Jumat, 27 Februari 2015

Real ptw bab 4

BAB 4

"Oke yah. Makanan sudah siap semua. Langsung saja dimakan ya. Ibu harus kembali kekantor dulu." Ujar ibu yang ingin keluar dan meraih tas kerjanya. Tapi ayah diam,dia tak menyentuh piring atau makanannya.
"Apa tidak bisa disini dulu?ayah kan baru pulang." Jawab ayah. Ibu berhenti berjalan dan berbalik melihat pria itu
"Tapi hari ini aku ada pertemuan penting. Lagian kau yang datang telat bukan?"
"Ya sudahlah. Aku sedang lelah. Silahkan berangkat. Tadinya Aku pikir akan ditemani." Ujar ayah lalu meraih piring dan mulai mengambil makanan yang ada di tengah meja. Ibu tetap diam ditempat dia berdiri. Matanya nanar memandang ayah.
"Makanya coba sisihkan sedikit waktumu untuk keluarga lain kali." Kata ibu masih menatap ayah keras.
"Oh ya tuhan. Dia mulai lagi."
"Memangnya begitu kan." Ibu berlalu. Lalu pergi dengan kepalan tangan dan wajah yang merah padam.
   Aku disana, duduk diruang belajar,dan dapat melihat orang tua ku berbincang diruang makan dengan jelas barusan. Ayah terlihat lelah hari ini,ibu juga. Atau memang biasanya seperti itu?entahlah aku jarang memperhatikan mereka sebelumnya. Memang ayah tidak punya waktu banyak untuk sekedar beristirahat dirumah dan bermain bersamaku. Dan mungkin ibu punya pikiran yang sama. Bahwa akhir akhir ini ayah memang sangat sibuk. Walaupun mereka sama sama sibuk sebelumnya, tapi ibu masih bisa menyempatkan waktu untuk makan siang bersama. Tapi apa penting? Karna pada akhirnya, aku juga tetap main sendiri.
      Selepas kejadian tadi aku jadi ingin rehat dari pikiran berat soal keadaan keluarga ku yang sedang memanas. Aku menghampiri bu Rina yang sedang didapur. Aku duduk di sana melihatnya melakukan sesuatu pekerjaan rutin. Ah iya, soal ayah. Dia langsung berangkat ke kantor lagi. Bahkan sepertinya makanannya tidak dihabiskan.
"Rey ayah berangkat dulu. Bersenang senang ya dirumah." Ini kata ayah sebelum dia hilang dengan laju mobilnya digerbang depan rumah kami.
"Hey!" Sapa bu rina, dia menatapku dengan senyum manis.
Aku balas dengan senyuman juga. Lalu dia kembali ke pekerjaannya. Dia mengambil piring membasuhnya dengan sabun,dan membilasnya lagi dengan air. Aku jadi ingat sesuatu soal cuci piring. Alat pencuci piring otomatis ternyata ditemukan oleh perempuan yang bahkan benci mencuci piring. Josephine Cochrane membuat alat ini karena frustasi melihat pelayannya yang selalu memecahkan piring-piring cantik orientalnya. Lalu alatnya itu mendapat paten pada 1886. Ini aku temukan saat membaca buku yang dulu ibu belikan. Isinya sangat beragam diantaranya ada yang membahas tentang 10 hal hebat yang ditemukan oleh wanita. Kaum hawa memang sulit ditebak. Aku ingat juga ada salah satu penemuan yang menarik.  Mungkin tidak terbayang sebelumnya bahwa penemu benda tersebut adalah wanita. Stephanie Kwolek, pekerja sambilan di perusahaan DiPont menemuakan serat kapas sintetis dari bahan Polymer. Inilah yang disebut Kevlar dan menjadi cikal bakal pembuatan rompi anti peluru. Yang aku ingat dari tulisan tersebut adalah, bahwa kapas tersebut bahkan kuatnya menyamai baja. Tidak heran peluru saja tidak tembus. Buku itu aku baca saat umurku 12 tahun. Tapi masih terbayang dengan jelas tiap detail tulisan disana.
"Nah sudah selesai." Kata Bu rina tiba tiba membangunkan dari lamunan tadi.
"Ah ternyata ketinggalan satu." Dia melirik piring kotor disebelahku. Sepertinya ini bekas lauk ayah yang tertinggal.
"Aku mau coba." Kataku meraih piring dan menuju dapur.
"Coba apa?"
"Coba mencuci. Boleh kan?"
"Ah tentu saja. Nah kau berdiri disini. Lakukan caranya seperti..."
"Iya aku sudah tau." Kataku memotong ucapannya. Tentu saja aku tau. Tadi kan sempat memperhatikan. Lagipula sudah sering lihat dari dulu. Dipikir aku masih kecil.
"Oke baiklah." Lalu dia mundur dua langkah dan memperhatikanku dalam jaraknya.
"Apa tidak ada piring kotor lagi?" Tanyaku dengan meletakan piring yang sudah bersih tadi ke rak.
"Ah ada beberapa perabot besar tapi biarkan saja. Nanti ibu yang cuci. Sekarang kamu Rey kekamar saja."
"Aku bosan. Apa boleh disini saja?"
"Tentu!" Katanya lalu melanjutkan pekerjaannya barusan.
"Ibu tau soal facebook?" Aku mencoba membuka percakapan. Rasa penasaran ini semakin besar saja. Apa dia bisa bantu mengajari soal ini? Ah coba dulu saja lah.
"Ah ia ibu pernah punya dulu. Setahun yang lalu mungkin. Entahlah masih aktif atau tidak." Ujarnya dengan meraih perabot lain. Lalu mencucinya lagi.
"Apa seru?"
"Seru?ya lumayan. Ibu bisa bertemu kawan lama yang ternyata punya facebook juga." Lalu dia menaruh perabot terakhir.
"Mengapa kau tanya soal itu?mau coba ya?" Dia melanjutkan seraya duduk di sampingku.
Aku mengangguk.
"Aku mau, tapi kan aku tidak punya teman."
"Haha, tentu facebook akan membantumu mendapat teman rey."
"Begitu?"
"Iya Rey. namanya juga sosial media. Yang tidak pernah bertemu saja bisa kau jadikan teman,bahkan sahabat. Jadi tenang saja."
"Jadi aku bisa punya teman?"
"Bukan kah kau sudah punya teman?" Tanya nya seraya melirik kearahku.
"Siapa?" Dia tak menjawab.
"Paling hanya ibu temanku." Lanjutku
"Nah itu sudah kau katakan." Lalu kami tetawa bersama.
Tapi masih ada pikiran yang mengganjal soal ini.
"Apa ibu mengizinkan ya?" Tanyaku. Tapi dia diam. Aku rasa dia juga tak tau apa pendapat ibu soal ini.
"Apa facebook berbahaya?"  Tanyaku lagi.
"Ah, tentu tidak. Aku rasa sih tidak." Dia tersenyum.
"Kalau begitu boleh."
Dan kami tertawa lagi.
    ***
   Makan malam tadi terdengar lebih hening dari biasanya. Tidak terlalu banyak pembicaraan dan juga pertanyaan. Mungkin masih terbawa suasana siang tadi.
    Dan sekarang aku dikamar. Seperti biasa, masih ditemani rubiku yang baru saja dibelikan ibu. Kebetulan ini rubik yang dulu pernah aku minta. Jadi masih tertantang untuk menyusunnya. Tapi lagi lagi mataku tidak bisa lepas dari layar monitor. Penasaran, sangat penasaran. Aku ingin coba sosial media tadi.  Apa besok Olive mau mengajariku? Tapi kenapa harus menunggunya. Aku akan coba sendiri malam ini. Ya tentu saja saat semua sedang tidur aku akan mencobanya.
       Malam itu aku kekamar mandi untuk memastikan  penghuni rumah yang lain sudah terlelap dalam tidurnya. Karna saat itu sudah pukul 11 Lebih jadi aku yakin dan langsung saja keluar kamar. Langkah pertama aman, rumah ini terdengar sangat hening. Hanya ada suara detik jam dan denyut jantungku sendiri yang terdengar bersautan. Ternyata dugaanku benar, semua sudah dikamarnya masing masing.
"Mau kemana rey?" Tiba tiba suara parau laki laki menghentikan langkahku ditengah ruangan.
"Oh ayah, cuma kekamar kecil." Jawabku Saat berbalik dan ternyata ayah baru saja keluar dari kamar tidurnya.
"Apa kau belum tidur dari tadi?"
"Sudah,tentu saja sudah. Aku terbangun barusan."
"Oh." Jawabnya singkat. Lalu dia duduk dan menyalakan TV yang ada di ruang belajarku dan duduk dihadapannya. Matanya yang kosong,lelah dan rapuh menatapku.
"Langsung tidur ya"  Lanjutnya.
Aku mengangguk.
Sudah lama sekali aku tak melihat ayah menonton TV. Tentu saja,pasti dia sangat sibuk dengan pekerjaan yang dihadapinya saat ini. Kalau mau tau ayahku, dia mungkin bukan termasuk orang yang dapat memberikan banyak ekspresi. Maksudku bukan tipe orang yang berapi api. Terkadang dia bisa sangat tenang. Dia menyerukan setuju dalam diam dan mempertahankan status quonya dari pada harus meminta perubahan. Tapi akhir akhir ini memang ayah sering memperhatikan hal hal kecil. Contohnya soal komputerku dan yang lainnya. Padahal dia yang paling jarang dirumah. Entahlah. Mungkin ada masalah di tempat kerjanya. Akan aku bantu doa ya ayah.
    Malam itu aku gagal untuk mengeksplor sosial media. Karna terlalu beresiko jika ayah masih terjaga seperti tadi. Apalagi jika dia tau aku memainkan komputer di bukan jam - jam normal,bisa bisa komputer ini akan ditarik lagi. Jadi aku pilih aman. Aku akan tidur awal malam ini.
    ***
