Bab 5
"Bagaimana, sudah puas berkeliling?" Suara parau nenek Diras terdengar diambang pintu. Diras tergagap Seketika.
"Oh,i,iya nek banyak barang kakek disini. Ta,tapi aku belum puas. Ia belum." Ujarnya seraya langsung menutup dan menduduki buku harian milik kakeknya, sebelum sempat terlihat.
"Kita teruskan besok saja. Kau sudah 3 jam disini. Ini juga waktunya makan malam."
"Tapi.."
"Ibu dan ayahmu sudah menunggu diluar. Lagian kan' kau akan punya banyak waktu nantinya." Ujar neneknya dengan memotong. Lalu tersenyum lembut.
"Oke 5 menit."
"Baiklah 5 menit kami tunggu diluar."
Diras mengangguk mantap lalu menatap punggung neneknya yang mulai menghilang di sela ruangan.
"Hampir hampir." Ujarnya dengan mengambil buku tadi. Secara perlahan ia meletakannya lagi ditempat awal ia menemukannya.
Malam itu kota mereka dibungkus derasnya hujan. Diras yang datang langsung disuguhkan aroma khas masakan sang nenek. Lalu dengan tenang dia mengambil kursi dan duduk disamping ayahnya.
"Ini cobalah." Kata nenek "Dulu kakekmu suka sekali dibuatkan sup seperti ini." Neneknya menuangkan sup yang masih mengepul.
Diras hanya balas tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan sekolahnya kalau kalian pindah?" Tanya neneknya lagi kepada ayah dan ibu Diras.
"Kami sudah memikirkan hal itu. Diras akan pindah. Lagipula dia tidak terlalu betah di SMA yang sekarang ma."
"Oh benar juga. Kalau tidak pindah, pasti akan makan waktu lama di perjalanannya"
"Iya, pokonya mama tenang saja." Kali ini ayah Diras yang menjawab.
"Untung kau dapat turunan otak dari kakekmu. Kau cardas, nenek yakin kau akan terbiasa disini. Pelajarannya juga bukan masalah untukmu." Jemari neneknya menyentuh tangan Diras dengan lembut
'Nenek selalu ceria,walaupun habis dilanda duka. Dan didekatnya tetap terasa hangat.' Pikir Diras dengan membalasnya dengan sentuhan lembut.
"Bu, aku tidur dengan nenek ya malam ini. Boleh kan' ?"
"Iya temani nenek mu saja. Besok juga masih libur. Besok lusanya baru kita urus sekolahmu. Boleh kan yah?"
"Iya tentu saja. Tapi awasi ya ma, biasanya tengah malam dia terbangun lagi, dan tidak tidur sampai pagi." Kata ayahnya dengan melirik nakal kearah Diras.
"Haha dia memang nokturnal!" Sergah ibunya. Dan seketika ruang makan menggema karna suara tawa mereka yang terbias oleh hujan. Hujan deras di kota bandung. Hujan dikota penuh cerita mereka.
"Aneh ya, yang itu juga persis seperti kakeknya."
***
Diras bangkit dan duduk ditepian tempat tidur. Ia melirik jam yang saat itu menunjukan pukul satu malam. Dia berdiri dengan malas dan pergi kekamar mandi. Sedetik kemudian. Gadis itu sudah berada di depan ruang kerja kakeknya. Antara ragu ingin kembali tidur atau meneruskan cerita kakek yang sempat terpotong tadi siang. Dengan berjinjit ia mengintip wajah neneknya dari kejauhan.
'Pulas! Oke.'
Dia sudah didalam. Mencoba sepelan mungkin membuka tutup triplek yang ada di bawah meja yang tentunya bukan hal sulit buat Diras. Dan selanjutnya ia sudah terbenam lagi didalam kursi putar dan sebuah buku harian tua ditangannya.
***
15 Maret 2013
Sudah hari ke-7 sejak aku mengenal dunia baru itu. Seru! sama tertantangnya dengan main rubik. Bedanya sekarang aku berinteraksi dengan makhluk hidup dan bukan benda mati. Tau kan maksudku? Rubik itu cantik, indah, tapi sayang tak bisa jawab jika aku tanya.
