iras
Minggu, 29 November 2015
Angin Hujan Di Bulan Juni
Layaknya jam angin yang mengalun dan beralun indah
Bahkan matamu tetap tak singgah selain dimanik coklatnya
Ini bukannya nyata yang lumrah
Tapi tentang derit rindu yang menghujam bagai mesiu
Dikala waktu senggangmu
Dan kau tak pernah ingin dilihat dunia
Karna mereka belum tentu mengerti
Tentang sakit, tangis, tawa, bahkan nestapa
Yang coba dipatri olehnya, dihatimu
Tapi saynagnya dia juga tak pernah merasa ditunggu
Bahkan ketika sisa malammu, dihabiskan simpuh
lalu berbincang dengan sang pencipta
Dia akan tetap riang disana
Dan masih kau coba tanya kenapa?
Karna selaju dan sewaktunya semesta, kalian memang berbeda
Lalu jika mereka tanya lagi dengan Reduplikasi
Persetan!!!
Kau hanya berlalu dengan kata singkat ini
Kau bungkam karna bukan jarak yang jadi penghalang
Tapi ini, soal hati yang tak mau dibagi
Dan beranikah kau katakan padanya
Wahai tubuh berjiwa!
Dia bukan purnama di dua puluh lima
Bukan bunga dimusim semi
Bukan mimpi diruang imaji
Tapi, dia, ya, dia
Adalah angin hujan dibulan Juni
25 Maret 2015
Di tempat yang seharusnya aku ditempatkan
Senin, 03 Agustus 2015
Lanjutan ptw
Dengan sebelumnya tersenyum penuh arti kearah neneknya.
***
"Baiklah, cukup." Ujar Ibu Diras. "Kau dorong saja ke sana. Dan ambil lagi sisanya."
Diras mengangguk. Dan tiba tiba dari arah gerbang.
"Ibu! Ini yang terakhir?"
"Sudah kau coba cari?!"
Diras mengitari bagasi mobilnya dan kembali kedalam rumah.
"Aku rasa iya." Katanya dengan meletakan kardus besar yang ia bawa disamping ibunya.
"Sekarang kau bawa barang barangmu kekamar. Nanti nenek bantu merapihkan." Ujar nenek yang baru saja bergabung bersama mereka.
"Biar saja,ma. Biar mandiri."
"Ibu.." Senggol Diras. Yang dibalas senyuman geli oleh ibu Diras.
"Nenek ingin cari kesibukan." Ujarnya. "Jadi biarkan bantu bantu ya."
"Ya asal nenek jangan angkat yang berat berat saja." Ibu balas dengan tersenyum.
"Jadi pilih kamar yang mana kau Diras?" Tanya nenek yang disambut tatapan bingung oleh Diras.
"Jadi ini aku yang pilih ya."
***
"Memangnya kenapa dengan kamar yang lain?"
"Ayah, kan' tau dari dulu aku dekatnya dengan siapa.."
"Ayahmu." Ayahnya memotong.
"Bukan. Maksudku," Diras menghela nafas. "Ayah, maksudku bayangkan kalau tiap malam, ah bukan, tiap tengah malam nenek terbangun. Dan bayangkan tidak ada siapapun disini. Apa ayah tega?" Ujar Diras yang terengah menggeser tempat tidur yang ia tempatkan dibawah jendela. Ayahnya membantu disisi yang berbeda. Tapi tiba tiba dia bangkit dan menatap Diras aneh.
"Itu bukan kau." Ayah Diras melipat tangannya. Diras serta merta bingung dan sewaktu kemudian dia tertawa terbahak bahak. Ayahnya yang bingung pun, hanya bisa menggeleng dan kembali menggeser sisi tempat tidur yang satunya.
"Ayah, itu yang namanya pendewasaan." Balasnya.
"Bukan, maksud ayah, hanya tidak terdengar seperti mu. Seperti bukan Diras, kalau kau yang berbicara."
"Perasaan ayah saja."
"Ah terserah kau. Nah jangan banyak yang dirubah dekorasi kamarnya ya. Dan selain barangmu yang baru, apa ada yang ingin kau buang dari sini?"
"Jangan. Jangan digeser sedikit pun." Diras menyergah ayahnya. Lalu dia menyapu pandangan keruangan tua itu dengan berkacak pinggang. "Biarkan saja tetap seperti ini." Senyumnya puas.
"Yah terserah saja."
"Mungkin warna catnya akan kuubah." Ujar Diras. "Bolehkan yah?"
"Ijin nenek mu dulu."
"Itu gampang."
"Ya kalau tidak ada yang berat berat lagi," ayahnya berjalan kearah pintu. "Kau saja yang teruskan."
"Tenang saja. Terimakasih yah."
Dan ayahnya hanya membalas dengan isyarat jempol.
"Nah, jadi sekarang apa?" Tanya nya pada diri sendiri.
"Aku akan punya banyak waktu sekarang." Dia meraih buku hitam yang ada di samping tempat tidurnya. "Terutama dengan buku ini."
16 Maret 2013
Dia masih disana. Dengan manik hijaunya yang tidak pindah dari wajahku. Entah berapa lama dia memperhatikanku seperti ini. Kalau aku boleh menebak, tatapannya lebih kepada menerka dan mencari tahu. Entah tentang apa. Tapi kalau boleh jujur, aku memang terganggu.
"Ah maaf. Kau ternyata sadar aku perhatikan ya?"
"Bagaimana tidak. Carmu melihat saja sudah mengganggu." Ujarku tak tahan dengan senyumnya yang terus merekah.
"Hahaha. Aku hanya bingung, bagaimana anak seumur jagung seperti mu punya daya fikir yang lumayan. Yah aku bilang lumayan sudah suatu kebanggan harusnya untukmu."
"Tidak tau." Kataku tak acuh.
"Selain rubik, sudoku dan teka teki, juga 'keadilan'." Dia mengacungkan dua jarinya kearah kepala membentuk tanda petik saat mengucapkan keadilan. "Apalagi yang membuatmu tertarik?"
Aku diam. Seraya berfikir lagi. Apa selain yang disebutkan Olive tadi yang membuatku tertarik? Tapi baru saja aku sadar, bagaimana dia tau aku sangat sensitif soal keadilan?
"Tau dari mana tentang keadilan?" Tanyaku seraya meliriknya tipis.
"Oh itu." Katanya. "Mudah saja, kau selalu katakan, agar adil, iya itu adil, tidak bisa, itu tidak adil. Dan sebagainya. Itu salah satu kata yang paling sering kau ucapkan. Jadi.aku mulai berfikir kalau kau adalah seorang yang menjunjung tinggi keadilan."
Lanjutan ptw
Dengan sebelumnya tersenyum penuh arti kearah neneknya.
***
"Baiklah, cukup." Ujar Ibu Diras. "Kau dorong saja ke sana. Dan ambil lagi sisanya."
Diras mengangguk. Dan tiba tiba dari arah gerbang.
"Ibu! Ini yang terakhir?"
"Sudah kau coba cari?!"
Diras mengitari bagasi mobilnya dan kembali kedalam rumah.
"Aku rasa iya." Katanya dengan meletakan kardus besar yang ia bawa disamping ibunya.
"Sekarang kau bawa barang barangmu kekamar. Nanti nenek bantu merapihkan." Ujar nenek yang baru saja bergabung bersama mereka.
"Biar saja,ma. Biar mandiri."
"Ibu.." Senggol Diras. Yang dibalas senyuman geli oleh ibu Diras.
"Nenek ingin cari kesibukan." Ujarnya. "Jadi biarkan bantu bantu ya."
"Ya asal nenek jangan angkat yang berat berat saja." Ibu balas dengan tersenyum.
"Jadi pilih kamar yang mana kau Diras?" Tanya nenek yang disambut tatapan bingung oleh Diras.
"Jadi ini aku yang pilih ya."
***
"Memangnya kenapa dengan kamar yang lain?"
"Ayah, kan' tau dari dulu aku dekatnya dengan siapa.."
"Ayahmu." Ayahnya memotong.
"Bukan. Maksudku," Diras menghela nafas. "Ayah, maksudku bayangkan kalau tiap malam, ah bukan, tiap tengah malam nenek terbangun. Dan bayangkan tidak ada siapapun disini. Apa ayah tega?" Ujar Diras yang terengah menggeser tempat tidur yang ia tempatkan dibawah jendela. Ayahnya membantu disisi yang berbeda. Tapi tiba tiba dia bangkit dan menatap Diras aneh.
"Itu bukan kau." Ayah Diras melipat tangannya. Diras serta merta bingung dan sewaktu kemudian dia tertawa terbahak bahak. Ayahnya yang bingung pun, hanya bisa menggeleng dan kembali menggeser sisi tempat tidur yang satunya.
"Ayah, itu yang namanya pendewasaan." Balasnya.
"Bukan, maksud ayah, hanya tidak terdengar seperti mu. Seperti bukan Diras, kalau kau yang berbicara."
"Perasaan ayah saja."
"Ah terserah kau. Nah jangan banyak yang dirubah dekorasi kamarnya ya. Dan selain barangmu yang baru, apa ada yang ingin kau buang dari sini?"
"Jangan. Jangan digeser sedikit pun." Diras menyergah ayahnya. Lalu dia menyapu pandangan keruangan tua itu dengan berkacak pinggang. "Biarkan saja tetap seperti ini." Senyumnya puas.
"Yah terserah saja."
"Mungkin warna catnya akan kuubah." Ujar Diras. "Bolehkan yah?"
"Ijin nenek mu dulu."
"Itu gampang."
"Ya kalau tidak ada yang berat berat lagi," ayahnya berjalan kearah pintu. "Kau saja yang teruskan."
"Tenang saja. Terimakasih yah."
Dan ayahnya hanya membalas dengan isyarat jempol.
"Nah, jadi sekarang apa?" Tanya nya pada diri sendiri.
"Aku akan punya banyak waktu sekarang." Dia meraih buku hitam yang ada di samping tempat tidurnya. "Terutama dengan buku ini."
16 Maret 2013
Dia masih disana. Dengan manik hijaunya yang tidak pindah dari wajahku. Entah berapa lama dia memperhatikanku seperti ini. Kalau aku boleh menebak, tatapannya lebih kepada menerka dan mencari tahu. Entah tentang apa. Tapi kalau boleh jujur, aku memang terganggu.
"Ah maaf. Kau ternyata sadar aku perhatikan ya?"
"Bagaimana tidak. Carmu melihat saja sudah mengganggu." Ujarku tak tahan dengan senyumnya yang terus merekah.
"Hahaha. Aku hanya bingung, bagaimana anak seumur jagung seperti mu punya daya fikir yang lumayan. Yah aku bilang lumayan sudah suatu kebanggan harusnya untukmu."
"Tidak tau." Kataku tak acuh.
"Selain rubik, sudoku dan teka teki, juga 'keadilan'." Dia mengacungkan dua jarinya kearah kepala membentuk tanda petik saat mengucapkan keadilan. "Apalagi yang membuatmu tertarik?"
Aku diam. Seraya berfikir lagi. Apa selain yang disebutkan Olive tadi yang membuatku tertarik? Tapi baru saja aku sadar, bagaimana dia tau aku sangat sensitif soal keadilan?
"Tau dari mana tentang keadilan?" Tanyaku seraya meliriknya tipis.
