya sebatas kartu kartu aneh dengan gambar didalamnya. Sampai sekitar umurku 11 tahun, lalu seterusnya hanya pertanyaan pertanyaan aneh yang diberikan setiap kali kami jalan jalan kesini.
“Apa terjadi sudah lama?”
“Kami kurang yakin kapan dia lebih cepat seperti tad. Tapi sejak dulu, dia Memang sangat gemar bermain semacam itu. dari dulu kami juga sudah terpukau ketika dia berhasil memecahkan permainan permainan yang memang sukar untuk dilaukan, tapi akhir akhir ini kemampuannya bertambah cepat, Dokter juga sudah tau bukan riwayatnya dan, dan kami agaknya khawatir.” Ujar ibu dengan memandang cemas. Aku sedari tadi hanya bias mendengarkan sambil mengulik rubik. Dan ketika dokter tadi menoleh kearahku,rubik pun telah berhasil di susun kembali, lalu dia berkata seraya menyunggingkan senyum penuhnya.
“Bukankah sudah ku bilang pada kalian. Dia memang special?”
***
Kami pulang setelah pertemuan singkat itu dan sebelumnya tentu mampir untuk membeli buku kesukaanku. Diperjalanan aku melihat ayah dan ibu saling bungkam, dan sesekali memandang kearahku dengan tatapan bingung. Aku tak begitu mengerti tentang perasaan seseorang hanya dengan melihatnya sekilas. Entah ini bawaan watak sejak lahir atau karna penyakit yang aku bawa.
Baiklah mari bicara soal ayah dan ibu. Ibu adalah seorang wanita karir yang sukses, dan ayah sendiri juga seorang pengusaha yang berhasil dibidangnya. Kami termasuk keluarga yang sejahtera untuk urusan materi. Maka jika hanya sebatas itu, hidupku terlihat sempurna. Tentu saja jika saja tak ada penyakit ini!
Sulit untuk menjelaskan bagaimana besarnya perhatian mereka terhadapku. Termasuk menetapkan peraturan yang membuatku sengsara hingga saat ini. Aku dilarang berkomunikasi dengan teman teman dan dunia luar. Aku seperti punya dimensi tersendiri, dunia sendiri dan dimensi itu hanya berisi manusia malang yang terkurung dalam kandangnya yang nyaman. Tapi aku tau sejauh ini, ibu dan ayah hanya ingin membuatku merasa aman dari bahaya.
“Rey, kau akan kembali belajar mulai minggu depan.” Ujar ayah memecah hening didalam mobil.
Aku diam dan melihat buku yang baru saja ku beli.
“Bagaimana rey? Setidaknya kau akan punya teman selain bu rina dan kami.” Lanjutnya,sepertinya tersenyum kearahku
“Apa aku akan belajar diluar seperti anak anak lain sekarang?”
Ayah tak menjawab tapi aku sempat meliriknya sedikit, dan dia saling beradu pandang oleh ibu.
“Tentu tidak sayang, itu terlalu berbahaya. Kami akan membawakan guru privat seperti sebelumnya.” Kata ibu berpaling kerahku dan mengelus kakiku.
“aku bosan bu, aku ingin lihat keluar.” Kataku seraya menutup buku.
“kau harus mengerti sayang.”katanya lagi
Lalu kami sampai dirumah. Ketika aku dibawa keluar mobil dan dituntun kedalam rumah aku sempat mendengar tetangga sebelahku berkata dengan suaminya.
“Dia sudah besar, lihatlah. Aku tak pernah melihatnya lagi, sejak, sejak kapan aku lupa.”
Sejak 2 tahun,2 tahun 2 bulan! Aku ingat terakhir kali aku melihatnya, jelas,sangat jelas!