"Apa jalanku benar?" Ya tentu saja. Mereka kan tidak bernyawa. Lagipula aku jarang sekali menemukan kesulitan ketika bermain rubik. Tapi ini, ini berbeda. Aku seperti melihat isi kepala mereka, cara mereka berimajinasi, dan cara mereka mengekspresikan imajinasi mereka masing masing. Menantang? tentu saja. Oleh karna itu dunia ini punya tingkat kesulitannya sendiri. Jika kau bingung siapa yang aku sebut mereka, bayangkan saja sedang berkumpul dengan sekelompok orang yang memiliki pemikiran hebat tentang kriminalitas. Tau maksudku kan'? Bukan polisi tentu saja. Bahkan aku rasa mereka hanya orang biasa seperti ku yang memandang kriminal sebagai suatu hobi yang perlu dihargai. Bukan dari segi pemahaman secara harafiah tentang arti kriminalitas itu sendiri, melainkan tentang, bagaimana cara mereka menuangkan pandangan, pemikiran, dan imajinasi mereka sendiri pada sebuah karya. Karya yang cukup menarik dan patut diberi apresiasi sederhana. Cerita, lebih umum dibilang seperti itu. Dan lebih personal lagi dengan sebutan kasus untuk kami, para pencinta ceritanya.
Kami saling berbagi cerita misteri sampai kriminal yang didalamnya ada sebuah kasus yang harus di pecahkan oleh masing masing anggota. Dengan cara itulah kami menghargai karya sekaligus memainkan hobi secara bersamaan. Aku akan sebut itu sebagai apresiasi sederhana dariku. Memang belum terlalu dalam mengenal dunia D ini, tapi ternyata Adisti benar, aku menyukainya.
Mungkin di beberapa waktu senggang, maksudku aku selalu punya waktu senggang tentu saja, aku bisa memainkannya. Dan ini, memang bisa disebut perubahan kecil yang besar. Bukan hanya satu atau dua hal dan pengalaman baru yang aku dapat disana. Kau tak akan percaya, itu banyak sekali!
Dunia D sendiri adalah singkatan untuk Dunia Detektif. Pasti yang ada dipikiran orang yang pertama kali mendengar sebutan ini adalah, kami hanya sekumpulan orang yang terlalu banyak waktu luang sehingga mau maunya mengerjakan hal yang mungkin kurang penting,kurang penting menurut mereka ya. Tapi mungkin juga punya pikiran lain. Entahlah, karna sejauh ini orang rumah tidak ada yang tau tentang kegiatan baruku ini, selain Bu Rina tentunya.
"Benarkah? Berhasil?" Tanyanya siang itu saat aku selesai bercerita tentang kasus yang baru saja berhasil aku pecahkan. Lalu aku menjawabnya dengan mata masih menatap benda cantik ini.
"Berhasil."
"lalu kalau kau berhasil memecahkan ceritanya dapat apa?"
"Ya.. tidak ada,hanya kepuasan."
"Seru kah?" Matanya menjejaliku
"Seru sekali."
"ah iya,pasti cerita seperti itu bukan hal sulit buatmu." Katanya ringan,lalu tersenyum geli.
"Tidak juga, kadang aku agak kesulitan dengan cerita yang berhubungan dengan kode." Ujarku dengan tersenyum. Dan lucunya Bu Rina cuma menatapku bingung. Kau tahu, tatapan seperti-yah susah kujelaskan pokonya. Menggelikan. Biasanya dia menjadi ibu serba tahu. Kau tau kan'? Dan sekarang aku yang banyak menjelaskan sesuatu padanya. Kami bertukar posisi pada konteks tertentu. Maksudku, sekarang bisa kau banyangkan bagaimana menggelikannya wajahku ketika dia menjelaskan berbagai hal sebelum ini? Tidak, tentu tidak. Aku bukan orang yang dapat memberikan ekspresi drastis, ingat? Seperti biasa, hanya tampamg konyol mungkin-yah seperti itulah. Dan sampai aku terangkan kepadanya akhirnya ia mengatakan kata - kata lazim yang biasa kuucapkan.
"Oh itu kode sungguhan ya?" Tanyanya dengan menggaruk kepala yang belum tentu gatal setelah aku terangkan.
"Memangnya ada kode kode palsu?" Tanyaku. Lalu seketika tawanya pecah.
"Benar juga. Aduh bodoh juga Ibu ini."
Aku balas dengan senyuman. Dan rubik ku sudah selesai tersusun saat itu. Aku diam dan Bu Rina hanya menatapku sesaat. Dia sepertinya menangkap maksudku.