"Oh itu." Katanya. "Mudah saja, kau selalu katakan, agar adil, iya itu adil, tidak bisa, itu tidak adil. Dan sebagainya. Itu salah satu kata yang paling sering kau ucapkan. Jadi.aku mulai berfikir kalau kau adalah seorang yang menjunjung tinggi keadilan."
Kamis, 09 April 2015
Ptw bab 5
Bab 5
"Bagaimana, sudah puas berkeliling?" Suara parau nenek Diras terdengar diambang pintu. Diras tergagap Seketika.
"Oh,i,iya nek banyak barang kakek disini. Ta,tapi aku belum puas. Ia belum." Ujarnya seraya langsung menutup dan menduduki buku harian milik kakeknya, sebelum sempat terlihat.
"Kita teruskan besok saja. Kau sudah 3 jam disini. Ini juga waktunya makan malam."
"Tapi.."
"Ibu dan ayahmu sudah menunggu diluar. Lagian kan' kau akan punya banyak waktu nantinya." Ujar neneknya dengan memotong. Lalu tersenyum lembut.
"Oke 5 menit."
"Baiklah 5 menit kami tunggu diluar."
Diras mengangguk mantap lalu menatap punggung neneknya yang mulai menghilang di sela ruangan.
"Hampir hampir." Ujarnya dengan mengambil buku tadi. Secara perlahan ia meletakannya lagi ditempat awal ia menemukannya.
Malam itu kota mereka dibungkus derasnya hujan. Diras yang datang langsung disuguhkan aroma khas masakan sang nenek. Lalu dengan tenang dia mengambil kursi dan duduk disamping ayahnya.
"Ini cobalah." Kata nenek "Dulu kakekmu suka sekali dibuatkan sup seperti ini." Neneknya menuangkan sup yang masih mengepul.
Diras hanya balas tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan sekolahnya kalau kalian pindah?" Tanya neneknya lagi kepada ayah dan ibu Diras.
"Kami sudah memikirkan hal itu. Diras akan pindah. Lagipula dia tidak terlalu betah di SMA yang sekarang ma."
"Oh benar juga. Kalau tidak pindah, pasti akan makan waktu lama di perjalanannya"
"Iya, pokonya mama tenang saja." Kali ini ayah Diras yang menjawab.
"Untung kau dapat turunan otak dari kakekmu. Kau cardas, nenek yakin kau akan terbiasa disini. Pelajarannya juga bukan masalah untukmu." Jemari neneknya menyentuh tangan Diras dengan lembut
'Nenek selalu ceria,walaupun habis dilanda duka. Dan didekatnya tetap terasa hangat.' Pikir Diras dengan membalasnya dengan sentuhan lembut.
"Bu, aku tidur dengan nenek ya malam ini. Boleh kan' ?"
"Iya temani nenek mu saja. Besok juga masih libur. Besok lusanya baru kita urus sekolahmu. Boleh kan yah?"
"Iya tentu saja. Tapi awasi ya ma, biasanya tengah malam dia terbangun lagi, dan tidak tidur sampai pagi." Kata ayahnya dengan melirik nakal kearah Diras.
"Haha dia memang nokturnal!" Sergah ibunya. Dan seketika ruang makan menggema karna suara tawa mereka yang terbias oleh hujan. Hujan deras di kota bandung. Hujan dikota penuh cerita mereka.
"Aneh ya, yang itu juga persis seperti kakeknya."
***
Diras bangkit dan duduk ditepian tempat tidur. Ia melirik jam yang saat itu menunjukan pukul satu malam. Dia berdiri dengan malas dan pergi kekamar mandi. Sedetik kemudian. Gadis itu sudah berada di depan ruang kerja kakeknya. Antara ragu ingin kembali tidur atau meneruskan cerita kakek yang sempat terpotong tadi siang. Dengan berjinjit ia mengintip wajah neneknya dari kejauhan.
'Pulas! Oke.'
Dia sudah didalam. Mencoba sepelan mungkin membuka tutup triplek yang ada di bawah meja yang tentunya bukan hal sulit buat Diras. Dan selanjutnya ia sudah terbenam lagi didalam kursi putar dan sebuah buku harian tua ditangannya.
***
15 Maret 2013
Sudah hari ke-7 sejak aku mengenal dunia baru itu. Seru! sama tertantangnya dengan main rubik. Bedanya sekarang aku berinteraksi dengan makhluk hidup dan bukan benda mati. Tau kan maksudku? Rubik itu cantik, indah, tapi sayang tak bisa jawab jika aku tanya.
"Apa jalanku benar?" Ya tentu saja. Mereka kan tidak bernyawa. Lagipula aku jarang sekali menemukan kesulitan ketika bermain rubik. Tapi ini, ini berbeda. Aku seperti melihat isi kepala mereka, cara mereka berimajinasi, dan cara mereka mengekspresikan imajinasi mereka masing masing. Menantang? tentu saja. Oleh karna itu dunia ini punya tingkat kesulitannya sendiri. Jika kau bingung siapa yang aku sebut mereka, bayangkan saja sedang berkumpul dengan sekelompok orang yang memiliki pemikiran hebat tentang kriminalitas. Tau maksudku kan'? Bukan polisi tentu saja. Bahkan aku rasa mereka hanya orang biasa seperti ku yang memandang kriminal sebagai suatu hobi yang perlu dihargai. Bukan dari segi pemahaman secara harafiah tentang arti kriminalitas itu sendiri, melainkan tentang, bagaimana cara mereka menuangkan pandangan, pemikiran, dan imajinasi mereka sendiri pada sebuah karya. Karya yang cukup menarik dan patut diberi apresiasi sederhana. Cerita, lebih umum dibilang seperti itu. Dan lebih personal lagi dengan sebutan kasus untuk kami, para pencinta ceritanya.
Kami saling berbagi cerita misteri sampai kriminal yang didalamnya ada sebuah kasus yang harus di pecahkan oleh masing masing anggota. Dengan cara itulah kami menghargai karya sekaligus memainkan hobi secara bersamaan. Aku akan sebut itu sebagai apresiasi sederhana dariku. Memang belum terlalu dalam mengenal dunia D ini, tapi ternyata Adisti benar, aku menyukainya.
Mungkin di beberapa waktu senggang, maksudku aku selalu punya waktu senggang tentu saja, aku bisa memainkannya. Dan ini, memang bisa disebut perubahan kecil yang besar. Bukan hanya satu atau dua hal dan pengalaman baru yang aku dapat disana. Kau tak akan percaya, itu banyak sekali!
Dunia D sendiri adalah singkatan untuk Dunia Detektif. Pasti yang ada dipikiran orang yang pertama kali mendengar sebutan ini adalah, kami hanya sekumpulan orang yang terlalu banyak waktu luang sehingga mau maunya mengerjakan hal yang mungkin kurang penting,kurang penting menurut mereka ya. Tapi mungkin juga punya pikiran lain. Entahlah, karna sejauh ini orang rumah tidak ada yang tau tentang kegiatan baruku ini, selain Bu Rina tentunya.
"Benarkah? Berhasil?" Tanyanya siang itu saat aku selesai bercerita tentang kasus yang baru saja berhasil aku pecahkan. Lalu aku menjawabnya dengan mata masih menatap benda cantik ini.
"Berhasil."
"lalu kalau kau berhasil memecahkan ceritanya dapat apa?"
"Ya.. tidak ada,hanya kepuasan."
"Seru kah?" Matanya menjejaliku
"Seru sekali."
"ah iya,pasti cerita seperti itu bukan hal sulit buatmu." Katanya ringan,lalu tersenyum geli.
"Tidak juga, kadang aku agak kesulitan dengan cerita yang berhubungan dengan kode." Ujarku dengan tersenyum. Dan lucunya Bu Rina cuma menatapku bingung. Kau tahu, tatapan seperti-yah susah kujelaskan pokonya. Menggelikan. Biasanya dia menjadi ibu serba tahu. Kau tau kan'? Dan sekarang aku yang banyak menjelaskan sesuatu padanya. Kami bertukar posisi pada konteks tertentu. Maksudku, sekarang bisa kau banyangkan bagaimana menggelikannya wajahku ketika dia menjelaskan berbagai hal sebelum ini? Tidak, tentu tidak. Aku bukan orang yang dapat memberikan ekspresi drastis, ingat? Seperti biasa, hanya tampamg konyol mungkin-yah seperti itulah. Dan sampai aku terangkan kepadanya akhirnya ia mengatakan kata - kata lazim yang biasa kuucapkan.
"Oh itu kode sungguhan ya?" Tanyanya dengan menggaruk kepala yang belum tentu gatal setelah aku terangkan.
"Memangnya ada kode kode palsu?" Tanyaku. Lalu seketika tawanya pecah.
"Benar juga. Aduh bodoh juga Ibu ini."
Aku balas dengan senyuman. Dan rubik ku sudah selesai tersusun saat itu. Aku diam dan Bu Rina hanya menatapku sesaat. Dia sepertinya menangkap maksudku.
"Sini ibu acak lagi."
Dan setelahnya, ia kembalikan.
"Terimakasih."
"Kau sudah jarang meminta rubik baru sekarang." Katanya dengan tersenyum lembut.
"Iya sedang main dengan yang lain kan'."
"Haha kau ini cepat sekali bosannya."
Aku hanya tersenyum.
Dia benar. Hanya penjara ini yang dapat membendung rasa bosanku untuk sementara. Tapi tunggu saja saat semua membludak. Oh apa tadi aku tulis penjara?maaf maksudku rumah.
"Coba Ibu mau lihat." Katanya lagi lalu berdeham sedikit.
"Lihat apa?"
"Contoh kasus yang berhasil kau pecahkan."
Aku diam sejenak. Sempat ragu,tapi akhirnya aku arahkan juga kursor kearah postingan tadi.
"Sebentar." Jawabku
Dia masih diam tapi alisnya berkerut statis. Matanya menyipit ketika melihat tulisannya.
"......"
"Orang ini typonya benar benar parah."
"Itu kode bu,bukan salah ketik." Kataku ringan.
"Ya ampun hahah, bodohnya aku. Padahal sudah di jelaskan tadi." Tawanya pecah.
Aku hanya balas tersenyum.
"Nah yang ini," katanya bagaimana cara menerjemahkannya. Apa tadi kau bilang istilahnya?des,deskriptif?"
"Deskripsi."
"Itu dia! Coba jelaskan ibu ingin lihat."
***
Makan malam kali ini mungkin jadi makan malam yang paling menegangkan yang pernah terjadi. Suram atau apaah itu istilahnya. Biar aku ceritakan kenapa.
Tadi siang, saat ayah pulang untuk istirahat makan siang, dia terlihat sangat tertekan. Ayah menjadi lebih tempramental. Entah karna apa. Padahal malam sebelumnya aku tidak mendengar secercah makian atau keributan apapun dari kamar mereka. Ibu bahkan kena bentak ayah siang tadi.