Entah kapan,ditempat antah berantah.
   Aku berdiri di atas sesuatu yang basah. Bau apa ini?tanah?tanah basah, iya ini bau tanah basah. Aku menggerakan kakiku dan menyentuh sesuatu yang lembut juga menggelitik. Ini rumput, rumput berembun. Ya ampun aku ada di padang rumput? Lalu ada angin mendayung dan dengan lembut mengusap pipiku. Kulihat ada pelangi. Apa namanya memang pelangi? Tau dari mana itu adalah pelangi. Entah lah,yang pasti busur dengan tujuh warna itu indah, sangat indah. Tapi dimana ini? Ah tidak penting. Yang pasti diluar. Dan aku suka! Aku berlari. Kencang dan sangat kencang. Tapi, apa itu?kanal?hah kanal, oh kaki ku tidak bisa berhenti. Sial aku akan terperosok!
"Rey! Rey! Bangun, hey bangun. Kau kenapa?" Tubuhku dibuatnya terguncang. Dan itu,
Bu rina? Dimana ini? Ah ternyata, sial!
"Kau kenapa?" Lanjutnya
"Aku tidak apa apa." Kataku mencoba mengatur napas yang tersenggal. Sekarang semua tubuhku basah karna keringat. Aku mencoba duduk di tepian kasur.
"Baiklah. Sebaiknya kau langsung mandi." Kata bu Rina bangkit dan menuju pintu kamar. Lalu memandangku sekali lagi.
"Aku tidak apa apa bu." Jawabku atas pandanganya tadi
"Baiklah,bangun lah cepat." Ujarnya mengerurkan alis.
     Tidak seperti biasanya aku bangun sesiang tadi. Ini mungkin karna terlalu lelah memperhatikan. Atau memang badan ku yang sedang kurang sehat. Walaupun mimpi tadi begitu nyata, tapi jauh langit jauh bumi. Itu hanya mimpi kosong yang tidak akan pernah terjadi.
       Pagi itu didapur, aku sedang ingin kekamar mandi. Disana ada Bu Rina yang sedang menyiapkan piring. Lalu dia berhenti saat melihatku.
"Kau tak apa Rey? Kau terlihat sangat ketakutan dengan meracau tidak jelas barusan."
"Tidak apa apa. Hanya mimpi biasa." Ujarku
"Baguslah,ayo mandi cepat dan temani ibumu sarapan ya."
"Baiklah" ujarku dengan tersenyum.
   Sepertinya suasana hati ibu sedang tidak bagus,makanya bu rina bilang begitu. Mungkin hanya kelelahan. Atau ada masalah lain?
    Setelah sarapan, orang tua ku pun memulai kesibukannya masing masing. Pagi itu Olive datang dengan semangat yang berbeda. Maksudku lebih berapi api dari biasanya. Lalu ia memulai kegiatan kami dengan pelajaran teknologi informasi dan komunikasi.
"Ya jadi media untuk berkomunikasi sangat beragam. Menurut jangkauannya, ada yang tertulis atau cetak, audio,visual,audio visual......." Ujarnya
"Nah sekarang, ada yang ingin kau tanyakan?"
"Bagaimana seorang tuli,buta dan,bisu?tentu tidak bisa berkomunikasi dengan media seperti tadi kan? Tidak bisa melihat untuk cetak dan visual, dan tidak bisa mendengar untuk media audio. Bagaimana? "
"Kau benar,tapi ada salah satu kisah nyata yang mungkin dapat menjawab pertanyaanmu tadi. Kau pernah dengar helen keller?"
Aku menggeleng.
"Dia adalah perempuan buta,tuli dan bisu. Dan hebatnya dia bisa sukses dengan keadaanya yang seperti itu." Dia menjelaskan. Dan aku masih diam tapi tetap memperhatikan untuk menyimaknya.
"Awalnya ia sangat frustasi karna interaksinya saat itu hanya berjalan satu arah. Lalu pada umur 7 tahun kurang 3 bulan, ada yang mengajarinya berinteraksi lewat sentuhan. Dia menuliskan nama benda yang disentuh oleh helen ditangannya. Dan dari situlah dia belajar berkomunikasi dengan orang lain. Anne sullivan, guru helen,menyulap gadis cacat tadi,menjadi wanita yang menginspirasi." Dia berhenti lalu tersenyum.
"Baiklah ada yang ingin kau tanyakan lagi?"
Aku menggeleng. Sampai akhirnya aku teringat pada media sosial.
"Pastinya media sosial juga menjadi sarana bertukar informasi dan berkomunikasi kan?"
"Iya tentu saja. Teknologi yang canggih akan memudahkan penggunanya."
"Begitu."
"Iya tapi tergantung pada pengguna juga. Bisa bisa teknologi secanggih apapun akan jadi useless."
"Kalau begitu ajari aku untuk jadi smart user."
"Kau memangnya mau tau tentang apa?"
"Media sosial." Jawabku singkat.
Lalu dia terdiam. Dan mungkin berfikir.
"Mulai dari mana ya?" Katanya dengan telunjuk yang mengetuk ngetuk meja.
"Facebook?"
"Nah! Baiklah. Kita buat akun untukmu sekarang."          
   ***
"Nah rey, kau bisa coba mengajak pertemanan orang orang yang disarankan oleh Facebook." Ujar olive setelah mengajariku beberapa cara memainkannya.
    Aku mencobanya satu persatu. Tapi karna belum ada yang bisa ku ajak interaksi. Jadi belum terasa benar sensasinya. Mungkin jika ku ajak satu dua orang mengobrol dengan ini, Facebook akan menjadi permainan ter asik.
         Siangnya kami makan seperti biasa. Normal dan berjalan lancar. Ayah juga datang tepat. Suasananya tenang. Walaupun mungkin ibu masih jengkel, tapi ini lebih baik, percayalah. Setelah makan siang pun Olive pamit pulang, begitu juga orang tuaku.
"Baik baik ya dirumah" ini tadi kata ibu sambil mengusap bahuku lembut sebelum dia berangkat bersama mobil ayah. Ayah juga sempat mengacak acak rambutku. Dan mereka hilang seiring laju mobilnya.
   Nah sekarang aku punya akun di Facebook. Olive menamainya dengan menambahkan nama panjangku di belakang nama panggilan, Adi Putra. Ya walaupun agak bingung bagaimana dia tau nama.panjangku, padahal kami sebelumnya tidak pernah membicarakan masalah personal. Tapi dia tentu lebih pintar dari kelihatannya.
     Aku coba buka lagi dan sekarang aku sudah punya beberapa teman. Walaupun belum satupun yang aku ajak berinteraksi. Tapi melihat mereka membuat postingan,dan membacanya itu cukup menyenangkan. Untuk permulaan cukup menjadi silent reader saja. Sampai ada postingan yang membuatku tertarik.
"Disebuah kerajaan yang makmur. Ada seorang raja yang sekarat tapi licik. Dia ingin bermain dengan nasib orang.karna Sang raja tau bahwa dia sebentar lagi akan meninggal, tapi tak seorang anak maupun istri yang dapat dia wariskan atas kekayaannya. Sehingga ia memilih untuk membagi seluruh warisan yang terdiri dari 100 peti emas kepada 10 pengawal setianya. Tapi dia punya aturan unik untuk membaginya, yaitu dengan mengurutkan pengawal yang paling tinggi jabatannya (ada di nomer 1) sampai yang paling rendah (ada di nomor 10) secara berurutan.  Kemudian satu persatu dari kesepuluh pengawal tersebut akan mengajukan saran yang berisi bagaimana jumlah peti emas itu dibagi (hanya jumlah bagiannya tanpa keterangan) dan jika saran tersebut di setujui oleh minimal 50% dari jumlah prajurit yang masih hidup dan tidak termasuk raja, maka saran tersebut akan dipakai untuk membagi jumlah peti emasnya. Dan jika kurang dari 50% yang setuju, prajurit itu akan langsung dipenjara dengan disaksikan oleh sang raja sendiri. Yang akan pertama kali mengajukan saran adalah prajurit no 10 , lalu jika sarannya ditolak, maka akan di penjara dan diteruskan oleh saran prajurit 9, dan seterusnya sampai ada saran yang disetujui. Asumsinya, semua prajurit punya logika yang sama dengan tingkat kecerdasan yang sama sama tinggi. Mereka juga akan mengambil langkah terbaik untuk keselamatan nyawa mereka, lalu mereka sangat serakah,dan akan langsung menolak saran jika mereka bisa mendapatkan lebih banyak peti dari yang saran tersebut ajukan. Mereka juga takut akan hukumannya. Semua prajurit juga tahu jika mereka bisa mendapatkan jumlah peti emas yang sama,jika mereka menolak sebuah saran, dan berharap si pembuat saran akan dibunuh. Andaikan anda adalah prajurit no. 10 tersebut. Lalu saran apa yang akan anda berikan kepada sang raja dan kesembilan prajurit yang lain tanpa harus terbunuh dan berapa jumlah peti emas yang akan anda dapatkan?
Jawaban jangan lupa pakai penjelasan ya."
Akun tersebut bernama Adisti. Entah memang hanya itu kah namanya atau hanya panggilan. Tapi itu nama sederhana yang menarik.
"Clue yang diberikan dari cerita diatas.
1. Setiap prajurit mempunyai kecerdasan dan logika yang sama pintarnya (bagaimana caranya selamat dan tidak dipenjara)
2. Setiap prajurit serakah (mungkin maksudnya jangan sampai ia rugi. Dan lebih baik dapat 1 dari pada tidak sama sekali)
Untuk sisanya mungkin hanya bumbu cerita saja.