"Sini ibu acak lagi."
Dan setelahnya, ia kembalikan.
"Terimakasih."
"Kau sudah jarang meminta rubik baru sekarang." Katanya dengan tersenyum lembut.
"Iya sedang main dengan yang lain kan'."
"Haha kau ini cepat sekali bosannya."
Aku hanya tersenyum.
Dia benar. Hanya penjara ini yang dapat membendung rasa bosanku untuk sementara. Tapi tunggu saja saat semua membludak. Oh apa tadi aku tulis penjara?maaf maksudku rumah.
"Coba Ibu mau lihat." Katanya lagi lalu berdeham sedikit.
"Lihat apa?"
"Contoh kasus yang berhasil kau pecahkan."
Aku diam sejenak. Sempat ragu,tapi akhirnya aku arahkan juga kursor kearah postingan tadi.
"Sebentar." Jawabku
Dia masih diam tapi alisnya berkerut statis. Matanya menyipit ketika melihat tulisannya.
"......"
"Orang ini typonya benar benar parah."
"Itu kode bu,bukan salah ketik." Kataku ringan.
"Ya ampun hahah, bodohnya aku. Padahal sudah di jelaskan tadi." Tawanya pecah.
Aku hanya balas tersenyum.
"Nah yang ini," katanya bagaimana cara menerjemahkannya. Apa tadi kau bilang istilahnya?des,deskriptif?"
"Deskripsi."
"Itu dia! Coba jelaskan ibu ingin lihat."
***
Makan malam kali ini mungkin jadi makan malam yang paling menegangkan yang pernah terjadi. Suram atau apaah itu istilahnya. Biar aku ceritakan kenapa.
Tadi siang, saat ayah pulang untuk istirahat makan siang, dia terlihat sangat tertekan. Ayah menjadi lebih tempramental. Entah karna apa. Padahal malam sebelumnya aku tidak mendengar secercah makian atau keributan apapun dari kamar mereka. Ibu bahkan kena bentak ayah siang tadi.
Mengangkan memang tapi untungnya aku tidak lihat keributannya. Kalau tanya kenapa, karna setiap kali ada keributan diantara mereka,pasti bu Rina sigap membawaku kedalam kamar. Tapi sungguh tak ada pengaruhnya. Karna aku tetap bisa dengar semua. Seperti kau berdiri didalam akuarium,terdengar jelas, sangat jelas. Jadi tidak ada bedanya mau aku lihat atau tidak. Tapi tentu saja aku hargai usaha Bu Rina. Itu sebabnya aku merasa dia seperti ibuku sendiri. Kalau aku boleh berpendapat, mereka sangat jarang sekali bertengkar. Hanya sesekali. Ini disebabkan karna sifat ayahku yang memang sedikit bijaksana. Tau lah, 'orang bijak sering menghindari pertengkaran'.
Itu katanya. Aku sering baca kalimat tadi dibeberapa buku.
Ah iya soal ayah dan ibu tadi siang. Aku rasa dimulai dari ayah yang terlihat membanting pintu saat keluar ruang kerjanya.
"Kau ini kenapa? pulang malah marah marah tidak jelas." Ujar ibu yang agak berteriak saat melihat ayah. Dan dari situ aku langsung dibawa masuk kekamar.
"Sudahlah kau bukannya membantu malah menambah masalah saja!" Itu kata ayah tidak sabar dan seperti memotong omelan ibu yang lain. Dan selebihnya pertengkaran yang lebih besar. Aku tidak akan tulis dengan detail. Karna aku tidak suka. Tapi yang pasti masalah itulah yang mendasari suasana tegang malam ini. Jika kau tanya kabar Olive, dia masih mengajar, bahkan ikut makan bersama kami siang tadi. Bingung juga ternyata dia bisa betah dirumah ini. Dan bingung lagi saat aku mulai bisa menerima keberadaannya sebagai salah satu bagian dari kami. Rasanya agak asing memang, tapi dia bisa diajak bermain sesekali. Dan itu yang membuatku mulai menerimanya. Orang orang tak terduga di keadaan yang tak terduga. Aku rasa mulai mengerti maksudnya.
Makan malam tadi, dari ayah maupun ibu, tidak mengucapkan sepatah katapun. Mereka makan dalam keheningan dan menghabiskannya. Lalu pergi untuk mengurus urusan masing masing. Aku? Kalau aku terbiasa sendiri. Lagipula sudah ada dunia baruku. Jadi rasanya tidak terlalu memikirkan masalah tadi. Biarlah,itu urusan mereka. Biar mereka selesaikan. Lagipula aku bisa apa? Nah!
"Rey.." suara Bu Rina yang disusul terbukanya pintu kamar. Dia membawa nampan dan segelas susu diatasnya
"Masih bermain komputer ya?" Tanyanya. "jangan tidur malam malam. Nanti kalau ayahmu tau, pasti keadaanya malah tambah buruk." Lalu memberikan gelas tadi.
"Ia bu."
"Nanti dilanjut besok saja. Sekarang kau langsung tidur ya."
"Sebentar lagi. Satu kasus lagi."
Dia hanya mendesah. Tiba tiba pesan dari Adisti masuk dan aku cepat cepat mengganti tampilan layar.
"Siapa itu? Apa teman yang pernah kau ceritakan?" Tanyanya. Mungkin tadi sempat melihat namanya sekilas.
"Iya."
"Oh."
Aku ingat pernah cerita tentang gadis itu sekilas. Mungkin Bu Rina masih ingat.
"Kalau teman mu yang lain?"
"Ya banyak." Jawabku singkat.
"Ceritakan."
Aku masih diam menatap layar.
"Ayolah coba ceritakan." Ujarnya lagi.
"Iya aku bertemu banyak orang."
"Iya,lalu?"
"Seperti dia." Aku menunjuk salah satu nama disana.
"Dia hebat di kasus kasus yang berhubungan dengan forensik. Kalau yang ini, aku rasa umur kami tidak terpaut jauh tapi kemampuan codingnya luar biasa. Sama dengan orang yang punya nama panjang yang ini mereka sama luar biasanya,bedanya orang ini punya cara sendiri untuk berinteraksi." Ujarku seraya menunjuk dua nama yang berbeda.
"Cara sendiri bagaimana?"
"Ya agak aneh. Terkesan melantur seperti itu lah."
"Oh begitu. Oh kalau dia?" Tunjuk Bu Rina
"Kalau dia punya kelebihan di kasus kasus yang berhubungan dengan kronologi. Cerita panjang dan sejenisnya."
"Oh kalian punya kelebihan ditipe kasus masing masing ya."
"Iya seperti itu."
"Kalau kau sendiri, bagaimana?"
"Aku?"
Dia mengangguk. Tapi aku tak langsung menjawabnya. Bingung harus bilang apa.
"aku... aku tidak tau."
Dan Bu Rina hanya balas tertawa.
Aku jadi ingat percakapan Adisti tentang kelebihanku di tipe kasus tertentu.
'Rupanya merendah. Kau bahkan bisa melahap semua kasus.' Ujarnya suatu malam.
'Tidak juga.'
'Iya! Aku kadang bingung dimana sebenarnya kau berdiri. Maksudku, kasus kode, kronologi,sampai forensik,logic,bahkan riddle, bisa kau pecahkan semua. Haha.'
'Itu berlebihan.'
'Tidak sama sekali Rey."
Maka dari itu aku sendiri tidak tau. Tapi jika ditanya kasus yang tidak terlalu aku suka, mungkin aku akan jawab kasus riddle. Selebihnya, masih ada rasa penasaran untuk memecahkannya jika belum dipecahkan.
***
'Rey, kau ingat kasus yang dibuat yunus kemarin?'
'Iya,kenapa?.'
'Aku masih penasaran caramu memecahkannya. Kau hanya menjawab langsung. Tanpa ada penjelasan. Tau tidak, 2 jam aku ulik kasus kemari,dan masih bingung caranya. Bisa gila aku!"
'Mungkin sulit karna bercampur riddle'
'Aku tau, tapi ya tuhan!aku masih tidak mengerti.'
Aku tertawa sedikit,serius hanya sedikit karna pasti akan terdengar sampai luar kalau terlalu banyak. Tau tidak?itu jam 1 malam. Untungnya besok hari minggu, yang katanya jadi hari libur untuk remaja normal. Jadi bisa sampai malam ngobrol demgan gadis ini. Kalau buat ku,tiap hari sih tidak ada bedanya.
'Begini dis.....' jelasku panjang lebar.
'Ya ampun kenapa rasanya gampang sekali jika kau yang menjelaskan.'