Mengangkan memang tapi untungnya aku tidak lihat keributannya. Kalau tanya kenapa, karna setiap kali ada keributan diantara mereka,pasti bu Rina sigap membawaku kedalam kamar. Tapi sungguh tak ada pengaruhnya. Karna aku tetap bisa dengar semua. Seperti kau berdiri didalam akuarium,terdengar jelas, sangat jelas. Jadi tidak ada bedanya mau aku lihat atau tidak. Tapi tentu saja aku hargai usaha Bu Rina. Itu sebabnya aku merasa dia seperti ibuku sendiri. Kalau aku boleh berpendapat, mereka sangat jarang sekali bertengkar. Hanya sesekali. Ini disebabkan karna sifat ayahku yang memang sedikit bijaksana. Tau lah, 'orang bijak sering menghindari pertengkaran'.
Itu katanya. Aku sering baca kalimat tadi dibeberapa buku.
Ah iya soal ayah dan ibu tadi siang. Aku rasa dimulai dari ayah yang terlihat membanting pintu saat keluar ruang kerjanya.
"Kau ini kenapa? pulang malah marah marah tidak jelas." Ujar ibu yang agak berteriak saat melihat ayah. Dan dari situ aku langsung dibawa masuk kekamar.
"Sudahlah kau bukannya membantu malah menambah masalah saja!" Itu kata ayah tidak sabar dan seperti memotong omelan ibu yang lain. Dan selebihnya pertengkaran yang lebih besar. Aku tidak akan tulis dengan detail. Karna aku tidak suka. Tapi yang pasti masalah itulah yang mendasari suasana tegang malam ini. Jika kau tanya kabar Olive, dia masih mengajar, bahkan ikut makan bersama kami siang tadi. Bingung juga ternyata dia bisa betah dirumah ini. Dan bingung lagi saat aku mulai bisa menerima keberadaannya sebagai salah satu bagian dari kami. Rasanya agak asing memang, tapi dia bisa diajak bermain sesekali. Dan itu yang membuatku mulai menerimanya. Orang orang tak terduga di keadaan yang tak terduga. Aku rasa mulai mengerti maksudnya.
Makan malam tadi, dari ayah maupun ibu, tidak mengucapkan sepatah katapun. Mereka makan dalam keheningan dan menghabiskannya. Lalu pergi untuk mengurus urusan masing masing. Aku? Kalau aku terbiasa sendiri. Lagipula sudah ada dunia baruku. Jadi rasanya tidak terlalu memikirkan masalah tadi. Biarlah,itu urusan mereka. Biar mereka selesaikan. Lagipula aku bisa apa? Nah!
"Rey.." suara Bu Rina yang disusul terbukanya pintu kamar. Dia membawa nampan dan segelas susu diatasnya
"Masih bermain komputer ya?" Tanyanya. "jangan tidur malam malam. Nanti kalau ayahmu tau, pasti keadaanya malah tambah buruk." Lalu memberikan gelas tadi.
"Ia bu."
"Nanti dilanjut besok saja. Sekarang kau langsung tidur ya."
"Sebentar lagi. Satu kasus lagi."
Dia hanya mendesah. Tiba tiba pesan dari Adisti masuk dan aku cepat cepat mengganti tampilan layar.
"Siapa itu? Apa teman yang pernah kau ceritakan?" Tanyanya. Mungkin tadi sempat melihat namanya sekilas.
"Iya."
"Oh."
Aku ingat pernah cerita tentang gadis itu sekilas. Mungkin Bu Rina masih ingat.
"Kalau teman mu yang lain?"
"Ya banyak." Jawabku singkat.
"Ceritakan."
Aku masih diam menatap layar.
"Ayolah coba ceritakan." Ujarnya lagi.
"Iya aku bertemu banyak orang."
"Iya,lalu?"
"Seperti dia." Aku menunjuk salah satu nama disana.
"Dia hebat di kasus kasus yang berhubungan dengan forensik. Kalau yang ini, aku rasa umur kami tidak terpaut jauh tapi kemampuan codingnya luar biasa. Sama dengan orang yang punya nama panjang yang ini mereka sama luar biasanya,bedanya orang ini punya cara sendiri untuk berinteraksi." Ujarku seraya menunjuk dua nama yang berbeda.
"Cara sendiri bagaimana?"
"Ya agak aneh. Terkesan melantur seperti itu lah."
"Oh begitu. Oh kalau dia?" Tunjuk Bu Rina
"Kalau dia punya kelebihan di kasus kasus yang berhubungan dengan kronologi. Cerita panjang dan sejenisnya."
"Oh kalian punya kelebihan ditipe kasus masing masing ya."
"Iya seperti itu."
"Kalau kau sendiri, bagaimana?"
"Aku?"
Dia mengangguk. Tapi aku tak langsung menjawabnya. Bingung harus bilang apa.
"aku... aku tidak tau."
Dan Bu Rina hanya balas tertawa.
Aku jadi ingat percakapan Adisti tentang kelebihanku di tipe kasus tertentu.
'Rupanya merendah. Kau bahkan bisa melahap semua kasus.' Ujarnya suatu malam.
'Tidak juga.'
'Iya! Aku kadang bingung dimana sebenarnya kau berdiri. Maksudku, kasus kode, kronologi,sampai forensik,logic,bahkan riddle, bisa kau pecahkan semua. Haha.'
'Itu berlebihan.'
'Tidak sama sekali Rey."
Maka dari itu aku sendiri tidak tau. Tapi jika ditanya kasus yang tidak terlalu aku suka, mungkin aku akan jawab kasus riddle. Selebihnya, masih ada rasa penasaran untuk memecahkannya jika belum dipecahkan.
***
'Rey, kau ingat kasus yang dibuat yunus kemarin?'
'Iya,kenapa?.'
'Aku masih penasaran caramu memecahkannya. Kau hanya menjawab langsung. Tanpa ada penjelasan. Tau tidak, 2 jam aku ulik kasus kemari,dan masih bingung caranya. Bisa gila aku!"
'Mungkin sulit karna bercampur riddle'
'Aku tau, tapi ya tuhan!aku masih tidak mengerti.'
Aku tertawa sedikit,serius hanya sedikit karna pasti akan terdengar sampai luar kalau terlalu banyak. Tau tidak?itu jam 1 malam. Untungnya besok hari minggu, yang katanya jadi hari libur untuk remaja normal. Jadi bisa sampai malam ngobrol demgan gadis ini. Kalau buat ku,tiap hari sih tidak ada bedanya.
'Begini dis.....' jelasku panjang lebar.
'Ya ampun kenapa rasanya gampang sekali jika kau yang menjelaskan.'
'Kau hanya perlu tahu polanya.'
'Pola,pola,pola apaa! haha- aku cari itu sudah 2 jam lebih rey. Memalukan sekali rasanya.dan ah iya sekarang aku mengerti. Haha terimakasih, terimakasih!'
'Tidak. Aku yang terimakasih.'
'Maksudnya?untuk apa?'
'Karna sudah dikenalkan.'
'Haha rey rey kau gila!kau gila!kau gila!- dasar anak aneh yang genius!'
Aku jadi ingat tentang tanggalan. Dari tadi sepertinya aku meloncat cerita terus menerus, malklum sudah tujuh hari tidak menulis dibuku ini karna terlalu seru bermain. Jadi banyak yang inginAku ceritakan. Ah iya kembali ketanggalan. Pernah suatu malam, jum'at malam tepatnya. Aku sedang bicara dengan Adisti soal hari.
'Benarkah?kenapa jum'at?' Tanyaku,sebab dia bilang paling semangat kalau sudah hari jum'at.
'Alasan pertama karna,emm karna jum'at itu hari yang diberkahi. Lalu..'
'Lalu?'
'Lalu karna dekat dengan hari liburrr! Haha.' Sabtu dan minggu mungkin maksudnya.
'Kalau kau paling semangat hari apa?' Lanjutnya,
Jika diriku sendiri yang bertanya hari apa saja, belum tentu terjawab. Apalagi orang lain. Tapi sekarang aku punya jawabannya.
'Aku rasa mulai saat ini, aku akan suka hari jum'at.'
'Hahaha itu kan' hari kesukaanku! Dasar.'
Dan tau tidak? Besoknya aku di tegur Bu Rina saat sarapan.
"Itu kau yang coret coret tanggalan?"
"Iya."
"Masa semua hari kau namai hari Jum'at rey! Ada ada saja. Haha"
"Aku suka Jum'at."
"Hahaha"
Iya pagi pagi kena tegur karna aku mengganti nama semua hari menjadi "Friday" dengan mencoret nama hari yang aslinya dengan pulpen. Mana aku pikirkan pentingnya apa.hanya sebuah nama kan'? Semua hari sama. Dan aku suka hari Jum'at.
Lalu akibat dari perbuatanku tadi, Bu Rina harus mengganti tanggalan yang katanya didapat dari tetangga sebelah dengan tanggalan bergambar laki laki berkumis dan berjas hitam bertuliskan "No 09" saat aku tanya siapa dia.
"Caleg!" Jawabannya hanya itu. Sambil terbahak pula. Ah lupakan saja. Kenal juga tidak. Dan satu yang buat menarik hanya kumisnya. Dan aku serius!
***
16 Maret 2013
Siang tadi ada yang menarik. Bukan soal orang tuaku atau penghuni lainnya. Ini tentang sebuah kasus yang berhasil aku pecahkan. Biar aku tulis detail singkat soal kasus itu.
"...."
Ini semakin menarik ketika opini teman teman lain yang berusaha menjawab meleset begitu saja. Termasuk di jawaban ku dan Adisti. Menarik memang, tapi sayangnya, sang pembuat tak ingin memberikan jawaban aslinya hari itu. Entah karna apa. Tapi ketika dia menunjukannya, aku janji akan ku tulis disini. Karna itu salah satu kasus yang harus disimpan.
Bahkan malam semakin meninggi,tapi kami masih saja asik berbicara tentang detail case tadi. Maksudku kami adalah Aku dan Adisti. Kau tau?itu bukan hal yang aneh dengan jam yang menunjukan pukul lewat tengah malam, tapi kami masih saja semangat membalas pesan satu sama lain. Aku tak akan tulis secara keseluruhan apa yang kami bahas. Memang sepertinya tak perlu. Kecuali 5 - 6 percakapan ini.
"Iya," ujarku. "Kita bahkan masih meleset soal musuhnya."
"Haha benar rey, tapi besok pasti kasusnya akan terjawab."
'Benarkah? Kau sudah punya jawabannya kah?'
'Kau kan sudah punya!'
'Maksudmu?'
'Sudahlan lupakan. Hey bicara soal musuh. Apa kau punya musuh?'
'Musuh?aku tak punya seorangpun musuh.' Kataku. 'Tunggu. Aku rasa punya seorang,' balasku.
'Itu diriku sendiri'.
***
Selasa, 24 Maret 2015
Bab 5
Bab 5
"Bagaimana, sudah puas berkeliling?" Suara parau nenek Diras terdengar diambang pintu. Diras tergagap Seketika.
"Oh,i,iya nek banyak barang kakek disini. Tapi aku belum puas." Ujarnya seraya langsung menutup dan menduduki buku harian milik kakeknya, sebelum sempat terlihat.
"Kita teruskan besok saja. Kau sudah 3 jam disini. Ini juga waktunya makan malam."
"Tapi.."
"Ibu dan ayahmu sudah menunggu diluar. Lagian kan' kau akan punya banyak waktu nantinya." Ujar neneknya dengan memotong. Lalu tersenyum lembut.
"Oke 5 menit."
"Baiklah 5 menit kami tunggu diluar."
Diras mengangguk mantap lalu menatap neneknya yang berlalu.