Jadi untuk melihat kemungkinan yang paling besar selamat dari pembagian tersebut, Saya coba mengurainya dari belakang. Saat tersisa 2 prajurit.
Misalnya # = prajurit ke-
Saran ke-9
#1= 0 peti
#2 = 100 peti
Ket: saran akan langsung diterima karna kuota 50% terpenuhi.

Saran ke-8
#1 = 1 peti
#2 = 0 peti
#3 = 99 peti
Ket: prajurit 1 langsung setuju karna jika tidak, dia tidak mendapatkan apapun.
(Untuk menghindari saran ke-9)

Saran ke-7
#1= 0 peti
#2 = 1 peti
#3 = 0 peti
#4 = 99 peti
Ket: #2 akan langsung setuju karna jika dia menolak maka dia tidak akan dapat apapun.
(Untuk menghindari saran ke-8)

Saran ke-6
#1 = 1 peti
#2 = 0 peti
#3 = 1 peti
#4 = 0 peti
#5 = 98 peti
Keterangan : prajurit ke-2 dan 4 tidak bisa menolak saran. Karna jika ditolak, mereka tidak dapat apa apa.
(Untuk menghindari saran ke-7)

Dan begitu seterusnya sampai ke saran nomor satu yang polanya adalah.
#1= 0 peti
#2= 1 peti
#3= 0 peti
#4= 1 peti
#5= 0 peti
#6= 1 peti
#7= 0 peti
#8= 1 peti
#9= 0 peti, dan
#10= 96

Dan si prajurit nomor sepuluh akan dapat 96 emas dengan dukungan setuju 50% tanpa perlu di penjara." Aku mencoba berkimentar, sekaligus membuka percakapan pertama kali dengan orang asing yang pertama kali juga aku temui di media sosial ini.
'Wah ternyata terlalu mudah ya :D ' Balasnya beberapa menit kemudian dengan emoji tertawa. Hey! Aku tau emoji. Tentu saja tadi kan olive yang mengajarkan. Aku tiba tiba bingung dan mentok. Tak jarang aku tidak membalas percakapan penghuni rumah ini hanya karna tidak tau harus berkata apa. Tapi aku tidak boleh kehilangan kesempatan. Ini pertama kali, jadi harus memberikan kesan yang baik. Tapi sejak kapan aku memikirkan soal kesan pertama?sejak kapan aku perduli?entahlah itu tidak penting.
'Hanya kebetulan pemula.'
'Apa tertarik juga dengan hal seperti tadi?' Balasnya. Dia cukup ramah untuk orang asing.
'Iya.' Jawabku singkat.
Lalu tak ada balasan lagi. Ya Ampun, apa tadi terlalu kasar? Aku tidak tau standar berkomunikasi sebelumnya. Maksudku secara normal,bebas,terbuka,atau,atau apalah namanya itu.  ini pertama kali. Aku coba lagi mungkin.
'Aku suka rubik. Bagaimana denganmu?' Jawabku lagi di kolom komentar. Tapi tetap tak ada balasan darinya. Akhirnya aku keluar dari Facebook. Mungkin harus sedikit latihan dulu sebelumnya. Latihan?seperti apa? Seperti orang normal kah maksudnya? Lagipula apa itu normal? Entahlah. Tapi aku pernah dengar kata kata itu sebelumnya. "Memangnya apa itu normal?" Jika tidak terjawab aku akan buat definisi normalku sendiri.
     Malam yang dingin dirumah kami. Ritme lagu alam paling merdu terdengar hingga ruang makan. Hujan, dengan segala keniscayaan yang biasa manusia harapkan saat adanya. Disana ada aku,ibu dan ayah, dan Ibu pembersih yang sedang mengamati dalam hening didapur. Aku sempat bingung tentang dia setiap kali makan malam.
"Kapan bu rina makan malam?"tanyaku pada suatu malam ditengah gemercik hujan yang sama derasnya dengan malam ini. Tapi dia hanya tersenyum.
"Kenapa rey?"
"Aku kadang bingung, ibu tidak makan saat kami semua tengah makan malam. Kenapa tidak bergabung dengan kami bu?"
"Ah ibu tetap makan. Tapi setelah kalian semua rehat dan setelah pekerjaan ibu juga selesai. Kau pasti tidak melihat ibu karna sedang dikamar." Lalu dia kembali tersenyum simpul yang sebelumnya, aku tidak tau arti senyum itu. Ternyata dia tersenyum tulus.
"Bagaimana pelajaranmu hari ini rey?" Tanya ayah memecah keheningan.
"Menyenangkan yah."
"Belajar apa saja?"
"Banyak." Jawabku singkat.
"Jangan tidur malam ya, jangan sampai kau kesiangan seperti tadi pagi lagi." Ujar ibu menyusul bu rina yang mulai menyisihkan piring piring makan kami yang sudah kosong.
"Iya bu."
"Besok siang saat istirahat makan siang..." ucapan ayah terpotong oleh ibu.
"Kau akan pulang telat? Atau tidak datang? Baiklah itu urusanmu." Sergah ibu. Seketika mata ayah membulat kaget juga marah mungkin. Lalu dia agak mereda.
"Aku akan menjemputmu. Selepas jam istirahat aku juga akan mengantarmu." Jawab ayah dingin.
Aku lihat Ibu agak bergeming. Sorot matanya memancarkan rasa bersalah.
"Oh, oke baiklah." Kata ibu lalu kembali merapikan piring piring kami.
      Dikamar ku, masih dalam keadaan grimis, aku mulai menyalakan komputer. Tapi kali ini, aku duduk dengan berbalut selimut. Bandung saat malam ditambah gerimis,mungkin jadi tempat terdingin di indonesia. Apa aku bercanda?tidak lah. Maksudku Dengan mengeyampingkan pegunungan dan dataran diatas bandung tentu saja.
      Kursor mulai menari, mengikuti gerakan mouse yang aku kendalikan. Sedetik kemudian akun facebook ku sudah terbuka. Dan wah! mengejutkan, ada satu pesan dan pemberitahuan. Ternyata komentarku tadi dibalas Adisti.
'Rubik?lumayan suka. Walaupun tidak bisa bermain hihi. :D ' Jawabnya.
Lalu langsung ku buka opsi pesan. Dan bisa ditebak siapa? Gadis itu lagi.
'Hallo :D' bunyi pesannya, dan masih dengan emoji tertawanya.
'Hi' balasku singkat
Tak lama komputerku berbunyi. Dia balas pesanku lagi.
'Kau dari bandung ya?aku juga loh.' sontak aku bingung, mau ku balas apa pesannya? Akhirnya aku balas juga.
'Oh,begitu.'
'Iya, kau memang daerah mana? :D'
'Dago.'
'Wah,pasti perumahan elit. Aku sih di buah batu. Hey aku mampir  ke dago pakar beberapa waktu lalu. Malam sih. Tapi seru...' dia bercerita panjang lebar. Ini seperti pengalaman yang tidak pernah terjadi. Tau maksudku? Aku tidak pernah keluar dari pintu itu, pintu rumah ini. Ya tentu saja, kecuali ingin pergi 'jalan jalan' . Tapi lewat gadis ini, aku bisa membayangkan gemerlap malamnya daerahku, yang ironisnya aku sendiri tidak pernah merasakan. Dia merinci setiap detail tempat dan kejadiannya. Mulai dari tempat yag ada dsana, segala hingar bingar yang tercampur dikeramaian, lampu lampu jalan yang terbias gelapnya malam, sampai tempat tukang rujak buah yang ada di samping jalan.
'Kau tau? Sehabis mamangnya kasih kembalian. Aku gelagapan,  karna adiku sudah tidak ada. Padahal sebelumnya ada di samping gerobak buah.' Bunyi pesannya. Cerita yang menarik,yang berakhir pada penemuan adiknya di salah satu sudut daerah tersebut.
'Dia disana. Sedang lihat Kominitas Hong bermain. kau tau?mencarinya saja sampai di bantu tukang buah tadi. Tapi adiku malah tertawa geli saat lihat wajah jengkel ku.' Lanjutnya. Tanpa sadar bibirku merekah,aku tersenyum setiap kali membaca pesannya,aku terhibur oleh kisah sederhana yang dia ceritakan.
'Ah ia liburan lalu juga sempat ke De Ranch,pernah kesana?'
'Belum,dimana itu?'
'Di lembang kurasa. Dan kau, jangan kaget ya kalau berkunjung kesana disuguhkan susu aneka rasa sebagai welcome drinknya. Hihi.'
'Begitu.'
'Iya pokonya kau harus datang dan merasakannya sendiri. Dan Pemandian air panas di Ciwidey,ya ampun! Ban mobil kami pecah saat akan pulang. Dan hujan pula. Dan kau tau?saat kedua kalinya aku kesana dengan kakak,ternyata dia lupa bawa dompet. Dan kau bisa tebak betapa malunya kami. Ia tempat itu juga punya cerita. Kalau kita jalan jalan bersama nanti,akan ku bawa kau ke tempat tempat seru.' Balasnya.
'Tentu. Semoga bisa.'
'Kau banyak mengunjungi banyak tempat ya.' Lanjutku.
'Ah tidak juga. Aku hanya tertarik dengan tempat baru. :D '
'Selain bandung ku pernah travelling kemana lagi?' Tanyaku. Karna sebelumnya sempat aku lihat foto foto di akunnya. Dan banyak sekali latar foto indah di tempat yang berbeda.
'Sulawesi, aku sempat snorkling disana.ke sumatra, semarang, rock climbing di yogya ah ia aku ingat kota itu...' dia kembali bercerita soal pengalamannya menyusuri indahnya perut bumi.
'Cave tubing di kalisuci menakjubkan. Bisa kau bayangkan melewati sungai yang ada diperut bumi? Dan satu lagi, masih di yogya sih. cahaya surga. Kau bisa menikmati cahaya surga walaupun masih jadi manusia.hihi.'
'Benarkah?dimana?'
'Goa jomblang. Sekelumit sensasi surganya itu rey! Yang pasti kau harus coba sendiri. Aku jamin, kau seketika akan setuju bahwa itu memang tempat yang menakjubkan.'
'Aku harap juga.'
      Dan disanalah kami. Dalam batas layar dan jarak masing masing. Tapi aku merasa seperti sudah mengenalnya bertahun tahun. Dia gadis yang ekspresif, aktif dan banyak sekali pengalaman.
     Dan perbincangan kami ditutup, cerita panjangnya pun berakhir. Saat itu hampir jam 12 malam. Dia bilang harus bangun pagi untuk sekolah. Seharusnya akupun begitu. Tapi untuk momment unik malam ini. Bisakah mataku terpejam? Aku sendiri ragu soal itu.
     ***
  2 minggu berlalu, dan kami makin akrab. Dia juga masih sering menceritakan cerita cerita sederhananya. Tentang perjalanannya menyusuri beberapa negara di benua asia,eropa dan amerika.
'13 jam rey! Bayangkan kau hanya duduk dan tertidur disana, diangkutan umum yang banyak diisi kardus kardus dari para penumpang lainnya. Setiap kau terbangun,orang yang ada di sampingmu sudah berbeda. Dan itu terjadi sepanjang perjalanan. Aku tidak duduk dengan kakak karna dia menemani adiku didepan, nah itu saat aku di Vietnam.'  Ujarnya suatu malam. Dan pada malam berikutnya dia menceritakan pengalamannya menyusuri jalanan Amsterdam.
'Ya tidak ada maksud apa apa, hanya berjalan jalan pagi' balasnya saat ku tanya untuk apa jauh jauh menyusuri jalanan.
'Aku lewat jembatan angkat, lalu melewati Amstel River dan akhirnya sampai.'
'Dan ketemu?' Tanyaku
'Iya ketemu, sampai juga di Rijksakademie. Gerbang besinya tinggi sekali. Sampai tiga meter! Tapi sayang terkunci hihi.'
'Kenapa?lalu kau?'
'Kan hari minggu. Haha aku hanya berdiri disana. Memandang dinding batu berwarna sephia.' Jawabnya. Dan masih banyak kisahnya yang dia ceritakan, mulai dari  sekolahnya. Tentang kesukaannya,tentang dia yang pernah tidak bisa pulang saat sekolah dasar dulu,karna ditinggal pulang oleh kakaknya dan dia tidak ingat jalan rumahnya sendiri, untuk yang satu itu memang menggelikan. Tapi lebih baik dari pada aku yang tak oernah keluar. Tentang bagaimana dia memandang dunia lewat manik coklatnya,semua terlihat menyenangkan. Rasanya cepat sekali. Padahal seingatku baru kemarin aku punya akun facebook. Dan dimalam itu, kami berbincang seperti biasa.
'Aduh aku terlalu banyak cerita ya.' Bunyi pesannnya. Dia bicara begitu karna baru saja menceritakan tentang perguruan tinggi yang akan dia ambil selepas sekolahnya sekarang.
'Tidak apa,aku suka. Lanjutkan.'
'Kau tidak banyak bicara ya. Nah sekarang giliran mu. Coba ceritakan tentang dirimu.'
'Tentang apa?' Tanya ku bingung
'Apa saja ayolah. Kita kan sudah berteman. Ceritakan padaku bagaimana sekolah disana.'
Aku diam. Bagaimana bisa bercerita tentang hal yang aku sendiri belum pernah merasakannya?
'Ayolah.' Lanjutnya. Dan aku masih dalam diam.
'Rey! Ayo. Aku sudah banyak bercerita dengan mu.' Balasnya lagi. Masih dalam keraguan. Aku coba ceritakan keadaan yang sebenarnya.
'Bagaimana jika aku berbeda?apa kita masih berteman?'
'Tentu saja! Tapi berbeda bagaimana?'
'Kau janji kita akan tetap berteman?
'Iya rey. Janji.'
Dan akhirnya aku ceritakan semua. Soal keadaan ku dan rumah kami,kekurangan dan kelebihan yang bisa aku rasakan. Semuanya.
'Wow. Itu keren.' Ujarnya singkat setelah aku selesai bercerita.
'Nah sekarang kau sudah tau semua. Termasuk 'sesuatu' yang aku idap. Apa kita masih berteman?'
'Tentu saja! Aku suka caramu mengungkapkan semua. Kau tau?kau punya kelebihan yang orang lain belum tentu punya. Jangan berkecil hati rey. Dan kurasa, aku tau apa yang sebenarnya 'sesuatu' yang kau idap itu.'
'Terimakasih, tapi tetap saja aku tidak akan bisa hidup normal seperti kalian.'
'Hey! Jangan pesimis. Kau tau Tample Grandin?pengajar di Universitas Colorado? Atau Satoshi Tajiri,pencipta game Pokemon?Matt savage sang Mozart of Jazz?ah Atau Daniel Tampict si 'Brain Man' sebagai salah satu dari 100 orang tercerdas yang masih hidup di dunia? Mereka semua orang besar! Dan mereka sama sepertimu. Kalian berbeda karna kalian spesial.' Ujarnya. Aku tertegun. Sudah aku bilang dia punya caranya sendiri untuk memandang sesuatu.
'Terimakasih.' Jawabku singkat.
'Tentu. Jangan hilang semangat lagi ya.'
'Makanya ingatkan aku nanti.'
'Kau kan punya ingatan yang kuat :p ' balasnya.  Sontak aku tertawa kecil.
'Kau pernah bermain sebelumnya?' Balasnya lagi.
'Sudah kubilang. Keluar saja tidak pernah, lagian kan kau temanku satu satunya.'
'Ah aku lupa maaf. Berarti kau harus aku kenalkan dengan dunia yang satu ini. Aku lihat kau cukup antusias saat cerita kemarin berhasil kau pecahkan.'
'Cerita kapan?'
'Dua minggu lalu, masa kau lupa?itu ceritaku pertama kali, dan sekarang aku sedang ketagihan. Kau harus coba Dunia ini sendiri.'
'Apa itu?'
'Tunggu dulu, aku undang saja langsung ke grupnya ya. Kau pasti akan suka. Karna kau spesial dan berbeda, jadi caramu bersenang senang juga pasti berbeda. Kau tau rey, 'Bermain adalah esensi kehidupan.' Setidaknya itu kata Buytendjik, tunggu ya hihi.' Aku bingung. Apa yang akan dia lakukan.
Dan tak lama komputer ku berbunyi. Ada notifikasi yang masuk. Seperti pemberitahuan bahwa aku diajak bergabung kedalam sebuah grup.
'Grup apa itu dis?' Tanyaku lewat pesan pribadi, Dis (Adisti) maksudnya. Lalu tak lama komputerku berbunyi lagi.  Aku membaca pesan Adisti yang terbilang singkat malam itu,
'Welcome to D world rey ;)'