“Sudahlah ayo.” Ujar suaminya singkat
Padahal jarak kami sangat jauh saat itu, dan dia bicara sambil berbisik. Aku juga  pastikan ayah dan ibu tidak mendengarnya. Tapi pendengaranku lebih sensitif terhadap suara dibandingkan orang normal lainnya . Bahkan yang jauh dan frequensi yang kecil sekalipun, seperti tadi contohnya. Itu sebabnya bukan hal aneh aku dapat mendengar percakapan ayah, ibu maupun Bu Rina ketika diluar rumah. Selain dengan suara. Aku juga sensitive terhada[ cahaya. Pernah sekali ketika aku berada diruang tengah karna mencari buku yang tertinggal disana, tiba tiba gordennya tersibak dan cahaya kecil masuk. Tapi mataku terasa ngilu dan agak pusing saat itu. Aku sempat berfikir itu adalah efek tak pernah keluar. Tapi setelah ku cari tahu tentang sesuatu yang ku idap. Ternyata itu adalah salah satunya. Pendengaran dan penglihatanku lebih sensitif dibandingkan orang normal lainnya.
Dan begitu pula dengan lidah juga kulitku. Semua terasa lebih peka. Pernah suatu hari, aku tak bias tidur sampai 3 hari berturut turut. Mungkin karna ayah dan ibu khawatir terhadap kesehatanku, saat makan malam, disup yang disajikan khusus untukku, dicampurkannya obat tidur. Aku sebenarnya tau sejak sendokan pertama karna adanya rasa yang asing dsup itu, tapi aku tetap akan memakannya dan yakin bahwa ayah juga ibu tidak akan mencelakai anaknya sendiri. Dan efeknya aku tertidur selama 2 hari.
Juga saat mencari baju dilemari. Biasanya aku hanya harus merabanya, karna aku hapal setiap bahan baju disana. Dan jika sudah teraba baju yang ingin aku kenakan, maka aku tinggal mengenakannya. Kemampuan ini sertamerta ada dan mudah untuk digunakan. Walau agak sedikit aneh untuk dibayangkan.
Ingatanku juga menjadi dampak terhadap ‘sesuatu’ itu. Aku dapat mengingat jelas tanggal, Tahun, Bahkan waktu kejadian. Aku ingat ketika Bu rina  Membelikan buku teka teki yang paling aku suka, atau aku ingat ketika terakhir kali seorang tamu yang berkunjung kerumah kami, aku dapat mengingat kapan aku memakai baju biru yang dibelikan ibu, yang sebenarnya baju itu terdapat robek dibagian lengan dalam. Aku tau sejak pertama mengenakannya. Aku ingat saat pertama kali mengenal rubik, aku ingat percakapan mereka, penghuni rumah ini tentang apapun.dan kejadian lainnya yang sebenarnya tidak penting. Aku ingat, ingat dengan jelas!
Tapi anehnya aku sangat susah mengerti perasaan orang lain, ini terlihat seperti manusia yang tidak ada perasaan. Aku sangat susah menebak ibu sedang marah atau sedih ketika ia menangis. Aku tidak mengerti bagaimana ayah bias sangat murung ketika hari senin, atau Bu Rina yang tersenyum ketika melihatku, sangat susah mengalisa suasana hati mereka semua, dan itulah salah satu kekurangan dari efek ‘sesuatu’ yang  ku idap. Aku kerap terlihat asik dengan duniaku sendiri. Dan aku dapat melihat mereka semua bingung saat aku menekuni semua buku teka tika atau rubik yang hamper semua sudah aku pecahkan. Aku juga enggan untuk berbicara banyak dengan yang lain. Seperti tidak tertarik dengan apa yang mereka bicarakan.
***
Hari yang katanya rumah ini akan kedatangan orang asing baru telah tiba, pagi sekali ibu sudah membangunkan ku. Katanya dia akan datang pada pukul 8 tepat. Entah bagaimana guruku nanti. Aku tidak perduli, asal dia tidak mencampuri atau mengoprek barangku. Mungkin aku akan sedikit lunak dengannya.
“Sudah datang ya, silahkan masuk.” Kata ibu dengan seseorang. Entah siapa.
“Terimakasih.” Katanya lembut. Dilihat dari caranya bertutur sepertinya ia seorang wanita muda.
Tak lama terdengar ibu berjalan kearah kamarku, dan suara pintu pun terbuka.
“kau sudah siap kan rey?”
“ayo kita keluar.” Sambungnya
Kami berjalan beriringan keruang tamu, aku lihat sesosok siluit wajah wanita disana. Dan saat aku datang dia pun berdiri sekarang aku bisa melihatnya jelas siapa dia. Mataku bertemu dengan manik hijau yang teduh.
“hi rey, Kita akan bersenang senang.” Katanya dengan senyum penuh arti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar