Dengan sebelumnya tersenyum penuh arti kearah neneknya.
***
"Baiklah, cukup." Ujar Ibu Diras. "Kau dorong saja ke sana. Dan ambil lagi sisanya."
Diras mengangguk. Dan tiba tiba dari arah gerbang.
"Ibu! Ini yang terakhir?"
"Sudah kau coba cari?!"
Diras mengitari bagasi mobilnya dan kembali kedalam rumah.
"Aku rasa iya." Katanya dengan meletakan kardus besar yang ia bawa disamping ibunya.
"Sekarang kau bawa barang barangmu kekamar. Nanti nenek bantu merapihkan." Ujar nenek yang baru saja bergabung bersama mereka.
"Biar saja,ma. Biar mandiri."
"Ibu.." Senggol Diras. Yang dibalas senyuman geli oleh ibu Diras.
"Nenek ingin cari kesibukan." Ujarnya. "Jadi biarkan bantu bantu ya."
"Ya asal nenek jangan angkat yang berat berat saja." Ibu balas dengan tersenyum.
"Jadi pilih kamar yang mana kau Diras?" Tanya nenek yang disambut tatapan bingung oleh Diras.
"Jadi ini aku yang pilih ya."
***
"Memangnya kenapa dengan kamar yang lain?"
"Ayah, kan' tau dari dulu aku dekatnya dengan siapa.."
"Ayahmu." Ayahnya memotong.
"Bukan. Maksudku," Diras menghela nafas. "Ayah, maksudku bayangkan kalau tiap malam, ah bukan, tiap tengah malam nenek terbangun. Dan bayangkan tidak ada siapapun disini. Apa ayah tega?" Ujar Diras yang terengah menggeser tempat tidur yang ia tempatkan dibawah jendela. Ayahnya membantu disisi yang berbeda. Tapi tiba tiba dia bangkit dan menatap Diras aneh.
"Itu bukan kau." Ayah Diras melipat tangannya. Diras serta merta bingung dan sewaktu kemudian dia tertawa terbahak bahak. Ayahnya yang bingung pun, hanya bisa menggeleng dan kembali menggeser sisi tempat tidur yang satunya.
"Ayah, itu yang namanya pendewasaan." Balasnya.
"Bukan, maksud ayah, hanya tidak terdengar seperti mu. Seperti bukan Diras, kalau kau yang berbicara."
"Perasaan ayah saja."
"Ah terserah kau. Nah jangan banyak yang dirubah dekorasi kamarnya ya. Dan selain barangmu yang baru, apa ada yang ingin kau buang dari sini?"
"Jangan. Jangan digeser sedikit pun." Diras menyergah ayahnya. Lalu dia menyapu pandangan keruangan tua itu dengan berkacak pinggang. "Biarkan saja tetap seperti ini." Senyumnya puas.
"Yah terserah saja."
"Mungkin warna catnya akan kuubah." Ujar Diras. "Bolehkan yah?"
"Ijin nenek mu dulu."
"Itu gampang."
"Ya kalau tidak ada yang berat berat lagi," ayahnya berjalan kearah pintu. "Kau saja yang teruskan."
"Tenang saja. Terimakasih yah."
Dan ayahnya hanya membalas dengan isyarat jempol.
"Nah, jadi sekarang apa?" Tanya nya pada diri sendiri.
"Aku akan punya banyak waktu sekarang." Dia meraih buku hitam yang ada di samping tempat tidurnya. "Terutama dengan buku ini."
16 Maret 2013
Dia masih disana. Dengan manik hijaunya yang tidak pindah dari wajahku. Entah berapa lama dia memperhatikanku seperti ini. Kalau aku boleh menebak, tatapannya lebih kepada menerka dan mencari tahu. Entah tentang apa. Tapi kalau boleh jujur, aku memang terganggu.
"Ah maaf. Kau ternyata sadar aku perhatikan ya?"
"Bagaimana tidak. Carmu melihat saja sudah mengganggu." Ujarku tak tahan dengan senyumnya yang terus merekah.
"Hahaha. Aku hanya bingung, bagaimana anak seumur jagung seperti mu punya daya fikir yang lumayan. Yah aku bilang lumayan sudah suatu kebanggan harusnya untukmu."
"Tidak tau." Kataku tak acuh.
"Selain rubik, sudoku dan teka teki, juga 'keadilan'." Dia mengacungkan dua jarinya kearah kepala membentuk tanda petik saat mengucapkan keadilan. "Apalagi yang membuatmu tertarik?"
Aku diam. Seraya berfikir lagi. Apa selain yang disebutkan Olive tadi yang membuatku tertarik? Tapi baru saja aku sadar, bagaimana dia tau aku sangat sensitif soal keadilan?
"Tau dari mana tentang keadilan?" Tanyaku seraya meliriknya tipis.
"Oh itu." Katanya. "Mudah saja, kau selalu katakan, agar adil, iya itu adil, tidak bisa, itu tidak adil. Dan sebagainya. Itu salah satu kata yang paling sering kau ucapkan. Jadi.aku mulai berfikir kalau kau adalah seorang yang menjunjung tinggi keadilan."