27 Mei 2064

"Tak akan ada yang mengerti dirimu. Tidak akan ada yang tau nak,selain kau sendiri dan tuhan. Mereka fikir tau, tapi mereka tidak akan pernah tau." Gadis itu menyeka sudut matanya mengingat kalimat yang biasa kakeknya ucapkan. Dia masih mengingat jelas kata kata tersebut. Dan ternyata hanya itu yang tersisa dari kenangan pak tua yang saat ini sudah berbeda alam. Dan sekarang mereka berkumpul, berkumpul untuk sang kakek. Melepas perjalanan terakhirnya didunia ini.
"Semoga amal ibadahnya diterima oleh sang kuasa. Dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan juga kekuatan dalam mengahadapinya." Ujar Bapak berbaju putih yang menggunakan kopeah dan sarung menatap gundukan tanah yang sedang mereka kenang petang ini, lalu dia berggumam untuk membacakan beberapa doa sehingga yang lain mengamininya. Gadis tadi melihat ibu dan neneknya agak terisak ketika semua pelayat satu persatu melangkah meninggalkan tanah merah ini. Ayahnya tampak tegar menopang bahu ibu si gadis dan mengelus pelan bahu neneknya yang sedang duduk bersimpuh didepan nisan putih bertuliskan "Reyhan Adi Putra" diatasnya.
     Dan Gadis itu disana berdiri dengan dada agak sesak melihat kepergian sosok cerdas yang pernah dia kenal. 'Kakek, dengan pandangan konyol yang kadang menggelikan. Semua orang yang baru melihatnya,pasti langsung berfikir dengan sebelah otaknya dan menilai dari pembawaannya saja. Tanpa mereka tau, bahwa Tuhan sudah menanamkan Otak yang menakjubkan di belakang wajah yang polos itu.' Hatinya berbicara tapi tak seucap katapun keluar.
"Ayo ma, sudah mulai gelap." Kata ayahnya menopang tubuh nenek yang lunglai untuk sekedar berdiri. Lalu nenek itu perlahan menyeka air mata. Dan berjalan dengan sebelumnya mengusap nisan putih, dan berlalu. Tapi gadis itu masih disana menatap nanar kearah nisan dengan mengenang momment momment mereka bersama sebelum akhirnya sang kakek dijemput duluan.
"Diras!"  teriak ayahnya lembut dari depan gerbang masuk TPU, membangunkan gadis tadi dari kisah nostalgia. Itu kode bahwa dia harus segera menyusul mereka. Lalu gadis yang dipanggil Diras itu mengangguk kecil.
"Selamat jalan kakek!" Ujar  gadis semampai berkerudung hitam.
     ***
     Diras duduk dengan tenang. Suasana rumah yang biasa dia kunjungi sangat berbeda hari ini.  Nenek yang biasanya ceria berubah menjadi wanita paling murung. Wajahnya terlipat statis,kerutan mata dan kening terlihat lebih jelas, lebih tua.
"Aku mengerti. Kau harus mempertimbangkannya kan?kita bisa tinggal disini dan menemani mamamu." Suara Ibu Diras lamat lamat terdengar, diia sedang berbicara ruangan yang lain.
"Benarkah?kau mau?"
"Kenapa tidak?aku akan ikuti suamiku. Lagian kau anak satu satunya. Aku rasa itu pilihan terbaik."
"Terimakasih." Jawab ayahnya.
   Lalu dia melihat Ibu dan Ayahnya menghampiri nenek tadi, yang kelihatannya ingin menyampaikan keputusan mereka untuk tinggal bersama neneknya.
"Tidak apa. Mama bisa tinggal sendiri. Mama mengerti kalian punya kesibukan masing masing." Ujar nenek Diras dengan memaksa seulaa senyum menghiasi wajahnya kala mereka berdua duduk bersebelahan.
"Ia ma, kami sudah putuskan untuk tinggal saja disini dengan mama." Kata ayah Diras dengan menggenggam tangan neneknya.
"Benarkah?" Mata nenek langsung membulat
"Ia ma." Jawab ibu diras. Lalu raut nenek itu lebih baik. Diras tersenyum, lalu mengahmpiri mereka bertiga.
"Jadi kita akan tinggal disini?"
"Ia Diras. Kau akan punya banyak waktu bersama nenek sekarang." Ujar ibunya. Diras tersenyum lalu memeluk sang nenek.
"Nah sekarang. Akan nenek ajak lihat barang barang kakekmu." Neneknya berdiri sambil menggandeng tangan Diras. Dan sekali lagi bibirnya merekah mendengar tawaran itu.
       Kamarnya cukup luas. Disana terdapat ruangan lain yang masih menyatu dengan kamar. Lalu Diras diajak masuk ke dalam ruangan tadi
"Nah. Disini biasanya kakekmu menghabiskan waktu malamnya. Entah apa saja yang dia lakukan selain bermain rubik. Nenek tau, kau selalu tertarik segala sesuatu tentang kakek. Dan hari ini..." neneknya berhenti dan menarik napas.
"Silahkan kau mengenangnya." Lanjut sang nenek. Diras mengerti maksudnya. Yaitu dia punya wewenang bebas untuk keluar masuk dan menjelajahi ruangan yang biasa kakeknya gunakan.
"Oke nenek akan keluar sebentar." Ujar neneknya dengan mengusap lembut kepala Diras
    Dia pertama kali tertarik dengan rak yang berisi banyak rubik diatasnya, banyak sekali sampai dia takjub karna semua rubik itu sudah tersusun rapi, dan bertumpuk tumpuk majalah yang kelihatan sudah usang.
"Ya ampun, kakek tak pernah baca majalah fashion kah?majalah seperti ini sih sudah tidak ada sekarang." Dia bergumam dengan dirinya sendiri. Lalu berjalan lagi kesudut ruangan yang satunya. Disana ada komputer yang bentuknya tak pernah ia lihat lagi sekarang.
"Ini pasti komputer itu. Komputer pertama kakek." Ujarnya dan dia tersenyum lagi. Lalu kembali melihat lihat. Akhirnya sampai pada meja kerja sang kakek. Dia duduk disana. Agak menggoyang goyangkan badannya mengikuti kursi putar yang ikut bergerak. Lalu ia mulai membuka laci meja satu persatu. Dan kembali menutupnya begitu saja.
"Tidak ada yang menarik." Lalu dia bersandar pada kursi tadi, dan mengetuk ngetukan telunjuk ke bawah meja kerja kakeknya. Dia biasa melakukan itu ketika bosan. Dan seketika jarinya berhenti. Dia coba ketuk lagi, dan berhentu lagi. Tadi terdengar suara yang berbeda dari satu sisi sudut meja tersebut.  dengan tersigap dia bangkit, dan langsung turun kebawah meja untuk melihat. Itu seperti triplek yang menutupi suatu ruangan kecil. Dia menggeser triplek tersebut dan tiba tiba buku tebal hitam jatuh menimpa kepalanya.
"Aduh kakek,jangan marah dong. Aku lihat lihat sedikit ya." Katanya dengan meraih buku tadi seraya mengusap kepalanya.
"Wah bukunya Tebal sekali."  Dia duduk bersandar
"Ini buku apa ya." Lanjutnya dan dia mulai membuka halaman pertama. Lalu tak lama dia terbenam dalam kursi dan mulai membaca halaman pertama buku itu, sambil bergumam.
"Aku baru tau kakek punya buku harian."
        ***

Jumat, 06 Februari 2015

PTB


"*****"
BAB 1
4 Februari 2007
""Oper bolanya hei!"
"Rey! Maju!"
"Oper rey oper!"
Tiba tiba kaki seseorang menyepak betis kiriku
"Pritttt"
"Argh maaf kawan,hanya permainan."  Dia membangunkanku
"Tentu." Kataku seraya tersenyum
Wasit memangdang kami dan mengangguk. Itu kode bahwa sudah saatnya melakukan tendangan
Bebas sebagai hadiah barusan.
"Pritt...""
***
Tunggu, apa tadi aku membayangkan sedang bermain bola? Ah sial imajinasi konyol lagi. Siapa wasit bertampang bodoh tadi? Aku bahkan tidak mengenalnya. Memangnya siapa yang aku pernah kenal?tidak!tidak seorang pun! Mungkin sepak bola adalah hal paling mustahil kumainkan,atau hampir semua permainan. Ya tentu, untuk keluar rumah saja mustahil apalagi melakukan permainan semacam itu.
  Dan disinilah aku, dipenjara palsu. Tak ada jeruji atau lantai dingin beralas semen batu. Atau sipir yang selalu menatap curiga setiap aku berpindah posisi,atau mungkin makanan yang disajikan seperti makanan hewan peliharaan. Bukan, bukan itu. Disini indah, buku tertata rapi dirak. Meja belajar disediakan,  kasur tebal berselimut hangat,lengkap pula dengan bantal dan guling. Kamar ini besar sangat besar mungkin. Walaupun Aku tak tahu ukuran kamar anak diluar sana, setidaknya mungkin ini mewah. Hanya satu yang kurang dari kamar ini. Jendela!
Tidak percaya bukan saat aku katakan ini penjara?  Tidak sepertinya bahkan jauh lebih buruk dari penjara. Tidak ada jalur komunikasi kedunia luar hanya ada pintu dan lubang ventilasi yang didepannya hanya bagian belakang rumah. Penjara,ini lebih buruk dari penjara! Mereka tidak membiarkanku lepas sebagai manusia.
           Sudah 11 tahun aku terkurung disini. Dirumah yang bahkan tak layak dikatakan rumah. Bukan karna bentuk fisiknya. Tapi suasana didalamnya. Mungkin hanya satu hal yang membuat hidupku sempurna saat ini, yaitu diijinkan keluar dan bersosialisasi dengan sebayaku.
"Rey... waktunya sarapan." Suara wanita itu terdengar dari luar dan disusul oleh pintu yang terbuka.
Aku menatapnya lekat, rambut sebahunya dibiarkan terurai, alisnya terlukis sempurna, garis hidung yang tegas dan bibir yang dilapisi perona merah, dan wajahnya manis dengan polesan bedak. 
"Iya bu. " Ujarku singkat dan berdiri
Dia ibuku, wanita yang paling kusayangi. Entah alasannya apa dia tak mengijinkan ku keluar rumah,ternyata aku tetap menyayanginya. Atau ini perasaan lain?entahlah, karna aku belum pernah mencoba yang lain.
       Kami berjalan keluarkamar. Ditutupnya pintu kamarku, lalu menggandengku kearah meja makan. Disana sudah ada ayah dan bu rina,wanita pembersih dirumah ini. Aku tak ingat kapan tepatnya dia bekerja dirumah kami. Mungkin sejak aku lahir atau aku lupa,entahlah. Ibu menyuruhku duduk dan menyelipkan celemek makan ku. Lalu mengambilkan roti isi yang sudah disiapkannya. Kami makan dalam keheningan.
"Cepat habiskan makananmu sayang, ah jangan jangan,bukan seperti itu caranya." Kata ibu dengan membetulkan piring dan rotiku yang mulai tercecer karna cara makanku. Apa yang aneh sebenarnya? Aku suka seperti tadi.
       Ayah hanya diam dan tersenyum. Kutebak hari ini akan ada rapat penting karna kemejanya lebih rapi dari biasanya. Jasnyapun berbeda. Tapi aku tak bertanya. Aku tak berani bertanya.
"Besok kita jalan jalan rey." Ujarnya. Aku berhenti makan dan merajuk. Lalu aku berteriak tiba tiba
"Tidak mau!"
                     ***
         Aku berjalan kembali kekamar dan memikirkan kata ayah tadi. Jalan jalan berarti mobil, dan mobil berarti akan bertemu orang aneh yang selalu mengajakku bicara seperti orang bodoh. Dikiranya aku bodoh, tak tau saja mereka. Dikamarku sudah ada bu rina sedang merapikan rak dan rubik rubik.
"Jangann! Jangan dipindah!" Tiba tiba aku membentaknya.
"Tak apa Rey. Ibu membersihkan. Hanya membersihkan, lihat?tak ada yang rusak kan?sini sekarang duduk."
"Jangan dipindah rubik ku." Ujarku menatap kakinya kosong.
"Ini bukumu yang baru."
"Aku mau rubik."
"Rubik?kau mau rubik?"katanya
Aku diam
"Yang mana?yang ini?tapi ini sudah rapi. Mau yang mana rey?"
"Baru,rubik baru.aku mau rubik baru."
"Nanti ibu bilang ke ibumu ya. Sabar."
Aku diam dan merasa sangat bosan.
"Ini kau main sudoku dulu coba ibu mau lihat,sepertinya susah ya." dia memberiku pensil dan buku sudoku dengan kotak 9x9. Aku mengambilnya dan mulai mengisi.
"Aku mau rubik baru, mau rubik baru,,,"ujarku seraya terus mengisi. Dan bu rina kembali merapikan meja belajarku.
"Aku bosan,aku mau rubik baru." Kataku meracau tanpa menolehnya.
Lalu dia selesai merapihkan lalu memangdang sudoku  Dengan tertegun dan berkata,
"5 menit rey? Kau,, kau makin cepat saja."
              ***
      mereka mungkin berfikir susah untuk menyelesaikan sudoku seperti tadi. Buatku bukan apa apa. Aku bahkan dapat menghabiskan berlembar lembar permainan hanya dengan hitungan menit. Rubik juga mulai membosankan. Aku butuh rubik dan buku baru. Hanya itu permainanku saat ini apalagi dengan sifatku yang mudah bosan,jadi aku butuh sesuatu yang baru.
       Aku berdiri dan menghadap kumpulan buku buku tekateki sekarang. Kuambil salah satu dan ku buka asal.
Disana terdapat gambar seperti denah labirin yang dibuat melingkar,dengan titik tujuan yang berada ditengah. Ini mudah. Hanya tinggal memutar sekali dan ikuti jalurnya saja. Walaupun hanya satu jalur yang bisa dipakai,tapi permainan ini bisa ku selesaikan dengan mata tertutup.
         Sudah sejak 9 tahun lalu aku berlangganan buku maupun majalah teka teki seperti ini. Biasanya berisi puzzle,tts,sudoku dan beberapa permainan lain yang bisa mengalihkan rasa bosanku. Pasti tak terbayang bukan 11 tahun terkurung dalam rumah dan kamar tak berjendela?kalau keluar paling hanya diajak 'jalan jalan' oleh ayah. Entah apa desebutnya tapi ayah selalu bilang itu jalan jalan. Tapi aku tidak berjalan melainkan naik mobil dan dibawa kesebuah rumah hanya untuk ditanya tanya disana.
"Rey.." kata seseorang diluar, dan pintu terbuka. Ternyata bu rina dengan 3 rubik ditangannya. Rubik 2x3,lalu berbentuk seperti bintang helios dan satu lagi rubik yang bentuknya baru kulihat.
"Aku langsung membelikannya." Di letakan rubik itu di depan ku.
"Kau mau main?"
Aku diam. Lalu aku berkata
"Acak."
"Apa?kau mau aku mengacaknya?"
Aku mengangguk sambil mengisi labirin ke 4. Ku lihat dia mengacak 3 rubik tersebut dengan asal. Dan setelahnya diletakan lagi didepanku. Lalu dia membereskan beberapa pakaian kotorku yang ada dikeranjang. Aku mengambil rubik 2x3 itu dan mulai mencobanya,lalu disusul dengan bentuk baru, dan yang terakhir bintang helios. Ternyata cukup lumayan untuk yang terakhir. Tapi tentu dengan mudah ku pecahkan semua rubik itu.
"Acak,acak lagi." Ujarku mengacungkan rubik kearahnya.  dan dia hanya memandang serius kearahku.
                ***
"Dia semakin cepat bu."
Aku mendengar lamat lamat suara bu rina sedang mengobrol dengan ibuku.
"Memang,karna itu aku mau berkonsultasi lagi besok. Setidaknya dia tidak mudah mengamuk seperti kasus yang lainnya."
"Menurut saya,dia tenang karna ada permainan tersebut. Namun saya tidak menjamin bila rubik dan bukunya distop dia akan tenang seperti biasa."
"Dia sudah besar, ini tahunnya yang ke 17. Ku rasa sudah waktunya memanggil guru baru juga untuk mengajarnya kembali. Guru yang kemarin sepertinya kurang sepadan."
"Benar bu."
"Baiklah. mungkin akan ku rundingkan dengan suamiku."
"Aku rasa itu yang terbaik."
     Sejauh ini hanya itu yang terdengar oleh ku,sisanya aku tak mau dengar. Jadi percakapan tadi menjelaskan kenapa guru laki laki yang biasa datang kerumah ku sudah tak pernah kembali. Aku sudah bilang pada ibu,bahwa aku sebenarnya bisa belajar sendiri. Jadi  tak perlu ada guru lagi. Tapi aku tak bisa mengatakannya,mereka juga mungkin tak mengerti!
  