"Hampir hampir." Ujarnya dengan mengambil buku tadi secara perlahan, dan meletakannya lagi ditempat awal ia menemukannya.
Malam itu kota mereka dibungkus derasnya hujan. Diras datang dan langsung duduk disamping ayahnya.
"Ini cobalah. Dulu kakekmu suka sekali dibuatkan sup seperti ini." Neneknya menuangkan sup yang masih mengepul.
Diras hanya tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan sekolahnya kalau kalian pindah?" Tanya neneknya lagi kepada ayah dan ibu Diras.
"Kami sudah memikirkan hal itu. Diras akan pindah. Lagipula dia tidak terlalu betah di SMA yang sekarang ma."
"Oh benar juga. Kalau tidak pindah, pasti makan waktu lama di perjalanan saja."
"Iya, pokonya mama tenang saja." Kali ini ayah Diras yang berujar.
"Untung kau dapat turunan otak dari kakekmu. Kau cardas, nenek yakin kau akan terbiasa disini. Pelajarannya juga bukan masalah untukmu." Jemari neneknya menyentuh tangan Diras dengan lembut
'Nenek selalu ceria,walaupun habis dilanda duka. Dan didekatnya tetap terasa hangat.' Pikir Diras dengan membalas sentuhan lembut juga.
"Bu, aku tidur dengan nenek ya malam ini. Boleh kan' ?"
"Iya temani nenek mu saja. Besok juga masih libur. Besok lusanya baru kita urus sekolahmu. Boleh kan yah?"
"Iya tentu saja. Tapi awasi ya ma, biasanya tengah malam dia terbangun lagi, dan tidak tidur sampai pagi." Kata ayahnya dengan melirik nakal kearah Diras.
"Haha dia memang nokturnal!" Sergah ibunya. Dan seketika ruang makan menggema karna suara tawa mereka yang terbias oleh hujan. Hujan deras di kota bandung. Hujan dikota penuh cerita mereka.
"Aneh ya, dia juga persis seperti kakeknya."
***
Diras bangkit dan duduk ditepian tempat tidur. Ia melirik jam yang saat itu menunjukan pukul satu malam. Dia berdiri dengan malas dan pergi kekamar mandi. Sedetik kemudian. Gadis itu sudah di depan ruang kerja kakeknya. Antara ragu ingin kembali tidur atau meneruskan cerita kakek yang sempat terpotong tadi siang. Dengan berjinjit ia mengintip wajah neneknya dari kejauhan.
'Pulas! Oke.'
Dia sudah didalam. Mencoba sepelan mungkin membuka tutup triplek yang ada di bawah meja yang tentunya bukan hal sulit buat Diras. Dan selanjutnya ia sudah terbenam lagi didalam kursi putar dan sebuah buku harian tua ditangannya.
***
15 Maret 2013
Sudah hari ke-7 sejak aku mengenal dunia baru itu. Seru, sama tertantangnya dengan main rubik. Bedanya sekarang aku berinteraksi dengan makhluk hidup dan bukan benda mati. Tau kan maksudku? Rubik itu cantik, indah, tapi sayang tak bisa jawab ketika aku tanya.
"Apa jalanku benar?" Ya tentu saja. Mereka kan tidak bernyawa. Lagipula aku jarang sekali menemukan kesulitan ketika bermain rubik. Tapi ini, aku seperti melihat isi kepala mereka, cara mereka berimajinasi, dan cara mereka mengekspresikan imajinasi mereka masing masing. Menantang? tentu saja. Oleh karna itu dunia ini punya tingkat kesulitannya sendiri. Jika bingung siapa yang aku sebut mereka, bayangkan saja sedang berkumpul dengan sekelompok orang yang memiliki pemikiran hebat tentang kriminalitas. Bukan polisi tentu saja. Bahkan aku rasa mereka hanya orang biasa seperti ku yang memandang kriminal sebagai suatu hobi yang perlu dihargai. Bukan dari segi pemahaman secara harafiah tentang arti kriminalitas itu sendiri, melainkan tentang, bagaimana cara mereka menuangkan pandangan, pemikiran, dan imajinasi mereka sendiri pada sebuah karya. Cerita, lebih umum dibilang seperti itu. Dan lebih personal lagi dengan sebutan kasus untuk kami, para pencinta ceritanya.
Kami saling berbagi cerita misteri sampai kriminal yang didalamnya ada sebuah kasus yang harus di pecahkan oleh masing masing anggota. Dengan cara itulah kami menghargai karya sekaligus memainkan hobi secara bersamaan. Aku sendiri memang belum terlalu dalam mengenal dunia D ini, tapi ternyata Adisti benar, aku menyukainya.
Dunia D sendiri adalah singkatan untuk Dunia Detektif. Pasti yang ada dipikiran orang yang pertama kali mendengar sebutan ini adalah, kami hanya sekumpulan orang yang terlalu banyak waktu luang sehingga mau maunya mengerjakan hal yang mungkin kurang penting,kurang penting menurut mereka ya. Tapi mungkin juga punya pikiran lain. Entahlah, karna sejauh ini orang rumah tidak ada yang tau tentang kegiatan baruku ini, selain Bu Rina tentunya.
"Benarkah? Berhasil?" Tanyanya siang itu saat aku selesai bercerita tentang kasus yang baru saja berhasil aku pecahkan. Lalu aku menjawabnya dengan mata masih menatap rubik.
"Berhasil."
"lalu kalau kau berhasil memecahkan ceritanya dapat apa?"
"Ya.. tidak ada,hanya kepuasan."
"Seru kah?" Matanya menjejaliku
"Seru sekali."
"ah iya,pasti cerita seperti itu bukan hal sulit buatmu." Ujarnya dengan tertawa geli.
"Tidak juga, kadang aku agak kesulitan dengan cerita yang berhubungan dengan kode." Ujarku dengan tersenyum. Dan lucunya Bu Rina cuma menatapku bingung sampai aku terangkan kepadanya.
"Oh itu kode sungguhan ya?" Tanyanya dengan menggaruk kepala yang belum tentu gatal setelah aku terangkan.
"Memangnya ada kode kode palsu?" Tanyaku. Lalu seketika tawanya pecah.
"Benar juga. Aduh bodoh juga Ibu ini."
Aku balas dengan senyuman. Dan rubik ku sudah selesai tersusun saat itu. Aku diam dan Bu Rina hanya menatapku sesaat. Dia sepertinya menangkap maksudku.
"Sini ibu acak lagi."
Dan setelahnya, ia kembalikan.
"Terimakasih."
"Kau sudah jarang meminta rubik baru sekarang." Katanya dengan tersenyum lembut.
"Iya sedang main dengan yang lain 'kan."
"Haha kau ini cepat sekali bosannya."
Aku hanya tersenyum
"Coba Ibu mau lihat."
"Lihat apa?"
"Contoh kasus yang berhasil kau pecahkan."
Aku diam sejenak. Sempat ragu,tapi akhirnya aku arahkan juga kursor kearah postingan tadi.
"Sebentar." Jawabku
Dia masih diam tapi alisnya berkerut statis.
"......"
"Orang ini typonya benar benar parah."
"Itu kode bu,bukan salah ketik."
"Ya ampun hahah, bodohnya aku. Padahal sudah di jelaskan tadi." Tawanya pecah.
Aku hanya balas tersenyum.
"Nah ini bagaimana cara menerjemahkannya. Apa tadi kau bilang istilahnya?des,deskriptif?"
"Deskripsi."
"Itu dia! Coba jelaskan ibu ingin lihat."
***
Makan malam kali ini mungkin adalah makan malam yang paling menegangkan yang pernah terjadi. Biar ku ceritakan kenapa.
Tadi siang, saat ayah pulang istirahat untuk makan siang, dia terlihat sangat tertekan. Ayah menjadi lebih tempramental. Entah karna apa. Padahal malam sebelumnya aku tidak mendengar secercah makian atau keributan apapun dari kamar mereka. Ibu bahkan kena bentak ayah siang tadi. Menegangkan memang tapi untungnya aku tidak lihat keributannya. Kalau tanya kenapa, karna setiap kali ada keributan diantara mereka,pasti bu Rina sigap membawaku kedalam kamar. Tapi sungguh tak ada pengaruhnya. Karna aku tetap bisa dengar semua. Seperti kau berdiri didalam akuarium,terdengar jelas, sangat jelas. Jadi tidak ada bedanya mau aku lihat atau tidak. Tapi tentu saja aku hargai usaha Bu Rina. Itu sebabnya aku merasa dia seperti ibuku sendiri.
Ah iya soal ayah dan ibu tadi siang. Aku rasa dimulai dari ayah yang terlihat membanting pintu saat keluar ruang kerjanya.
"Kau ini kenapa? pulang malah marah marah tidak jelas." Ujar ibu yang agak berteriak saat melihat ayah. Dan dari situ aku langsung dibawa masuk kekamar.
"Sudahlah kau bukannya membantu malah menambah masalah saja!" Itu kata ayah tidak sabar dan seperti memotong omelan ibu yang lain. Dan selebihnya pertengkaran yang lebih besar. Aku tidak akan tulis dengan detail. Karna aku tidak suka. Tapi yang pasti masalah itu yang mendasari suasana tegang malam ini. Jika kau tanya kabar Olive, dia masih mengajar, bahkan ikut makan bersama kami siang tadi. Bingung juga ternyata dia bisa betah dirumah ini. Dan bingung lagi saat aku mulai bisa menerima keberadaannya sebagai salah satu bagian dari kami. Rasanya agak asing memang, tapi dia bisa diajak bermain sesekali. Dan itu yang membuatku mulai menerimanya.
Makan malam tadi, dari ayah maupun ibu, tidak mengucapkan sepatah katapun. Mereka makan dalam keheningan dan menghabiskannya. Lalu pergi untuk mengurus urusan masing masing. Aku? Kalau aku terbiasa sendiri. Lagipula sudah ada dunia baruku. Jadi rasanya tidak terlalu memikirkan masalah tadi. Biarlah,itu urusan mereka. Biar mereka selesaikan. Lagipula aku bisa apa? Nah!
"Rey.." suara Bu Rina yang disusul terbukanya pintu kamarku. Dia membawa nampan dan segelas susu diatasnya
"Masih bermain komputer ya?jangan tidur malam malam. Nanti kalau ketawan ayahmu, pasti keadaanya malah tambah buruk." Ujar Bu Rina dengan memberikan gelas tadi.
"Ia bu."
"Nanti dilanjut besok saja. Sekarang kau langsung tidur ya."
"Sebentar lagi. Satu kasus lagi."
Dia hanya mendesah. Tiba tiba pesan dari Adisti masuk dan aku cepat cepat mengganti tampilan layar.
"Siapa itu? Apa teman yang pernah kau ceritakan?" Tanyanya. Mungkin tadi sempat melihat namanya sekilas.
"Iya."
"Oh."
Aku ingat pernah cerita tentang gadis itu sekilas padanya. Mungkin Bu Rina masih ingat.
"Kalau teman mu yang lain?"
"Ya banyak." Jawabku singkat.
"Ceritakan."
Aku masih diam menatap layar.
"Ayolah coba ceritakan." Ujarnya lagi.
"Iya aku bertemu banyak orang."
"Ia,lalu?"
"Seperti dia." Aku menunjuk salah satu nama disana.