'Kau hanya perlu tahu polanya.'
'Pola,pola,pola apaa! haha- aku cari itu sudah 2 jam lebih rey. Memalukan sekali rasanya.dan ah iya sekarang aku mengerti. Haha terimakasih, terimakasih!'
'Tidak. Aku yang terimakasih.'
'Maksudnya?untuk apa?'
'Karna sudah dikenalkan.'
'Haha rey rey kau gila!kau gila!kau gila!- dasar anak aneh yang genius!'
Aku jadi ingat tentang tanggalan. Dari tadi sepertinya aku meloncat cerita terus menerus, malklum sudah tujuh hari tidak menulis dibuku ini karna terlalu seru bermain. Jadi banyak yang inginAku ceritakan. Ah iya kembali ketanggalan. Pernah suatu malam, jum'at malam tepatnya. Aku sedang bicara dengan Adisti soal hari.
'Benarkah?kenapa jum'at?' Tanyaku,sebab dia bilang paling semangat kalau sudah hari jum'at.
'Alasan pertama karna,emm karna jum'at itu hari yang diberkahi. Lalu..'
'Lalu?'
'Lalu karna dekat dengan hari liburrr! Haha.' Sabtu dan minggu mungkin maksudnya.
'Kalau kau paling semangat hari apa?' Lanjutnya,
Jika diriku sendiri yang bertanya hari apa saja, belum tentu terjawab. Apalagi orang lain. Tapi sekarang aku punya jawabannya.
'Aku rasa mulai saat ini, aku akan suka hari jum'at.'
'Hahaha itu kan' hari kesukaanku! Dasar.'
Dan tau tidak? Besoknya aku di tegur Bu Rina saat sarapan.
"Itu kau yang coret coret tanggalan?"
"Iya."
"Masa semua hari kau namai hari Jum'at rey! Ada ada saja. Haha"
"Aku suka Jum'at."
"Hahaha"
Iya pagi pagi kena tegur karna aku mengganti nama semua hari menjadi "Friday" dengan mencoret nama hari yang aslinya dengan pulpen. Mana aku pikirkan pentingnya apa.hanya sebuah nama kan'? Semua hari sama. Dan aku suka hari Jum'at.
Lalu akibat dari perbuatanku tadi, Bu Rina harus mengganti tanggalan yang katanya didapat dari tetangga sebelah dengan tanggalan bergambar laki laki berkumis dan berjas hitam bertuliskan "No 09" saat aku tanya siapa dia.
"Caleg!" Jawabannya hanya itu. Sambil terbahak pula. Ah lupakan saja. Kenal juga tidak. Dan satu yang buat menarik hanya kumisnya. Dan aku serius!
***
16 Maret 2013
Siang tadi ada yang menarik. Bukan soal orang tuaku atau penghuni lainnya. Ini tentang sebuah kasus yang berhasil aku pecahkan. Biar aku tulis detail singkat soal kasus itu.
"...."
Ini semakin menarik ketika opini teman teman lain yang berusaha menjawab meleset begitu saja. Termasuk di jawaban ku dan Adisti. Menarik memang, tapi sayangnya, sang pembuat tak ingin memberikan jawaban aslinya hari itu. Entah karna apa. Tapi ketika dia menunjukannya, aku janji akan ku tulis disini. Karna itu salah satu kasus yang harus disimpan.
Bahkan malam semakin meninggi,tapi kami masih saja asik berbicara tentang detail case tadi. Maksudku kami adalah Aku dan Adisti. Kau tau?itu bukan hal yang aneh dengan jam yang menunjukan pukul lewat tengah malam, tapi kami masih saja semangat membalas pesan satu sama lain. Aku tak akan tulis secara keseluruhan apa yang kami bahas. Memang sepertinya tak perlu. Kecuali 5 - 6 percakapan ini.
"Iya," ujarku. "Kita bahkan masih meleset soal musuhnya."
"Haha benar rey, tapi besok pasti kasusnya akan terjawab."
'Benarkah? Kau sudah punya jawabannya kah?'
'Kau kan sudah punya!'
'Maksudmu?'
'Sudahlan lupakan. Hey bicara soal musuh. Apa kau punya musuh?'
'Musuh?aku tak punya seorangpun musuh.' Kataku. 'Tunggu. Aku rasa punya seorang,' balasku.
'Itu diriku sendiri'.
***