Keesokan harinya.
       Aku mendengar ibu berbicara kepada ayah. Dan sepertinya aku akan  dibawannya jalan jalan tak lama lagi. Jika ditanya aku pasti akan bilang tidak mau pada mereka. Jelas karna walaupun aku diluar,aku tak pernah bisa benar benar melihat dunia luar. Jadi lebih baik aku menyelesaikan permainan ku didalam sini.
     Pintu tiba tiba terbuka, dan ibu pun masuk
"Reyhan.." dia menyapaku
Aku diam seraya mengulik rubik ku.
"Sekarang saatnya jalan jalan,ayo pakai jaket mu."
aku tetap diam. Lalu ibu mengambil jaket yang tergantung ditembok dan mengajakku berdiri. Namun aku duduk lagi dan tak acuh padanya.
"Kalau kau menurut,pulangnya kita cari buku baru untukmu."
Namun aku tetap diam dan bermain rubik.
Ibu merankul dan membalutkan jaket tadi ke tubuhku.
"Ibu jika aku ikut.."
"Ia?"jawabnya
"Jika aku ikut apa aku juga boleh keluar?"sambungku, namun masih dengan mata menatap rubik.
"Belum saatnya rey,besok kau boleh keluar."
"Ibu selalu bilang besok,tapi tak pernah ditepati." Kataku seraya masih mengulik rubik.
"Ia nanti kita keluar,tapi tidak sekarang!" Kata ibu dan ada penekanan nada dikata terakhir.
"Aku bosan bu..."
"Rey!" Bentaknya lalu dia menyambung
"Maaf sayang tapi ibu hanya ingin kau tetap aman,mengertilah."
Aku tetap diam. Aku berdiri seraya meletakan rubik yang telah berhasil kupecahkan. Pikiran ku kacau,tapi yang pasti, sekarang,aku tak bisa menolak untuk tidak ikut bersamanya. Mungkin belum saatnya untuk bebas dari kandang ini. Tapi suatu hari,aku jamin suatu hari!
                  ***
         "Nah sekarang ayo kita turun." Ujar ayah.
Aku diam
"Ayo rey."
Dan aku pun dibawanya masuk kerumah itu lagi. Yang aku ingat terakhir kali aku dibawa kesini sekitar 1 tahun yang lalu. Dan anehnya,pertanyaan yang diajukan padaku tidak sebanyak sebelumnya. Dan sejak saat itu aku jarang dibawa ayah kesini.
         Kami menunggu diruangan bercat hijau muda. Karna aku bosan,alu mengambil rubik yang telah tersusun dari dalam tas.
"Acak,acak bu."
Ibu mengambilnya dengan wajah cemas dan mengacaknya sebentar.
"Lagi." Kataku
Dan diacaknya lagi. Lalu memberikannya padaku.
Aku memainkannya seraya sedikit memperhatikan sekitar. Dan disini
Terdapat banyak anak yang kelihatanya sepertiku. Mereka tak bisa menatap fokus dan ada yang terus meracau. Bahkan ada yang mengamuk dan menangis. Tapi tentu aku tak ingin disamakan dengan mereka. Aku berbeda!
"Hai rey,apa kabar?" Kata laki laki yang baru keluar dari ruangan menyapaku. Dia memakai kemeja putih,dan berkaca mata. Wajahnya ramah dan senyumnya tulus.
Aku menatapnya sebentar. Lalu kembali mengulik rubik tanpa menjawab.
"Mari langsung masuk saja."
Lalu ibu dan ayah mengangguk. Dan kami pun masuk kedalam ruangan. Aku didudukan di tempat yang berbeda dengan ibu dan ayah
"Ada apa pak?bukan kah saya sudah pernah bilang dia sebenarnya tidak perlu melakukannya lagi?"
"Ia dok, tapi ada yang ingin kami konsultasikan."
Ujar ayah.
"Apa soal permainan itu?"
"Benar dok,dia semakin cepat sekarang. Bahkan sekarang hanya hitungan menit dok."
Lalu laki laki itu menatapku.
      Aku ingat dulu kami sering bermain. Tapi tidak terlalu seru karna permainan yang dia berikan hanya sebatas kartu kartu aneh dengan gambar didalamnya. Sampai sekitar umurku 11 tahun, lalu seterusnya hanya pertanyaan pertanyaan aneh yang diberikan setiap kali kami jalan jalan kesini.
“Apa terjadi sudah lama?”
“Kami kurang yakin kapan dia lebih cepat seperti tad. Tapi sejak dulu, dia Memang sangat gemar bermain semacam itu. dari dulu kami juga sudah terpukau ketika dia berhasil memecahkan permainan permainan yang memang sukar untuk dilaukan, tapi akhir akhir ini kemampuannya bertambah cepat, Dokter juga sudah tau bukan riwayatnya dan, dan kami agaknya khawatir.” Ujar ibu dengan memandang cemas. Aku sedari tadi hanya bias mendengarkan sambil mengulik rubik. Dan ketika dokter tadi menoleh kearahku,rubik pun telah berhasil di susun kembali, lalu dia berkata seraya menyunggingkan senyum penuhnya.
“Bukankah sudah ku bilang pada kalian. Dia memang special?”
***
Kami pulang setelah pertemuan singkat itu dan sebelumnya tentu mampir untuk membeli buku kesukaanku. Diperjalanan aku melihat ayah dan ibu saling bungkam, dan sesekali memandang kearahku dengan tatapan bingung. Aku tak begitu mengerti tentang perasaan seseorang hanya dengan melihatnya sekilas. Entah ini bawaan watak sejak lahir atau karna penyakit yang aku bawa.
Baiklah mari bicara soal ayah dan ibu. Ibu adalah seorang wanita karir yang sukses, dan ayah sendiri juga seorang pengusaha yang berhasil dibidangnya. Kami termasuk keluarga yang sejahtera untuk urusan materi. Maka jika hanya sebatas itu, hidupku terlihat sempurna. Tentu saja jika saja tak ada penyakit ini!
Sulit untuk menjelaskan bagaimana besarnya perhatian mereka terhadapku. Termasuk menetapkan peraturan yang membuatku sengsara hingga saat ini. Aku dilarang berkomunikasi dengan teman teman dan dunia luar. Aku seperti punya dimensi tersendiri, dunia sendiri dan dimensi itu hanya berisi manusia malang yang terkurung dalam kandangnya yang nyaman. Tapi aku tau sejauh ini, ibu dan ayah hanya ingin membuatku merasa aman dari bahaya.
“Rey, kau akan kembali belajar mulai minggu depan.” Ujar ayah memecah hening didalam mobil.
Aku diam dan melihat buku yang baru saja ku beli.
“Bagaimana rey? Setidaknya kau akan punya teman selain bu rina dan kami.” Lanjutnya,sepertinya tersenyum kearahku
“Apa aku akan belajar diluar seperti anak anak lain sekarang?”
Ayah tak menjawab tapi aku sempat meliriknya sedikit, dan dia saling beradu pandang oleh ibu.
“Tentu tidak sayang, itu terlalu berbahaya. Kami akan membawakan guru privat seperti sebelumnya.” Kata ibu berpaling kerahku dan mengelus kakiku.
“aku bosan bu, aku ingin lihat keluar.” Kataku seraya menutup buku.
“kau harus mengerti sayang.”katanya lagi
Lalu kami sampai dirumah. Ketika aku dibawa keluar mobil dan dituntun kedalam rumah aku sempat mendengar tetangga sebelahku berkata dengan suaminya.
“Dia sudah besar, lihatlah. Aku tak pernah melihatnya lagi, sejak, sejak kapan aku lupa.”
Sejak 2 tahun,2 tahun 2 bulan! Aku ingat terakhir kali aku melihatnya, jelas,sangat jelas!
“Sudahlah ayo.” Ujar suaminya singkat
Padahal jarak kami sangat jauh saat itu, dan dia bicara sambil berbisik. Aku juga  pastikan ayah dan ibu tidak mendengarnya. Tapi pendengaranku lebih sensitif terhadap suara dibandingkan orang normal lainnya . Bahkan yang jauh dan frequensi yang kecil sekalipun, seperti tadi contohnya. Itu sebabnya bukan hal aneh aku dapat mendengar percakapan ayah, ibu maupun Bu Rina ketika diluar rumah. Selain dengan suara. Aku juga sensitive terhada[ cahaya. Pernah sekali ketika aku berada diruang tengah karna mencari buku yang tertinggal disana, tiba tiba gordennya tersibak dan cahaya kecil masuk. Tapi mataku terasa ngilu dan agak pusing saat itu. Aku sempat berfikir itu adalah efek tak pernah keluar. Tapi setelah ku cari tahu tentang sesuatu yang ku idap. Ternyata itu adalah salah satunya. Pendengaran dan penglihatanku lebih sensitif dibandingkan orang normal lainnya.
Dan begitu pula dengan lidah juga kulitku. Semua terasa lebih peka. Pernah suatu hari, aku tak bias tidur sampai 3 hari berturut turut. Mungkin karna ayah dan ibu khawatir terhadap kesehatanku, saat makan malam, disup yang disajikan khusus untukku, dicampurkannya obat tidur. Aku sebenarnya tau sejak sendokan pertama karna adanya rasa yang asing dsup itu, tapi aku tetap akan memakannya dan yakin bahwa ayah juga ibu tidak akan mencelakai anaknya sendiri. Dan efeknya aku tertidur selama 2 hari.
Juga saat mencari baju dilemari. Biasanya aku hanya harus merabanya, karna aku hapal setiap bahan baju disana. Dan jika sudah teraba baju yang ingin aku kenakan, maka aku tinggal mengenakannya. Kemampuan ini sertamerta ada dan mudah untuk digunakan. Walau agak sedikit aneh untuk dibayangkan.
Ingatanku juga menjadi dampak terhadap ‘sesuatu’ itu. Aku dapat mengingat jelas tanggal, Tahun, Bahkan waktu kejadian. Aku ingat ketika Bu rina  Membelikan buku teka teki yang paling aku suka, atau aku ingat ketika terakhir kali seorang tamu yang berkunjung kerumah kami, aku dapat mengingat kapan aku memakai baju biru yang dibelikan ibu, yang sebenarnya baju itu terdapat robek dibagian lengan dalam. Aku tau sejak pertama mengenakannya. Aku ingat saat pertama kali mengenal rubik, aku ingat percakapan mereka, penghuni rumah ini tentang apapun.dan kejadian lainnya yang sebenarnya tidak penting. Aku ingat, ingat dengan jelas!
Tapi anehnya aku sangat susah mengerti perasaan orang lain, ini terlihat seperti manusia yang tidak ada perasaan. Aku sangat susah menebak ibu sedang marah atau sedih ketika ia menangis. Aku tidak mengerti bagaimana ayah bias sangat murung ketika hari senin, atau Bu Rina yang tersenyum ketika melihatku, sangat susah mengalisa suasana hati mereka semua, dan itulah salah satu kekurangan dari efek ‘sesuatu’ yang  ku idap. Aku kerap terlihat asik dengan duniaku sendiri. Dan aku dapat melihat mereka semua bingung saat aku menekuni semua buku teka tika atau rubik yang hamper semua sudah aku pecahkan. Aku juga enggan untuk berbicara banyak dengan yang lain. Seperti tidak tertarik dengan apa yang mereka bicarakan.
***
Hari yang katanya rumah ini akan kedatangan orang asing baru telah tiba, pagi sekali ibu sudah membangunkan ku. Katanya dia akan datang pada pukul 8 tepat. Entah bagaimana guruku nanti. Aku tidak perduli, asal dia tidak mencampuri atau mengoprek barangku. Mungkin aku akan sedikit lunak dengannya.
“Sudah datang ya, silahkan masuk.” Kata ibu dengan seseorang. Entah siapa.
“Terimakasih.” Katanya lembut. Dilihat dari caranya bertutur sepertinya ia seorang wanita muda.
Tak lama terdengar ibu berjalan kearah kamarku, dan suara pintu pun terbuka.
“kau sudah siap kan rey?”
“ayo kita keluar.” Sambungnya
Kami berjalan beriringan keruang tamu, aku lihat sesosok siluit wajah wanita disana. Dan saat aku datang dia pun berdiri sekarang aku bisa melihatnya jelas siapa dia. Mataku bertemu dengan manik hijau yang teduh.
“hi rey, Kita akan bersenang senang.” Katanya dengan senyum penuh arti.