"Dia hebat di kasus kasus yang berhubungan dengan forensik. Kalau yang ini, aku rasa umur kami tidak terpaut jauh tapi kemampuan codingnya luar biasa. Sama dengan orang yang punya nama panjang yang ini mereka sama luar biasanya,bedanya orang ini punya cara sendiri untuk berinteraksi." Ujarku seraya menunjuk dua nama yang berbeda.
"Cara sendiri bagaimana?"
"Ya agak aneh. Terkesan melantur seperti itu lah."
"Oh begitu. Oh kalau dia?" Tunjuk Bu Rina
"Kalau dia punya kelebihan di kasus kasus yang berhubungan dengan kronologi. Cerita panjang dan sejenisnya."
"Oh kalian punya kelebihan ditipe kasus masing masing ya."
"Iya seperti itu."
"Kalau kau sendiri, bagaimana?"
"Aku?"
Dia mengangguk. Tapi aku tak langsung menjawabnya. Bingung harus bilang apa.
"aku... aku tidak tau."
Dan Bu Rina hanya balas tertawa.
Aku jadi ingat percakapan Adisti tentang kelebihanku di tipe kasus tertentu.
'Rupanya merendah. Kau bahkan bisa melahap semua kasus.' Ujarnya suatu malam.
'Tidak juga.'
'Iya! Aku kadang bingung dimana sebenarnya kau berdiri. Maksudku, kasus kode, kronologi,sampai forensik,bahkan riddle, bisa kau pecahkan semua. Haha.'
'Itu berlebihan.'
'Tidak sama sekali Rey."
Maka dari itu aku sendiri tidak tau. Tapi jika ditanya kasus yang tidak terlalu aku suka, mungkin aku akan jawab kasus riddle. Selebihnya, masih ada rasa penasaran untuk memecahkannya jika belum dipecahkan.
***
Jumat, 27 Februari 2015
Real ptw bab 4
BAB 4
"Oke yah. Makanan sudah siap semua. Langsung saja dimakan ya. Ibu harus kembali kekantor dulu." Ujar ibu yang ingin keluar dan meraih tas kerjanya. Tapi ayah diam,dia tak menyentuh piring atau makanannya.
"Apa tidak bisa disini dulu?ayah kan baru pulang." Jawab ayah. Ibu berhenti berjalan dan berbalik melihat pria itu
"Tapi hari ini aku ada pertemuan penting. Lagian kau yang datang telat bukan?"
"Ya sudahlah. Aku sedang lelah. Silahkan berangkat. Tadinya Aku pikir akan ditemani." Ujar ayah lalu meraih piring dan mulai mengambil makanan yang ada di tengah meja. Ibu tetap diam ditempat dia berdiri. Matanya nanar memandang ayah.
"Makanya coba sisihkan sedikit waktumu untuk keluarga lain kali." Kata ibu masih menatap ayah keras.
"Oh ya tuhan. Dia mulai lagi."
"Memangnya begitu kan." Ibu berlalu. Lalu pergi dengan kepalan tangan dan wajah yang merah padam.
Aku disana, duduk diruang belajar,dan dapat melihat orang tua ku berbincang diruang makan dengan jelas barusan. Ayah terlihat lelah hari ini,ibu juga. Atau memang biasanya seperti itu?entahlah aku jarang memperhatikan mereka sebelumnya. Memang ayah tidak punya waktu banyak untuk sekedar beristirahat dirumah dan bermain bersamaku. Dan mungkin ibu punya pikiran yang sama. Bahwa akhir akhir ini ayah memang sangat sibuk. Walaupun mereka sama sama sibuk sebelumnya, tapi ibu masih bisa menyempatkan waktu untuk makan siang bersama. Tapi apa penting? Karna pada akhirnya, aku juga tetap main sendiri.
Selepas kejadian tadi aku jadi ingin rehat dari pikiran berat soal keadaan keluarga ku yang sedang memanas. Aku menghampiri bu Rina yang sedang didapur. Aku duduk di sana melihatnya melakukan sesuatu pekerjaan rutin. Ah iya, soal ayah. Dia langsung berangkat ke kantor lagi. Bahkan sepertinya makanannya tidak dihabiskan.
"Rey ayah berangkat dulu. Bersenang senang ya dirumah." Ini kata ayah sebelum dia hilang dengan laju mobilnya digerbang depan rumah kami.
"Hey!" Sapa bu rina, dia menatapku dengan senyum manis.
Aku balas dengan senyuman juga. Lalu dia kembali ke pekerjaannya. Dia mengambil piring membasuhnya dengan sabun,dan membilasnya lagi dengan air. Aku jadi ingat sesuatu soal cuci piring. Alat pencuci piring otomatis ternyata ditemukan oleh perempuan yang bahkan benci mencuci piring. Josephine Cochrane membuat alat ini karena frustasi melihat pelayannya yang selalu memecahkan piring-piring cantik orientalnya. Lalu alatnya itu mendapat paten pada 1886. Ini aku temukan saat membaca buku yang dulu ibu belikan. Isinya sangat beragam diantaranya ada yang membahas tentang 10 hal hebat yang ditemukan oleh wanita. Kaum hawa memang sulit ditebak. Aku ingat juga ada salah satu penemuan yang menarik. Mungkin tidak terbayang sebelumnya bahwa penemu benda tersebut adalah wanita. Stephanie Kwolek, pekerja sambilan di perusahaan DiPont menemuakan serat kapas sintetis dari bahan Polymer. Inilah yang disebut Kevlar dan menjadi cikal bakal pembuatan rompi anti peluru. Yang aku ingat dari tulisan tersebut adalah, bahwa kapas tersebut bahkan kuatnya menyamai baja. Tidak heran peluru saja tidak tembus. Buku itu aku baca saat umurku 12 tahun. Tapi masih terbayang dengan jelas tiap detail tulisan disana.
"Nah sudah selesai." Kata Bu rina tiba tiba membangunkan dari lamunan tadi.
"Ah ternyata ketinggalan satu." Dia melirik piring kotor disebelahku. Sepertinya ini bekas lauk ayah yang tertinggal.
"Aku mau coba." Kataku meraih piring dan menuju dapur.
"Coba apa?"
"Coba mencuci. Boleh kan?"
"Ah tentu saja. Nah kau berdiri disini. Lakukan caranya seperti..."
"Iya aku sudah tau." Kataku memotong ucapannya. Tentu saja aku tau. Tadi kan sempat memperhatikan. Lagipula sudah sering lihat dari dulu. Dipikir aku masih kecil.
"Oke baiklah." Lalu dia mundur dua langkah dan memperhatikanku dalam jaraknya.
"Apa tidak ada piring kotor lagi?" Tanyaku dengan meletakan piring yang sudah bersih tadi ke rak.
"Ah ada beberapa perabot besar tapi biarkan saja. Nanti ibu yang cuci. Sekarang kamu Rey kekamar saja."
"Aku bosan. Apa boleh disini saja?"
"Tentu!" Katanya lalu melanjutkan pekerjaannya barusan.
"Ibu tau soal facebook?" Aku mencoba membuka percakapan. Rasa penasaran ini semakin besar saja. Apa dia bisa bantu mengajari soal ini? Ah coba dulu saja lah.
"Ah ia ibu pernah punya dulu. Setahun yang lalu mungkin. Entahlah masih aktif atau tidak." Ujarnya dengan meraih perabot lain. Lalu mencucinya lagi.
"Apa seru?"
"Seru?ya lumayan. Ibu bisa bertemu kawan lama yang ternyata punya facebook juga." Lalu dia menaruh perabot terakhir.
"Mengapa kau tanya soal itu?mau coba ya?" Dia melanjutkan seraya duduk di sampingku.
Aku mengangguk.
"Aku mau, tapi kan aku tidak punya teman."
"Haha, tentu facebook akan membantumu mendapat teman rey."
"Begitu?"
"Iya Rey. namanya juga sosial media. Yang tidak pernah bertemu saja bisa kau jadikan teman,bahkan sahabat. Jadi tenang saja."
"Jadi aku bisa punya teman?"
"Bukan kah kau sudah punya teman?" Tanya nya seraya melirik kearahku.
"Siapa?" Dia tak menjawab.
"Paling hanya ibu temanku." Lanjutku
"Nah itu sudah kau katakan." Lalu kami tetawa bersama.
Tapi masih ada pikiran yang mengganjal soal ini.
"Apa ibu mengizinkan ya?" Tanyaku. Tapi dia diam. Aku rasa dia juga tak tau apa pendapat ibu soal ini.
"Apa facebook berbahaya?" Tanyaku lagi.
"Ah, tentu tidak. Aku rasa sih tidak." Dia tersenyum.
"Kalau begitu boleh."
Dan kami tertawa lagi.
***
Makan malam tadi terdengar lebih hening dari biasanya. Tidak terlalu banyak pembicaraan dan juga pertanyaan. Mungkin masih terbawa suasana siang tadi.
Dan sekarang aku dikamar. Seperti biasa, masih ditemani rubiku yang baru saja dibelikan ibu. Kebetulan ini rubik yang dulu pernah aku minta. Jadi masih tertantang untuk menyusunnya. Tapi lagi lagi mataku tidak bisa lepas dari layar monitor. Penasaran, sangat penasaran. Aku ingin coba sosial media tadi. Apa besok Olive mau mengajariku? Tapi kenapa harus menunggunya. Aku akan coba sendiri malam ini. Ya tentu saja saat semua sedang tidur aku akan mencobanya.
Malam itu aku kekamar mandi untuk memastikan penghuni rumah yang lain sudah terlelap dalam tidurnya. Karna saat itu sudah pukul 11 Lebih jadi aku yakin dan langsung saja keluar kamar. Langkah pertama aman, rumah ini terdengar sangat hening. Hanya ada suara detik jam dan denyut jantungku sendiri yang terdengar bersautan. Ternyata dugaanku benar, semua sudah dikamarnya masing masing.
"Mau kemana rey?" Tiba tiba suara parau laki laki menghentikan langkahku ditengah ruangan.
"Oh ayah, cuma kekamar kecil." Jawabku Saat berbalik dan ternyata ayah baru saja keluar dari kamar tidurnya.
"Apa kau belum tidur dari tadi?"
"Sudah,tentu saja sudah. Aku terbangun barusan."
"Oh." Jawabnya singkat. Lalu dia duduk dan menyalakan TV yang ada di ruang belajarku dan duduk dihadapannya. Matanya yang kosong,lelah dan rapuh menatapku.
"Langsung tidur ya" Lanjutnya.
Aku mengangguk.
Sudah lama sekali aku tak melihat ayah menonton TV. Tentu saja,pasti dia sangat sibuk dengan pekerjaan yang dihadapinya saat ini. Kalau mau tau ayahku, dia mungkin bukan termasuk orang yang dapat memberikan banyak ekspresi. Maksudku bukan tipe orang yang berapi api. Terkadang dia bisa sangat tenang. Dia menyerukan setuju dalam diam dan mempertahankan status quonya dari pada harus meminta perubahan. Tapi akhir akhir ini memang ayah sering memperhatikan hal hal kecil. Contohnya soal komputerku dan yang lainnya. Padahal dia yang paling jarang dirumah. Entahlah. Mungkin ada masalah di tempat kerjanya. Akan aku bantu doa ya ayah.
Malam itu aku gagal untuk mengeksplor sosial media. Karna terlalu beresiko jika ayah masih terjaga seperti tadi. Apalagi jika dia tau aku memainkan komputer di bukan jam - jam normal,bisa bisa komputer ini akan ditarik lagi. Jadi aku pilih aman. Aku akan tidur awal malam ini.
***
Entah kapan,ditempat antah berantah.
Aku berdiri di atas sesuatu yang basah. Bau apa ini?tanah?tanah basah, iya ini bau tanah basah. Aku menggerakan kakiku dan menyentuh sesuatu yang lembut juga menggelitik. Ini rumput, rumput berembun. Ya ampun aku ada di padang rumput? Lalu ada angin mendayung dan dengan lembut mengusap pipiku. Kulihat ada pelangi. Apa namanya memang pelangi? Tau dari mana itu adalah pelangi. Entah lah,yang pasti busur dengan tujuh warna itu indah, sangat indah. Tapi dimana ini? Ah tidak penting. Yang pasti diluar. Dan aku suka! Aku berlari. Kencang dan sangat kencang. Tapi, apa itu?kanal?hah kanal, oh kaki ku tidak bisa berhenti. Sial aku akan terperosok!
"Rey! Rey! Bangun, hey bangun. Kau kenapa?" Tubuhku dibuatnya terguncang. Dan itu,
Bu rina? Dimana ini? Ah ternyata, sial!
"Kau kenapa?" Lanjutnya
"Aku tidak apa apa." Kataku mencoba mengatur napas yang tersenggal. Sekarang semua tubuhku basah karna keringat. Aku mencoba duduk di tepian kasur.
"Baiklah. Sebaiknya kau langsung mandi." Kata bu Rina bangkit dan menuju pintu kamar. Lalu memandangku sekali lagi.
"Aku tidak apa apa bu." Jawabku atas pandanganya tadi
"Baiklah,bangun lah cepat." Ujarnya mengerurkan alis.
Tidak seperti biasanya aku bangun sesiang tadi. Ini mungkin karna terlalu lelah memperhatikan. Atau memang badan ku yang sedang kurang sehat. Walaupun mimpi tadi begitu nyata, tapi jauh langit jauh bumi. Itu hanya mimpi kosong yang tidak akan pernah terjadi.
Pagi itu didapur, aku sedang ingin kekamar mandi. Disana ada Bu Rina yang sedang menyiapkan piring. Lalu dia berhenti saat melihatku.
"Kau tak apa Rey? Kau terlihat sangat ketakutan dengan meracau tidak jelas barusan."
"Tidak apa apa. Hanya mimpi biasa." Ujarku
"Baguslah,ayo mandi cepat dan temani ibumu sarapan ya."
"Baiklah" ujarku dengan tersenyum.
Sepertinya suasana hati ibu sedang tidak bagus,makanya bu rina bilang begitu. Mungkin hanya kelelahan. Atau ada masalah lain?
Setelah sarapan, orang tua ku pun memulai kesibukannya masing masing. Pagi itu Olive datang dengan semangat yang berbeda. Maksudku lebih berapi api dari biasanya. Lalu ia memulai kegiatan kami dengan pelajaran teknologi informasi dan komunikasi.
"Ya jadi media untuk berkomunikasi sangat beragam. Menurut jangkauannya, ada yang tertulis atau cetak, audio,visual,audio visual......." Ujarnya
"Nah sekarang, ada yang ingin kau tanyakan?"
"Bagaimana seorang tuli,buta dan,bisu?tentu tidak bisa berkomunikasi dengan media seperti tadi kan? Tidak bisa melihat untuk cetak dan visual, dan tidak bisa mendengar untuk media audio. Bagaimana? "
"Kau benar,tapi ada salah satu kisah nyata yang mungkin dapat menjawab pertanyaanmu tadi. Kau pernah dengar helen keller?"
Aku menggeleng.
"Dia adalah perempuan buta,tuli dan bisu. Dan hebatnya dia bisa sukses dengan keadaanya yang seperti itu." Dia menjelaskan. Dan aku masih diam tapi tetap memperhatikan untuk menyimaknya.
"Awalnya ia sangat frustasi karna interaksinya saat itu hanya berjalan satu arah. Lalu pada umur 7 tahun kurang 3 bulan, ada yang mengajarinya berinteraksi lewat sentuhan. Dia menuliskan nama benda yang disentuh oleh helen ditangannya. Dan dari situlah dia belajar berkomunikasi dengan orang lain. Anne sullivan, guru helen,menyulap gadis cacat tadi,menjadi wanita yang menginspirasi." Dia berhenti lalu tersenyum.
"Baiklah ada yang ingin kau tanyakan lagi?"
Aku menggeleng. Sampai akhirnya aku teringat pada media sosial.
"Pastinya media sosial juga menjadi sarana bertukar informasi dan berkomunikasi kan?"
"Iya tentu saja. Teknologi yang canggih akan memudahkan penggunanya."
"Begitu."
"Iya tapi tergantung pada pengguna juga. Bisa bisa teknologi secanggih apapun akan jadi useless."
"Kalau begitu ajari aku untuk jadi smart user."
"Kau memangnya mau tau tentang apa?"
"Media sosial." Jawabku singkat.
Lalu dia terdiam. Dan mungkin berfikir.
"Mulai dari mana ya?" Katanya dengan telunjuk yang mengetuk ngetuk meja.
"Facebook?"
"Nah! Baiklah. Kita buat akun untukmu sekarang."
***
"Nah rey, kau bisa coba mengajak pertemanan orang orang yang disarankan oleh Facebook." Ujar olive setelah mengajariku beberapa cara memainkannya.
Aku mencobanya satu persatu. Tapi karna belum ada yang bisa ku ajak interaksi. Jadi belum terasa benar sensasinya. Mungkin jika ku ajak satu dua orang mengobrol dengan ini, Facebook akan menjadi permainan ter asik.
Siangnya kami makan seperti biasa. Normal dan berjalan lancar. Ayah juga datang tepat. Suasananya tenang. Walaupun mungkin ibu masih jengkel, tapi ini lebih baik, percayalah. Setelah makan siang pun Olive pamit pulang, begitu juga orang tuaku.
"Baik baik ya dirumah" ini tadi kata ibu sambil mengusap bahuku lembut sebelum dia berangkat bersama mobil ayah. Ayah juga sempat mengacak acak rambutku. Dan mereka hilang seiring laju mobilnya.
Nah sekarang aku punya akun di Facebook. Olive menamainya dengan menambahkan nama panjangku di belakang nama panggilan, Adi Putra. Ya walaupun agak bingung bagaimana dia tau nama.panjangku, padahal kami sebelumnya tidak pernah membicarakan masalah personal. Tapi dia tentu lebih pintar dari kelihatannya.
Aku coba buka lagi dan sekarang aku sudah punya beberapa teman. Walaupun belum satupun yang aku ajak berinteraksi. Tapi melihat mereka membuat postingan,dan membacanya itu cukup menyenangkan. Untuk permulaan cukup menjadi silent reader saja. Sampai ada postingan yang membuatku tertarik.
"Disebuah kerajaan yang makmur. Ada seorang raja yang sekarat tapi licik. Dia ingin bermain dengan nasib orang.karna Sang raja tau bahwa dia sebentar lagi akan meninggal, tapi tak seorang anak maupun istri yang dapat dia wariskan atas kekayaannya. Sehingga ia memilih untuk membagi seluruh warisan yang terdiri dari 100 peti emas kepada 10 pengawal setianya. Tapi dia punya aturan unik untuk membaginya, yaitu dengan mengurutkan pengawal yang paling tinggi jabatannya (ada di nomer 1) sampai yang paling rendah (ada di nomor 10) secara berurutan. Kemudian satu persatu dari kesepuluh pengawal tersebut akan mengajukan saran yang berisi bagaimana jumlah peti emas itu dibagi (hanya jumlah bagiannya tanpa keterangan) dan jika saran tersebut di setujui oleh minimal 50% dari jumlah prajurit yang masih hidup dan tidak termasuk raja, maka saran tersebut akan dipakai untuk membagi jumlah peti emasnya. Dan jika kurang dari 50% yang setuju, prajurit itu akan langsung dipenjara dengan disaksikan oleh sang raja sendiri. Yang akan pertama kali mengajukan saran adalah prajurit no 10 , lalu jika sarannya ditolak, maka akan di penjara dan diteruskan oleh saran prajurit 9, dan seterusnya sampai ada saran yang disetujui. Asumsinya, semua prajurit punya logika yang sama dengan tingkat kecerdasan yang sama sama tinggi. Mereka juga akan mengambil langkah terbaik untuk keselamatan nyawa mereka, lalu mereka sangat serakah,dan akan langsung menolak saran jika mereka bisa mendapatkan lebih banyak peti dari yang saran tersebut ajukan. Mereka juga takut akan hukumannya. Semua prajurit juga tahu jika mereka bisa mendapatkan jumlah peti emas yang sama,jika mereka menolak sebuah saran, dan berharap si pembuat saran akan dibunuh. Andaikan anda adalah prajurit no. 10 tersebut. Lalu saran apa yang akan anda berikan kepada sang raja dan kesembilan prajurit yang lain tanpa harus terbunuh dan berapa jumlah peti emas yang akan anda dapatkan?
Jawaban jangan lupa pakai penjelasan ya."
Akun tersebut bernama Adisti. Entah memang hanya itu kah namanya atau hanya panggilan. Tapi itu nama sederhana yang menarik.
"Clue yang diberikan dari cerita diatas.
1. Setiap prajurit mempunyai kecerdasan dan logika yang sama pintarnya (bagaimana caranya selamat dan tidak dipenjara)
2. Setiap prajurit serakah (mungkin maksudnya jangan sampai ia rugi. Dan lebih baik dapat 1 dari pada tidak sama sekali)
Untuk sisanya mungkin hanya bumbu cerita saja.
Jadi untuk melihat kemungkinan yang paling besar selamat dari pembagian tersebut, Saya coba mengurainya dari belakang. Saat tersisa 2 prajurit.
Misalnya # = prajurit ke-
Saran ke-9
#1= 0 peti
#2 = 100 peti
Ket: saran akan langsung diterima karna kuota 50% terpenuhi.
Saran ke-8
#1 = 1 peti
#2 = 0 peti
#3 = 99 peti
Ket: prajurit 1 langsung setuju karna jika tidak, dia tidak mendapatkan apapun.
(Untuk menghindari saran ke-9)
Saran ke-7
#1= 0 peti
#2 = 1 peti
#3 = 0 peti
#4 = 99 peti
Ket: #2 akan langsung setuju karna jika dia menolak maka dia tidak akan dapat apapun.
(Untuk menghindari saran ke-8)
Saran ke-6
#1 = 1 peti
#2 = 0 peti
#3 = 1 peti
#4 = 0 peti
#5 = 98 peti
Keterangan : prajurit ke-2 dan 4 tidak bisa menolak saran. Karna jika ditolak, mereka tidak dapat apa apa.
(Untuk menghindari saran ke-7)
Dan begitu seterusnya sampai ke saran nomor satu yang polanya adalah.
#1= 0 peti
#2= 1 peti
#3= 0 peti
#4= 1 peti
#5= 0 peti
#6= 1 peti
#7= 0 peti
#8= 1 peti
#9= 0 peti, dan
#10= 96
Dan si prajurit nomor sepuluh akan dapat 96 emas dengan dukungan setuju 50% tanpa perlu di penjara." Aku mencoba berkimentar, sekaligus membuka percakapan pertama kali dengan orang asing yang pertama kali juga aku temui di media sosial ini.
'Wah ternyata terlalu mudah ya :D ' Balasnya beberapa menit kemudian dengan emoji tertawa. Hey! Aku tau emoji. Tentu saja tadi kan olive yang mengajarkan. Aku tiba tiba bingung dan mentok. Tak jarang aku tidak membalas percakapan penghuni rumah ini hanya karna tidak tau harus berkata apa. Tapi aku tidak boleh kehilangan kesempatan. Ini pertama kali, jadi harus memberikan kesan yang baik. Tapi sejak kapan aku memikirkan soal kesan pertama?sejak kapan aku perduli?entahlah itu tidak penting.
'Hanya kebetulan pemula.'
'Apa tertarik juga dengan hal seperti tadi?' Balasnya. Dia cukup ramah untuk orang asing.
'Iya.' Jawabku singkat.
Lalu tak ada balasan lagi. Ya Ampun, apa tadi terlalu kasar? Aku tidak tau standar berkomunikasi sebelumnya. Maksudku secara normal,bebas,terbuka,atau,atau apalah namanya itu. ini pertama kali. Aku coba lagi mungkin.
'Aku suka rubik. Bagaimana denganmu?' Jawabku lagi di kolom komentar. Tapi tetap tak ada balasan darinya. Akhirnya aku keluar dari Facebook. Mungkin harus sedikit latihan dulu sebelumnya. Latihan?seperti apa? Seperti orang normal kah maksudnya? Lagipula apa itu normal? Entahlah. Tapi aku pernah dengar kata kata itu sebelumnya. "Memangnya apa itu normal?" Jika tidak terjawab aku akan buat definisi normalku sendiri.
Malam yang dingin dirumah kami. Ritme lagu alam paling merdu terdengar hingga ruang makan. Hujan, dengan segala keniscayaan yang biasa manusia harapkan saat adanya. Disana ada aku,ibu dan ayah, dan Ibu pembersih yang sedang mengamati dalam hening didapur. Aku sempat bingung tentang dia setiap kali makan malam.
"Kapan bu rina makan malam?"tanyaku pada suatu malam ditengah gemercik hujan yang sama derasnya dengan malam ini. Tapi dia hanya tersenyum.
"Kenapa rey?"
"Aku kadang bingung, ibu tidak makan saat kami semua tengah makan malam. Kenapa tidak bergabung dengan kami bu?"
"Ah ibu tetap makan. Tapi setelah kalian semua rehat dan setelah pekerjaan ibu juga selesai. Kau pasti tidak melihat ibu karna sedang dikamar." Lalu dia kembali tersenyum simpul yang sebelumnya, aku tidak tau arti senyum itu. Ternyata dia tersenyum tulus.
"Bagaimana pelajaranmu hari ini rey?" Tanya ayah memecah keheningan.
"Menyenangkan yah."
"Belajar apa saja?"
"Banyak." Jawabku singkat.
"Jangan tidur malam ya, jangan sampai kau kesiangan seperti tadi pagi lagi." Ujar ibu menyusul bu rina yang mulai menyisihkan piring piring makan kami yang sudah kosong.
"Iya bu."
"Besok siang saat istirahat makan siang..." ucapan ayah terpotong oleh ibu.
"Kau akan pulang telat? Atau tidak datang? Baiklah itu urusanmu." Sergah ibu. Seketika mata ayah membulat kaget juga marah mungkin. Lalu dia agak mereda.
"Aku akan menjemputmu. Selepas jam istirahat aku juga akan mengantarmu." Jawab ayah dingin.
Aku lihat Ibu agak bergeming. Sorot matanya memancarkan rasa bersalah.
"Oh, oke baiklah." Kata ibu lalu kembali merapikan piring piring kami.
Dikamar ku, masih dalam keadaan grimis, aku mulai menyalakan komputer. Tapi kali ini, aku duduk dengan berbalut selimut. Bandung saat malam ditambah gerimis,mungkin jadi tempat terdingin di indonesia. Apa aku bercanda?tidak lah. Maksudku Dengan mengeyampingkan pegunungan dan dataran diatas bandung tentu saja.
Kursor mulai menari, mengikuti gerakan mouse yang aku kendalikan. Sedetik kemudian akun facebook ku sudah terbuka. Dan wah! mengejutkan, ada satu pesan dan pemberitahuan. Ternyata komentarku tadi dibalas Adisti.
'Rubik?lumayan suka. Walaupun tidak bisa bermain hihi. :D ' Jawabnya.
Lalu langsung ku buka opsi pesan. Dan bisa ditebak siapa? Gadis itu lagi.
'Hallo :D' bunyi pesannya, dan masih dengan emoji tertawanya.
'Hi' balasku singkat
Tak lama komputerku berbunyi. Dia balas pesanku lagi.
'Kau dari bandung ya?aku juga loh.' sontak aku bingung, mau ku balas apa pesannya? Akhirnya aku balas juga.
'Oh,begitu.'
'Iya, kau memang daerah mana? :D'
'Dago.'
'Wah,pasti perumahan elit. Aku sih di buah batu. Hey aku mampir ke dago pakar beberapa waktu lalu. Malam sih. Tapi seru...' dia bercerita panjang lebar. Ini seperti pengalaman yang tidak pernah terjadi. Tau maksudku? Aku tidak pernah keluar dari pintu itu, pintu rumah ini. Ya tentu saja, kecuali ingin pergi 'jalan jalan' . Tapi lewat gadis ini, aku bisa membayangkan gemerlap malamnya daerahku, yang ironisnya aku sendiri tidak pernah merasakan. Dia merinci setiap detail tempat dan kejadiannya. Mulai dari tempat yag ada dsana, segala hingar bingar yang tercampur dikeramaian, lampu lampu jalan yang terbias gelapnya malam, sampai tempat tukang rujak buah yang ada di samping jalan.
'Kau tau? Sehabis mamangnya kasih kembalian. Aku gelagapan, karna adiku sudah tidak ada. Padahal sebelumnya ada di samping gerobak buah.' Bunyi pesannya. Cerita yang menarik,yang berakhir pada penemuan adiknya di salah satu sudut daerah tersebut.
'Dia disana. Sedang lihat Kominitas Hong bermain. kau tau?mencarinya saja sampai di bantu tukang buah tadi. Tapi adiku malah tertawa geli saat lihat wajah jengkel ku.' Lanjutnya. Tanpa sadar bibirku merekah,aku tersenyum setiap kali membaca pesannya,aku terhibur oleh kisah sederhana yang dia ceritakan.
'Ah ia liburan lalu juga sempat ke De Ranch,pernah kesana?'
'Belum,dimana itu?'
'Di lembang kurasa. Dan kau, jangan kaget ya kalau berkunjung kesana disuguhkan susu aneka rasa sebagai welcome drinknya. Hihi.'
'Begitu.'
'Iya pokonya kau harus datang dan merasakannya sendiri. Dan Pemandian air panas di Ciwidey,ya ampun! Ban mobil kami pecah saat akan pulang. Dan hujan pula. Dan kau tau?saat kedua kalinya aku kesana dengan kakak,ternyata dia lupa bawa dompet. Dan kau bisa tebak betapa malunya kami. Ia tempat itu juga punya cerita. Kalau kita jalan jalan bersama nanti,akan ku bawa kau ke tempat tempat seru.' Balasnya.
'Tentu. Semoga bisa.'
'Kau banyak mengunjungi banyak tempat ya.' Lanjutku.
'Ah tidak juga. Aku hanya tertarik dengan tempat baru. :D '
'Selain bandung ku pernah travelling kemana lagi?' Tanyaku. Karna sebelumnya sempat aku lihat foto foto di akunnya. Dan banyak sekali latar foto indah di tempat yang berbeda.
'Sulawesi, aku sempat snorkling disana.ke sumatra, semarang, rock climbing di yogya ah ia aku ingat kota itu...' dia kembali bercerita soal pengalamannya menyusuri indahnya perut bumi.
'Cave tubing di kalisuci menakjubkan. Bisa kau bayangkan melewati sungai yang ada diperut bumi? Dan satu lagi, masih di yogya sih. cahaya surga. Kau bisa menikmati cahaya surga walaupun masih jadi manusia.hihi.'
'Benarkah?dimana?'
'Goa jomblang. Sekelumit sensasi surganya itu rey! Yang pasti kau harus coba sendiri. Aku jamin, kau seketika akan setuju bahwa itu memang tempat yang menakjubkan.'
'Aku harap juga.'
Dan disanalah kami. Dalam batas layar dan jarak masing masing. Tapi aku merasa seperti sudah mengenalnya bertahun tahun. Dia gadis yang ekspresif, aktif dan banyak sekali pengalaman.
Dan perbincangan kami ditutup, cerita panjangnya pun berakhir. Saat itu hampir jam 12 malam. Dia bilang harus bangun pagi untuk sekolah. Seharusnya akupun begitu. Tapi untuk momment unik malam ini. Bisakah mataku terpejam? Aku sendiri ragu soal itu.
***
2 minggu berlalu, dan kami makin akrab. Dia juga masih sering menceritakan cerita cerita sederhananya. Tentang perjalanannya menyusuri beberapa negara di benua asia,eropa dan amerika.
'13 jam rey! Bayangkan kau hanya duduk dan tertidur disana, diangkutan umum yang banyak diisi kardus kardus dari para penumpang lainnya. Setiap kau terbangun,orang yang ada di sampingmu sudah berbeda. Dan itu terjadi sepanjang perjalanan. Aku tidak duduk dengan kakak karna dia menemani adiku didepan, nah itu saat aku di Vietnam.' Ujarnya suatu malam. Dan pada malam berikutnya dia menceritakan pengalamannya menyusuri jalanan Amsterdam.
'Ya tidak ada maksud apa apa, hanya berjalan jalan pagi' balasnya saat ku tanya untuk apa jauh jauh menyusuri jalanan.
'Aku lewat jembatan angkat, lalu melewati Amstel River dan akhirnya sampai.'
'Dan ketemu?' Tanyaku
'Iya ketemu, sampai juga di Rijksakademie. Gerbang besinya tinggi sekali. Sampai tiga meter! Tapi sayang terkunci hihi.'
'Kenapa?lalu kau?'
'Kan hari minggu. Haha aku hanya berdiri disana. Memandang dinding batu berwarna sephia.' Jawabnya. Dan masih banyak kisahnya yang dia ceritakan, mulai dari sekolahnya. Tentang kesukaannya,tentang dia yang pernah tidak bisa pulang saat sekolah dasar dulu,karna ditinggal pulang oleh kakaknya dan dia tidak ingat jalan rumahnya sendiri, untuk yang satu itu memang menggelikan. Tapi lebih baik dari pada aku yang tak oernah keluar. Tentang bagaimana dia memandang dunia lewat manik coklatnya,semua terlihat menyenangkan. Rasanya cepat sekali. Padahal seingatku baru kemarin aku punya akun facebook. Dan dimalam itu, kami berbincang seperti biasa.
'Aduh aku terlalu banyak cerita ya.' Bunyi pesannnya. Dia bicara begitu karna baru saja menceritakan tentang perguruan tinggi yang akan dia ambil selepas sekolahnya sekarang.
'Tidak apa,aku suka. Lanjutkan.'
'Kau tidak banyak bicara ya. Nah sekarang giliran mu. Coba ceritakan tentang dirimu.'
'Tentang apa?' Tanya ku bingung
'Apa saja ayolah. Kita kan sudah berteman. Ceritakan padaku bagaimana sekolah disana.'
Aku diam. Bagaimana bisa bercerita tentang hal yang aku sendiri belum pernah merasakannya?
'Ayolah.' Lanjutnya. Dan aku masih dalam diam.
'Rey! Ayo. Aku sudah banyak bercerita dengan mu.' Balasnya lagi. Masih dalam keraguan. Aku coba ceritakan keadaan yang sebenarnya.
'Bagaimana jika aku berbeda?apa kita masih berteman?'
'Tentu saja! Tapi berbeda bagaimana?'
'Kau janji kita akan tetap berteman?
'Iya rey. Janji.'
Dan akhirnya aku ceritakan semua. Soal keadaan ku dan rumah kami,kekurangan dan kelebihan yang bisa aku rasakan. Semuanya.
'Wow. Itu keren.' Ujarnya singkat setelah aku selesai bercerita.
'Nah sekarang kau sudah tau semua. Termasuk 'sesuatu' yang aku idap. Apa kita masih berteman?'
'Tentu saja! Aku suka caramu mengungkapkan semua. Kau tau?kau punya kelebihan yang orang lain belum tentu punya. Jangan berkecil hati rey. Dan kurasa, aku tau apa yang sebenarnya 'sesuatu' yang kau idap itu.'
'Terimakasih, tapi tetap saja aku tidak akan bisa hidup normal seperti kalian.'
'Hey! Jangan pesimis. Kau tau Tample Grandin?pengajar di Universitas Colorado? Atau Satoshi Tajiri,pencipta game Pokemon?Matt savage sang Mozart of Jazz?ah Atau Daniel Tampict si 'Brain Man' sebagai salah satu dari 100 orang tercerdas yang masih hidup di dunia? Mereka semua orang besar! Dan mereka sama sepertimu. Kalian berbeda karna kalian spesial.' Ujarnya. Aku tertegun. Sudah aku bilang dia punya caranya sendiri untuk memandang sesuatu.
'Terimakasih.' Jawabku singkat.
'Tentu. Jangan hilang semangat lagi ya.'
'Makanya ingatkan aku nanti.'
'Kau kan punya ingatan yang kuat :p ' balasnya. Sontak aku tertawa kecil.
'Kau pernah bermain sebelumnya?' Balasnya lagi.
'Sudah kubilang. Keluar saja tidak pernah, lagian kan kau temanku satu satunya.'
'Ah aku lupa maaf. Berarti kau harus aku kenalkan dengan dunia yang satu ini. Aku lihat kau cukup antusias saat cerita kemarin berhasil kau pecahkan.'
'Cerita kapan?'
'Dua minggu lalu, masa kau lupa?itu ceritaku pertama kali, dan sekarang aku sedang ketagihan. Kau harus coba Dunia ini sendiri.'
'Apa itu?'
'Tunggu dulu, aku undang saja langsung ke grupnya ya. Kau pasti akan suka. Karna kau spesial dan berbeda, jadi caramu bersenang senang juga pasti berbeda. Kau tau rey, 'Bermain adalah esensi kehidupan.' Setidaknya itu kata Buytendjik, tunggu ya hihi.' Aku bingung. Apa yang akan dia lakukan.
Dan tak lama komputer ku berbunyi. Ada notifikasi yang masuk. Seperti pemberitahuan bahwa aku diajak bergabung kedalam sebuah grup.
'Grup apa itu dis?' Tanyaku lewat pesan pribadi, Dis (Adisti) maksudnya. Lalu tak lama komputerku berbunyi lagi. Aku membaca pesan Adisti yang terbilang singkat malam itu,
'Welcome to D world rey ;)'
27 Mei 2064
"Tak akan ada yang mengerti dirimu. Tidak akan ada yang tau nak,selain kau sendiri dan tuhan. Mereka fikir tau, tapi mereka tidak akan pernah tau." Gadis itu menyeka sudut matanya mengingat kalimat yang biasa kakeknya ucapkan. Dia masih mengingat jelas kata kata tersebut. Dan ternyata hanya itu yang tersisa dari kenangan pak tua yang saat ini sudah berbeda alam. Dan sekarang mereka berkumpul, berkumpul untuk sang kakek. Melepas perjalanan terakhirnya didunia ini.
"Semoga amal ibadahnya diterima oleh sang kuasa. Dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan juga kekuatan dalam mengahadapinya." Ujar Bapak berbaju putih yang menggunakan kopeah dan sarung menatap gundukan tanah yang sedang mereka kenang petang ini, lalu dia berggumam untuk membacakan beberapa doa sehingga yang lain mengamininya. Gadis tadi melihat ibu dan neneknya agak terisak ketika semua pelayat satu persatu melangkah meninggalkan tanah merah ini. Ayahnya tampak tegar menopang bahu ibu si gadis dan mengelus pelan bahu neneknya yang sedang duduk bersimpuh didepan nisan putih bertuliskan "Reyhan Adi Putra" diatasnya.
Dan Gadis itu disana berdiri dengan dada agak sesak melihat kepergian sosok cerdas yang pernah dia kenal. 'Kakek, dengan pandangan konyol yang kadang menggelikan. Semua orang yang baru melihatnya,pasti langsung berfikir dengan sebelah otaknya dan menilai dari pembawaannya saja. Tanpa mereka tau, bahwa Tuhan sudah menanamkan Otak yang menakjubkan di belakang wajah yang polos itu.' Hatinya berbicara tapi tak seucap katapun keluar.
"Ayo ma, sudah mulai gelap." Kata ayahnya menopang tubuh nenek yang lunglai untuk sekedar berdiri. Lalu nenek itu perlahan menyeka air mata. Dan berjalan dengan sebelumnya mengusap nisan putih, dan berlalu. Tapi gadis itu masih disana menatap nanar kearah nisan dengan mengenang momment momment mereka bersama sebelum akhirnya sang kakek dijemput duluan.
"Diras!" teriak ayahnya lembut dari depan gerbang masuk TPU, membangunkan gadis tadi dari kisah nostalgia. Itu kode bahwa dia harus segera menyusul mereka. Lalu gadis yang dipanggil Diras itu mengangguk kecil.
"Selamat jalan kakek!" Ujar gadis semampai berkerudung hitam.
***
Diras duduk dengan tenang. Suasana rumah yang biasa dia kunjungi sangat berbeda hari ini. Nenek yang biasanya ceria berubah menjadi wanita paling murung. Wajahnya terlipat statis,kerutan mata dan kening terlihat lebih jelas, lebih tua.
"Aku mengerti. Kau harus mempertimbangkannya kan?kita bisa tinggal disini dan menemani mamamu." Suara Ibu Diras lamat lamat terdengar, diia sedang berbicara ruangan yang lain.
"Benarkah?kau mau?"
"Kenapa tidak?aku akan ikuti suamiku. Lagian kau anak satu satunya. Aku rasa itu pilihan terbaik."
"Terimakasih." Jawab ayahnya.
Lalu dia melihat Ibu dan Ayahnya menghampiri nenek tadi, yang kelihatannya ingin menyampaikan keputusan mereka untuk tinggal bersama neneknya.
"Tidak apa. Mama bisa tinggal sendiri. Mama mengerti kalian punya kesibukan masing masing." Ujar nenek Diras dengan memaksa seulaa senyum menghiasi wajahnya kala mereka berdua duduk bersebelahan.
"Ia ma, kami sudah putuskan untuk tinggal saja disini dengan mama." Kata ayah Diras dengan menggenggam tangan neneknya.
"Benarkah?" Mata nenek langsung membulat
"Ia ma." Jawab ibu diras. Lalu raut nenek itu lebih baik. Diras tersenyum, lalu mengahmpiri mereka bertiga.
"Jadi kita akan tinggal disini?"
"Ia Diras. Kau akan punya banyak waktu bersama nenek sekarang." Ujar ibunya. Diras tersenyum lalu memeluk sang nenek.
"Nah sekarang. Akan nenek ajak lihat barang barang kakekmu." Neneknya berdiri sambil menggandeng tangan Diras. Dan sekali lagi bibirnya merekah mendengar tawaran itu.
Kamarnya cukup luas. Disana terdapat ruangan lain yang masih menyatu dengan kamar. Lalu Diras diajak masuk ke dalam ruangan tadi
"Nah. Disini biasanya kakekmu menghabiskan waktu malamnya. Entah apa saja yang dia lakukan selain bermain rubik. Nenek tau, kau selalu tertarik segala sesuatu tentang kakek. Dan hari ini..." neneknya berhenti dan menarik napas.
"Silahkan kau mengenangnya." Lanjut sang nenek. Diras mengerti maksudnya. Yaitu dia punya wewenang bebas untuk keluar masuk dan menjelajahi ruangan yang biasa kakeknya gunakan.
"Oke nenek akan keluar sebentar." Ujar neneknya dengan mengusap lembut kepala Diras
Dia pertama kali tertarik dengan rak yang berisi banyak rubik diatasnya, banyak sekali sampai dia takjub karna semua rubik itu sudah tersusun rapi, dan bertumpuk tumpuk majalah yang kelihatan sudah usang.
"Ya ampun, kakek tak pernah baca majalah fashion kah?majalah seperti ini sih sudah tidak ada sekarang." Dia bergumam dengan dirinya sendiri. Lalu berjalan lagi kesudut ruangan yang satunya. Disana ada komputer yang bentuknya tak pernah ia lihat lagi sekarang.
"Ini pasti komputer itu. Komputer pertama kakek." Ujarnya dan dia tersenyum lagi. Lalu kembali melihat lihat. Akhirnya sampai pada meja kerja sang kakek. Dia duduk disana. Agak menggoyang goyangkan badannya mengikuti kursi putar yang ikut bergerak. Lalu ia mulai membuka laci meja satu persatu. Dan kembali menutupnya begitu saja.
"Tidak ada yang menarik." Lalu dia bersandar pada kursi tadi, dan mengetuk ngetukan telunjuk ke bawah meja kerja kakeknya. Dia biasa melakukan itu ketika bosan. Dan seketika jarinya berhenti. Dia coba ketuk lagi, dan berhentu lagi. Tadi terdengar suara yang berbeda dari satu sisi sudut meja tersebut. dengan tersigap dia bangkit, dan langsung turun kebawah meja untuk melihat. Itu seperti triplek yang menutupi suatu ruangan kecil. Dia menggeser triplek tersebut dan tiba tiba buku tebal hitam jatuh menimpa kepalanya.
"Aduh kakek,jangan marah dong. Aku lihat lihat sedikit ya." Katanya dengan meraih buku tadi seraya mengusap kepalanya.
"Wah bukunya Tebal sekali." Dia duduk bersandar
"Ini buku apa ya." Lanjutnya dan dia mulai membuka halaman pertama. Lalu tak lama dia terbenam dalam kursi dan mulai membaca halaman pertama buku itu, sambil bergumam.
"Aku baru tau kakek punya buku harian."
***
